Pelabuhan Priok Cegah Masuknya Penyakit Menular
Tanggal: Monday, 06 February 2012
Topik: Narkoba


Suara Karya, 06 Februari 2012

JAKARTA: Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kelas I Tanjung Priok menyatakan selalu siaga untuk penanggulangan flu burung dan flu babi dalam pemeriksaan awak kapal maupun muatan di pelabuhan tersebut."Kami selalu memantau kapal-kapal yang dinyatakan laman atau website Badan Kesehatan Dunia (WHO) sebagai pandemi atas penyakit tertentu.

Karena saat ini flu burung dan flu babi masih dinyatakan Kejadian Luar Biasa, kami terus waspada terhadap penyakit tersebut," kata Kepala KKP Tanjung Priok dr Azimal MKes kepada wartawan, di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (6/2).

Ditambahkan, pemeriksaan terhadap kapal-kapal dari negara asal wabah dilakukan lebih detil. Namun pemeriksaan dilakukan terhadap orang, bukan barang atau produk yang ada dalam kapal tersebut. Jika ada awak kapal yang memiliki gejala serupa dengan flu burung atau flu babi, KKP akan langsung merujuk awak kapal itu ke rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut. "Waktu flu burung mewabah di dunia dan Indonesia, kita pernah mengirimkan 13 suspek ke RSPI Sulianti Saroso Jakarta, meskipun kemudian dinyatakan negatif," ujar Azimal memberi contoh.

Selain flu burung, lanjut Azimal, KKP juga melakukan pemantauan bagi sekitar 14 penyakit menular lainnya antara lain yellow fever (demam kuning), kolera, pes, ebola, SARS, anthrax, malaria dan AIDS. "Kami menggunakan rapid test (tes cepat) untuk memeriksa awak kapal, karena kami juga tidak boleh menghambat jalannya perdagangan barang," ujarnya.

KKP juga bekerja sama erat dengan pihak lain seperti Kementerian Pertanian untuk melakukan karantina hewan dan tumbuhan jika diduga membawa virus penyakit yang sedang mewabah di negara asalnya. "Bahkan waktu gempa di Jepang beberapa waktu lalu, kami melakukan pemeriksaan tingkat radiasi bagi penumpang maupun barang," katanya.Jika ada kapal yang awaknya menderita penyakit menular, Kantor Syahbandar Pelabuhan akan melarang kapal itu untuk bersandar di pelabuhan.

Seperti dikatakan Zulfahmi Syahwal, Karantina (KKP) harus memberikan 'clearance' (surat izin) dahulu, termasuk pihak imigrasi, bea cukai dan Pelindo yang menyediakan fasilitas untuk bongkar muat."Pelabuhan Tanjung Priok merupakan pelabuhan peti kemas terbesar di Indonesia dengan sekitar 20 ribu kapal berlabuh tiap tahunnya," kata Zulfahmi seraya menambahkan pertumbuhan peti kemas di pelabuhan Tanjung Priok saat ini mencapai 24 persen per bulan.

Selain penyakit, Zulfami menambahkan, hal lain yang harus diperhatikan yakni beberapa limbah yang muncul di pelabuhan. Di antaranya limbah minyak kapal, sampah dari kapal, dan limbah dari sungai. (Tri Wahyuni)

Sumber: http://www.suarakarya-online.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=5938