Tahun ini, Ditemukan Empat Penderita HIV/AIDS di Salatiga
Tanggal: Wednesday, 15 February 2012
Topik: HIV/AIDS


Suaramerdeka.com, 14 Februari 2012

SALATIGA - Sepanjang Januari dan Februari tahun ini, ditemukan empat penderita HIV/AIDS di Salatiga. Dengan temuan itu berarti total penderita di Salatiga saat ini mencapai 128 orang. Hal itu disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Kota (DKK) Salatiga dokter Sovie Harjanti MKes, Selasa (14/2).

Menurutnya, berdasarkan data di DKK, tercatat hingga saat ini, pengidap HIV AIDS di Kota Salatiga sudah mencapai 128 orang. Adapun presentasenya yakni sebanyak 54 persen berasal dari heteroseksual atau seks bebas dan 46 persen dari penggunaan narkoba. Sovie enggan menyebut identitas para penderita karena menyangkut privasi orang.

“Pada 2011, tercatat 124 orang. Tahun ini bertambah empat orang. Totalnya jadi 128 orang. Penularan di antaranya memalui seks bebas karena banyak yang tidak menggunakan kondom sehingga sulit terhindar,” jelasnya.

Menurut Sovie, jumlah penderita di Salatiga kemungkinan bisa bertambah. Sebab dimungkinkan banyak penderita yang enggan melaporkan sakitnya itu dengan alasan berbgai hal termasuk malu. Sovie juga mengingatkan kepada masyarakat untuk berhati-hati. Pasalnya ibu rumah tangga baik-baik bisa kena virus mematikan ini jika suaminya suka "jajan" di luar.

"Berdasarkan hasil studi banding di Bandung beberapa waktu lalu, para pekerja seks yang kena virus HIV/AIDS berjumlah 30 orang. Tetapi untuk ibu rumah tangga ternyata penderitanya mencapai 250 orang. Ini yang perlu dicermati masyarakat bahwa penularan HIV/AIDS sudah memasyarakat," katanya.

Dijelaskan upaya Pemkot melalui Dinas Kesehatan Kota Salatiga untuk mencegah penularan virus ini sudah dilakukan dengan berbaga cara. Di antaranya membangun klinik voluntary consulting test (VCT) di di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Salatiga, Rumah Sakit Paru dr Ario Wirawan, Puskesmas Sidorejo Lor, Rumah Sakit Dinas Kesehatan Tentara (DKT) dr Asmir, dan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). c Klinik tersebut dibangun sebagai tempat penyuplai obat Anti Retro Viral (ARV) dari Pemerintah Pusat untuk para penderita yang memiliki tingkat kekebalan tubuh rendah. Di sisi lain Sovie berharap Komisi Penanganan AIDS (KPA) yang saat ini di bawah naungan DKK seharusnya bisa dipindahkan ke Kesra.

Alasannya penyakit AIDS ini berkaitan dengan perilaku masyarakat dan masalah sosial yang tentunya menjadi kewenangan Kesra, sedangkan tugas DKK adalah mengobati dan mencegah penularan virus itu.

Sumber: http://suaramerdeka.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=5993