Mengintensifkan Pendidikan Seks
Tanggal: Monday, 13 February 2012
Topik: Narkoba


Kedaulatan Rakyat, 11 Februari 2012

BELAKANGAN ini berita anak-anak yang menjadi korban kejahatan seks (pencabulan, perkosaan, pelecehan maupun seks bebas) membuat hati miris. Apalagi ternyata kebanyakan pelakunya adalah orang-orang terdekat yang di kenal baik oleh korban seperti keluarga (ayah, kakek, paman, kakak, teman, pacar, tetangga atau orang yang dihormati).

Secara sederhana kejahatan seks pada anak di bagi dua. Pertama, anak yang menjadi korban dan kedua, anak yang menjadi pelaku. Mengapa peristiwa ini banyak terjadi? Apakah fenomena tersebut merupakan cerminan dari masyarakat yang sakit? Faktanya sangat mencengangkan, karena korban-korbannya bergeser ke usia SD bahkan TK, baik lakiñlaki maupun perempuan. Kemajuan teknologi yang memudahkan mengakses halñhal yang berbau pornografi, gaya hidup bebas yang banyak dianut atau kurang ketatnya norma agama dan sosial yang berlaku adalah sedikit faktor pendukung dari kriminalitas yang marak terjadi.

Mungkin sudah saatnya untuk mengintensifkan pendidikan seks pada anak walaupun banyak orangtua yang merasa, hal itu tabu untuk dibicarakan dan menganggap anak akan tahu dengan sendirinya pada saatnya nanti. Hal yang perlu dipahami, pendidikan seks yang dimaksud di sini bukan untuk mendorong mereka melakukan hubungan seks, tapi merupakan pengetahuan dasar yang disesuaikan dengan usia mereka.

Contoh sederhana bagi anakñanak, kenalkan pada mereka bagianñbagian (vital) tubuh mereka yang tidak boleh sembarangan diperlihatkan atau di sentuh oleh orang lain dan jika ada orang yang menyentuh dengan sengaja ajarkan pada anak untuk melakukan perlawanan dengan cara berteriak dengan keras dan berlari menjauh dari pelaku dan segera melaporkannya kepada orangtua.

Karena seorang anak adalah mangsa yang paling rentan, mereka tidak tahu jika yang dilakukan pelaku adalah tindakan kejahatan dengan di imingñiming makanan atau uang anak-anak akan dengan mudah menjadi korban. Sedangkan, untuk anak usia remaja tentu pendidikan yang diberikan lebih kompleks. Mereka perlu diberi tahu peristiwa yang terjadi pada masa akil balig, seperti menstruasi atau mimpi basah. Jelaskan juga akan ada perubahan yang terjadi pada tubuh mereka dan mulai timbul pula rasa ketertarikan pada lawan jenis dan semua proses yang terjadi adalah normal.

Kadang pada remaja timbul keingintahuan yang besar tentang seks jangan sampai mereka mencari tahu dengan jalan yang salah. Satu yang perlu di tekankan, hubungan seks hanya dapat dilakukan oleh pasangan yang sudah menikah dan melakukan sebelum saatnya akan membawa konsekuensi yang berat seperti perasaan bersalah dan berdosa, kehamilan yang tidak diinginkan, aborsi, cemooh apabila orangñorang mengetahuinya, tertular penyakit kelamin, HIV/AIDS atau dikeluarkan dari sekolah.

Di era global ini arus informasi begitu cepat tersampaikan dan menutup diri darinya juga bukan tindakan yang bijak. Oleh karena itu diperlukan penyeimbang yang didapat dari nilai agama, moral dan norma. q - c. (Nurul Ibrahim, Alumnus D3 ABAYO).

Sumber: http://www.kr.co.id




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=5968