Penanggulangan HIV/AIDS Belum Signifikan
Tanggal: Wednesday, 08 February 2012
Topik: HIV/AIDS


Berita Sore, 08 Februari 2012

MEDAN: Plt Gubsu, Gatot Pudjonugroho melalui Kepala Biro Binsos Pemprovsu, Sakhira Zandi, mengatakan, program penanggulangan HIV/AIDS yang telah dilakukan belum menunjukkan dampak yang signifikan.

“Hal itu disebabkan berkaitan dengan ketersediaan anggaran, eksistensi KPA Kabupaten/Kota, keterbatasan lembaga/kelompok peduli HIV/AIDS dan juga disebabkan besaran permasalahan HIV/AIDS, serta masih sedikitnya jangkauan program kepada kelompok beresiko tinggi,” ucap Sakhira, pada pertemuan pemaparan program SUM kepada Pempropsu dan pemangku kepentingan program AIDS di Sumut, Selasa (07/02), di Medan.

Disamping itu, permasalahan HIV/AIDS tidak hanya menyangkut bidang kesehatan, tetapi berkaitan dengan aspek sosial, hukum, agama, pendidikan dan sebagainya. Dengan demikian dibutuhkan anggaran yang cukup, keterlibatan semua pihak baik jajaran Pempropsu, Kabupaten/Kota maupun masyarakat serta program penanggulangan HIV/AIDS yang strategis, efektif, terintegrasi pada kelopok resiko tinggi dan berkelanjutan.

Dijelaskannya, tantangan penanggulang HIV/AIDS di Sumut juga berkaitan dengan status Epidemiologi terkonsentrasi. Dimana lebih 5 persen kasusnya berada di sub populasi resiko tinggi tertentu, 1 persen pada populasi umum. Data dari Dinkes Sumut hingga Desember 2011 menyebutkan 3255 kasus HIV/AIDS, yakni HIV 1252 dan AIDS 2003. Faktor resiko penularannya melalui hubungan seks baik hetero dan homoseksual berjumlah 2040 kasus. “Faktor resiko kedua melalui penggunaan narkoba suntik 940 kasus. Semua kasus kumulatif ini dilaporkan oleh 26 kab/kota di Sumut,” ungkap Sakhira Zandi.

Pemprovsu, menyadari akan keterbatasannya untuk menghadapi kondisi tersebut sehingga sangat diperlukan dukungan dari pihak luar. Dalam hal ini, dukungan dan kerjasama pemerintah Amerika.Serikat untuk penanggulangan HIV/AIDS melalui program SUM. Ini untuk meningkatkan cakupan intervensi yang efektip, komprehensif, terintegrasi dan berkelanjutan.

Sementara Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Sumut Achmad Ramadhan menyampaikan selama 20 tahun ini sudah banyak biaya, upaya pencegahan dan penanggulagan HIV/AIDS. Namun demikian, infeksi HIV bertambah dengan cepat. “Sudah ada tanda-tada bahwa HIV/AIDS telah masuk dalam keluarga,” katanya.

Disebutkannya, populasi kunci di Sumut berdasarkan estimasi 2009 yaitu penasun (pengguna narkoba suntk) 5.705, pasangan penasun 1.552. WPS langsung 5.590, WPS tak langsung 6.942, waria 1.622, LSL 20.156. Pasangan WPS 181.716, pasangan tetap pelanggan 105.205 dan Orang Dengan HIV/ADS (ODHA) sebanyak 7.059 orang.

Menurut Ramadhan, kasus HIV/AIDS ini disebabkan masih kurangnya pengetahuan masyarakat tentang HIV/AIDS, termasuk penularan dan pencegahannya. Masih adanya stigma dan diskriminasi, belum semua pengambil dan penentu kebijakan sensitif dengan permasalahan HIV/AIDS. Belum optimalnya secara optimal sistem kordinasi lintas sektor. “Juga belum adanya Perda yang mengatur program penanggulangan HIV/AIDS di Sumut,” sebutnya.

Sedangkan advisor kinerja program Scalling Up the HIV Respons among Most-at-risk Population (SUM) Yen Rusalam menjelaskan program SUM merupakan bentuk dukungan dan kerjasama pemerintah Indonesia dan Amerika untuk penanggulang HIV. “Ini telah berjalan mulai tahun 2010 sampai 2015. Kerjasamanya sudah dimulai sejak 1993 sampai 2000 dengan HIV/AIDS Prevention Project (HAPP) sebagai elemen terbesar dari dukungan,” katanya.

Lalu, sambungnya, dilanjutkan dengan program ASA I tahun 2000-2005 dan ASA II tahun 2005-2010, yang dikelola Family Helath International (FHI) dan Health Policy Initiative (HPI) tahun 2006-2009 yang dikelola Futures Group. (don)

Sumber: http://beritasore.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=5951