Penyebaran HIV/AIDS di Bali Dari PSK, Kini Ancam Ibu Rumah Tangga
Tanggal: Wednesday, 08 February 2012
Topik: HIV/AIDS


Bali Post, 08 Februari 2012

HUBUNGAN seksual menjadi faktor risiko tertinggi penularan HIV/AIDS di Bali. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran karena HIV bukanlah penyakit yang langsung menunjukkan gejala ketika virus mulai memasuki tubuh, tetapi akan muncul paling tidak lima tahun setelah virus masuk ke dalam tubuh.

Jika tidak ditangani dengan tepat, penularan kasus HIV lewat hubungan heteroseksual bisa melonjak. "Penderita yang tidak sadar dirinya menderita HIV akan menularkannya pada yang lain. Lebih berbahaya jika penderita memiliki perilaku seks bebas dan suka berganti-ganti pasangan," ujar Kasi Yanmed Rawat Jalan RS Sanglah, dr. Ida Ayu Miswarihati saat ditemui, Selasa (7/2) kemarin.

Berdasarkan data di tahun 2011, kunjungan ke VCT RS Sanglah mencapai 1.284 orang dengan jumlah yang positif 370 orang atau sekitar 30 persen. Jika dibandingkan dengan tahun 2010, jumlah kunjungan di tahun 2011 menurun, di mana tahun 2010 kunjungan ke VCT RS Sanglah mencapai 1.373 orang dengan 361 di antaranya positif. "Tetapi jumlah yang positif lebih banyak tahun 2011 dibandingkan tahun 2010," ujar Ida Ayu Miswarihati.

Pelaku hubungan heteroseksual yang terjangkit bukan hanya dari kalangan PSK dan pelanggan PSK, tetapi juga merambah ke ibu rumah tangga dan anak-anak yang terkena imbas dari perilaku seks bebas dan berganti-ganti pasangan. Untuk tahun 2011 saja didapati 25 anak yang positif terkena HIV dari ibunya.

Fenomena gunung es HIV/AIDS memang harus diwaspadai. Berdasarkan estimasi, penderita HIV/AIDS di Bali diprediksi mencapai 7.000 orang lebih, di mana hingga akhir tahun 2011 baru 5.222 penderita yang ditemukan.

Ketua Yayasan Kerti Praja Prof. dr. D.N. Wirawan, MPH., beberapa waktu lalu memaparkan, lingkaran penularan HIV lewat faktor hubungan seksual tidak hanya antara PSK dan pelanggan PSK, tetapi sudah masuk ke dalam rumah tangga dan mengenai istri serta bayi yang dikandungnya. Pelanggan PSK juga tidak hanya menularkan HIV pada istrinya, juga pada PSK lainnya.

Jumlah PSK di Bali diprediksi mencapai 8.000 orang, terdiri atas 2.000 PSK langsung dan 6.000 PSK tidak langsung. Dalam satu tahun dari total jumlah PSK, pelanggannya diprediksi mencapai 80.000 orang yang berbeda. Bisa dibayangkan jika 80.000 pelanggan PSK tersebut tertular HIV dan kemudian melakukan hubungan seksual pada orang yang berbeda atau pasangannya, jumlah penderita HIV akan meningkat tajam.

Kepala Dinas Kesehatan Bali dr. Nyoman Sutedja memaparkan, HIV/AIDS tidak hanya mengancam orang dewasa tetapi juga remaja. Ini bisa dilihat dari penderita HIV/AIDS berdasarkan kategori usia, di mana penderita paling banyak berusia sekitar 20-29 tahun. Ini berarti sudah tertular virus saat umur 15-25 tahun.

Untuk bisa menekan angka penularan HIV/AIDS lewat hubungan heteroseksual, lanjut Sutedja, telah dibentuk Tim Three Part Treat antara Dinkes, Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) dan PKBI, di mana tugas dari Dinkes adalah memberikan pelayanan kesehatan bagi penderita HIV/AIDS. Sementara untuk penemuan kasus, pengayoman serta sosialisasi mengenai HIV/AIDS dilakukan oleh KPA dan PKBI. "Kasus HIV/AIDS tidak hanya merupakan tanggung jawab pemerintah tetapi tanggung jawab bersama. Keluarga menjadi kunci penting ketahanan iman agar tidak sampai melakukan tindakan-tindakan yang berpotensi terkena HIV/AIDS seperti seks bebas atau menggunakan narkoba," papar Sutedja.

Untuk menekan kasus HIV/AIDS lewat hubungan seksual, beberapa langkah diambil, seperti sosialisasi pemakaian kondom, sosialisasi mengenai HIV/AIDS langsung pada PSK dan anak sekolah. "Di sini juga diharapkan peran serta desa pakraman untuk bisa mengontrol perkembangan kafe remang-remang di desanya," ujarnya.

Pengontrolan kafe dilakukan agar tidak dijadikan tempat transaksi seks, baik oleh PSK maupun pelanggannya. Para pelaku hubungan seks bebas dan berganti-ganti pasangan pun diharapkan kewaspadaannya serta kesadarannya.

Ida Ayu Miswarihati menambahkan, jika merasakan diri memiliki faktor risiko tinggi tertular HIV, bisa melakukan pemeriksaan sehingga dapat diketahui secara dini tertular HIV atau tidak. Semakin dini dideteksi akan semakin dini mendapatkan perawatan dan tentunya lebih berhati-hati sehingga tidak menularkan virusnya kepada orang lain. (kmb24)

Sumber: http://www.balipost.co.id




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=5950