Penderita hiv/aids di Malang meningkat drastis
Tanggal: Wednesday, 15 February 2012
Topik: HIV/AIDS


ANTARA News, 15 Februari 2012

Malang - Jumlah penderita Human Immunodeficiency Virus/Acquires Immune Deficiency Syndrome (HIV/AIDS) di Kota Malang, Jawa Timur, tahun 2011 meningkat drastis, jika dibandingkan tahun sebelumnya.

Kepala Bidang pemberantasan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang, dr Nusindrati, Rabu, mengemukakan, selama kurun waktu 2011 jumlah penderita HIV/AIDS sebanyak 2.021 orang dan tahun 2010 sebanyak 1.636 orang.

"Selama satu tahun ada peningkatan hingga 365 orang dan menjadi ancaman yang patut kita waspadai, apalagi sekarang penyebabnya mulai ada pergeseran. Kalau sebelumnya karena penggunaan jarum suntik obat-obatan terlarang, sekarang seks bebas sudah mulai menggejala," tegasnya.

Dari data tesrebut, katanya, penderita paling banyak adalah kaum laki-laki, yakni mencapai 65,71 persen dan perempuan 34,29 persen. Sedangkan dari usia penderita, rata-rata 25-49 tahun (67,79 persen) dan selebihnya dari berbagai usia.

Ia mengakui, penderita HIV/AIDS yang terdeteksi tersebut tidak semua berasal dari Kota Malang saja, sebab tidak sedikit dari daerah sekitar kota itu juga banyak yang berobat di rumah sakit, puskesmas atau VCT Kota Malang.

"Untuk mendata dan mendeteksi penderita ini juga bukan hal yang mudah, sebab sebagian besar pasien tidak mau diketahui identitasnya secara rinci karena takut privasinya akan terganggu," katanya,

Sementara itu spesialis penyakit dalam sub spesialis penyakit tropik dan infeksi RSSA Malang, dr Gatoet Ismanoe mengatakan, dari sekian jumlah pasien HIV/AIDS yang ditangani RSSA, tidak sedikit kaum perempuan baik-baik yang terinfeksi penyakit tersebut karena tertular dari suaminya.

Menurut dia, penyebab orang yang terinfeksi HIV/AIDS saat ini sudah bergeser. Jika sebelumnya penyebab utamanya adalah jarum suntik, sekarang adalah perilaku heteroseksual (gubungan seks bebas).

Hanya saja, lanjutnya, angka kematian akibat HIV/AIDS beberapa tahun terakhir ini menurun. Jika sebelumnya bisa mencapai 60-70 persen dari jumlah penderita, sekarang tinggal 10-30 persen.

"Kondisi ini karena adanya obat khusus berupa anti-retovial (ARV) yang diberikan secara gratis kepada pasien. Namun, khabarnya bantuan ARV gratis dari luar negeri ini akan dikurangi jumlahnya, sehingga kami akan mencari solusi, agar penderita tetap bisa mengkonsumsi ARV," tegasnya.

Sumber: http://www.antaranews.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=5994