Republik Sekong di China Populasi 16 Juta
Tanggal: Monday, 06 February 2012
Topik: Narkoba


INILAH.COM, 04 Februari 2012

Beijing - Kasihanilah para wanita China yang dikawin kaum homo. Menurut peneliti terkemuka di China, Jumlah sekong China daratan yang menikahi wanita berjumlah 16 juta orang, atau empat kali lipat populasi Singapura.

Profesor Zhang Bei-Chuan dari Universitas Qing Dao, yang merupakan professor peniliti utama penyebaran AIDS dan HIV, mengatakan 90 persen sekong China daratan terpaksa mengawini wanita demi menjaga tradisi.

Tapi perkawinan itu memang karena terpaksa, tulis China Daily Kamis (2/2) kemarin. “Tapi para isteri dari pria sekong ini berjuang menghadapi masalah ini dan ini harus diperhatikan,” katanya pada hari Rabu (2/2) kemarin.

Xiao Yao, perempuan berusia 29 tahun yang bekerja sebagai redaktur sebuah majalah di Xi’an, provinsi Shaanxi, menceraikan suaminya pada 2008. “Yang saya tahu, kebanyakan wanita yang dikawin sekong diam-diam sangat menderita karena tidak bisa mencintai isterinya. Seperti saya ini, ya merasa terus tertekan dan dilecehkan suami saya dulu,” katanya bercerita.

Xiao sekarang memprakarsai sebuah situs web yang diberinya judul “Rumah Bagi Para Isteri Sekong”. Sudah ada 1.200 orang yang terdaftar. Xao mendukung mereka dan memberikan nasihat gratis.

“Situs web ini membuat mereka merasa tidak lagi sendirian dan merasa diberdayakan karena merasa medapat pilihan situs web yang tepat,” katanya.

Profesor Zhang mengatakan pada saat suara kaum wanita apes ini didengar, maka kesadaran publik mulai terasa. Sementara para sekong tentu berfikir sebaliknnya. Rempong, memang.

Xiao Dong, seorang homo berumur 36 tahun yang mengepalai organisasi sipil yang memerangi AIDS/HIV mengritik Profesor Zhang. Katanya: “Perkiraan Zhang itu nggak penting dan saya rasa risetnya nggak berguna.”

Sekong kawin atau tak kawin sebenarnya masih sulit dilacak, karena itu sulit memproyeksikan populasi sekong yang kawin dengan kalkulasi sederhana, kata Xiao

"Malah kalau makin diekspose bisa menyebabkan publik salah memahami atau malah menimbuklkan diskriminasi sosial terhadap pria gay,” katanya lagi.

Tapi menurut pria asal Beijing yang bernama Meng Lin, ia percaya perkiraan Profeseor Zhang benar adanya. “Saya sendiri kawin dengan wanita selama bertahun-tahun. Tapi kami akhirnya bubar, karena saya mengidap HIV positif,” gay berumur 50 tahun ini.

Ia terus terang bilang kepada isterinya, bahwa dirinya sekong, “Sekong dan isteri sekong keduanya adalah korban dari diskriminasi sosial dan stigma. Karena itu, kita tidak boleh menyalahkan salah satu pihak,” ujarnya.

Wang Yu, bukan nama sebenarnya, berumur 27 tahun, mengaku tidak mau mengawini wanita, tapi suatu saat pasti akan mengawini wanita demi perasaan orang tuanya.

Wang lulusan Fakultas Sastera China tak pernah bilang terus terang kepada orang tuanya yang tinggal di dusun. “Mungkin saja aku kawin dengan wanita lesbong (lesbian) supaya kita bisa turus menjalankan apa yang kita maui,” katanya. Lagipula ia dapat mengakses perjodohan antarsekong lewat mak comblang internet.

Sumber: http://web.inilah.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=5933