Pasien Berharap Mesin Cuci Darah Ditambah
Tanggal: Wednesday, 08 February 2012
Topik: Narkoba


KOMPAS.com, 06 Februari 2012

JAKARTA — Setelah terbakarnya unit hemodialisa (HD) atau cuci darah di RSCM, pasien cuci darah terhambat untuk mendapat layanan, Senin (6/2/2012). Mereka harus menunggu tempat perawatan baru.

"Harusnya pukul 13.30 WIB saya sudah 'ditusuk' (mendapat layanan hemodialisa). Tapi sampai sekarang masih menunggu ke mana saya akan ditransfer," kata Sugio (43), yang telah satu tahun ini cuci darah di RSCM.

Sugio yang datang sendiri menunjukkan pergelangan kakinya yang telah membengkak. Ia mengatakan bahwa hari ini harus cuci darah, karena selain sudah jadwalnya sejak cuci darah terakhir tiga hari yang lalu. Bila terlambat, akan membuat kondisi kesehatannya memburuk.

Menurut Sugio, pasien cuci darah yang terlambat cuci darah. Salah satu gangguan awalnya adalah bengkak-bengkak di bagian tubuh tertentu. Selain itu tubuh lemas, hingga untuk berjalan sulit atau membutuhkan bantuan dengan kursi roda.

Sugio tidak sendiri. Ada sekitar 30 pasien cuci darah yang menunggu di ruang tunggu gang samping laboratorium gedung CMU 1. Mereka adalah para pasien yang telah dijadwalkan mendapat pelayanan cuci darah pada pukul 14.00 WIB.

"Saya mendengar kabar RSCM terbakar, tapi saya pikir teman-teman (yang memberitahu) bercanda," kata Sugio, sambil menunggu terduduk di lantai gang. Layanan cuci darah di RSCM pada pagi hari, jadwal pertama dilaksanakan pada pukul 8.00 WIB. Setelah itu jadwal berikutnya adalah pukul 14.00 WIB.

"Di sini (RSCM) yang paling banyak mesinnya, ada lebih dari 30 mesin," kata Firmansyah yang mengantar Donna (33), istrinya. Donna seharusnya mendapat layanan cuci darah di RSCM siang ini.

Pasien cuci darah terjadwal mendapat layanan hemodialisa di satu rumah sakit, dan tidak berpindah-pindah. Bahkan mesinnya pun tidak berganti-ganti.

"Istri saya selalu cuci darah di mesin nomor dua," kata Firmansyah.

Hal ini karena mereka yang hendak cuci darah harus menjalani serangkaian tes, apakah mengidap suatu penyakit tertentu yang dapat memengaruhi penguna mesin lainnya.

"Harus di cek apakah ada hepatitis, atau bahkan AIDS. Tidak bisa gonta-ganti mesin semudah itu," kata Firmansyah.

Penentuan di mana pasien bisa cuci darah di rumah sakit yang mana, ditentukan dari posisi lokasi tempat tinggal pasien. Karena itu seorang pasien akan bertahun-tahun cuci darah di rumah sakit yang sama. Setiap rumah sakit pun sudah mempunyai jadwal dengan pasiennya masing-masing.

"Istri saya sudah dua tahun di RSCM. Pasien yang lain ada yang sudah bertahun-tahun di sini. Kami jadi saling kenal dan menjadi semacam keluarga baru," kata Firmansyah.

Atas kejadian kebakaran ini, Firmansyah dan sejumlah pasien yang sedang menunggu transfusi, berharap jumlah mesin cuci darah di setiap rumah sakit dapat ditambah.

"Mesin di RSCM ini yang paling banyak saja selalu penuh. Kenyataannya jumlah pasien cuci darah terus bertambah," kata Firmansyah.

Sumber: http://megapolitan.kompas.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=5943