Darah Tali Pusat, Sejuta Manfaat!
Tanggal: Thursday, 16 February 2012
Topik: Narkoba


Okezone.com, 15 Februari 2012

USIA Reika belum genap 5 tahun. Tapi dia musti menghadapi penyakitnya, leukimia! Bermacam pengobatan hingga kemoterapi dijalankannya. Tapi Tuhan berkehendak lain, tubuhnya menyerah. Bocah itu pergi untuk selamanya.

Ketika hamil anak kedua, sang bunda tak ingin kejadian menimpa Reika terulang. Begitu Viko lahir, darah tali pusat bayi tersebut diambil dan disimpan sebagai investasi kesehatan untuknya kelak.

Sel Punca

Darah dalam tali pusat bayi baru lahir bukanlah sembarang darah. Sejak tahun 1970-an, penelitian medis menemukan bahwa darah dalam tali pusat kaya dengan sel punca (stem cell).

Apa itu sel punca? Sel punca adalah induk dari semua sel di dalam tubuh. Sel ini belum berdiferensiasi dan mempunyai potensi sangat tinggi untuk berkembang menjadi banyak jenis sel yang berbeda di dalam tubuh. Misalnya, dapat dipicu tumbuh menjadi sel-sel pembentuk darah, sel otot jantung, sel saraf, sistem kekebalan tubuh, jaringan kulit, tulang, organ endokrin dan sebagainya.

Sumber Sel Punca

Ada dua jenis sel punca. Pertama, sel punca embrionik (embryonic stem cell) yang diambil dari inner cell mass dari suatu blastocyst (embrio yang terdiri dari 50 - 150 sel, kira-kira hari ke-5 pasca pembuahan), yang biasanya didapatkan dari sisa embrio yang tidak dipakai pada IVF (in vitro fertilization).

“Kedua, sel punca dewasa (adult stem cell) yaitu sekumpulan sel yang berada dalam jaringan, darah, sumsum tulang, otak, hati, pankreas, misalnya,” urai DR Dr Rini Purnamasari SpA(K) dari RS Gandaria Kebayoran Baru.

Darah Tali Pusat

Nah, salah satu sumber sel punca adalah darah tali pusat. “Terdapat sejumlah darah sebanyak 40-120 mL yang berasal dari pembuluh darah balik (vena). Kemudian, darah tali pusat itu diisolasi dan diproses lebih lanjut sehingga menghasilkan sel punca jenis adult,” paparnya.

Syarat Pengambilan

Dikatakan dr Rini, terdapat beberapa prasyarat yang musti dipenuhi ibu saat pengambilan sel punca darah tali pusat, antara lain kehamilan cukup bulan, tidak memiliki penyakit-penyakit tertentu, juga bukan merupakan persalinan sulit.

“Ada pula bank darah yang tidak memperbolehkan kliennya memiliki HIV-AIDS,” ujar dr Prima Progestian SpOG dari Brawijaya Hospital Woman & Children.

Cara Pengambilan

Untuk mendapatkan sel darah tali pusat ini, dr Rini menyebutkan ada dua cara:

In Utero. Pengambilan darah tali pusat dengan ari-ari (plasenta) masih berada dalam kandungan. Artinya, setelah bayi lahir, tali pusatnya dipotong. Lalu, tali pusat yang masih menempel di plasenta dijulurkan keluar rahim dan darahnya dialirkan melalui jarum steril. Setelah proses selesai, plasenta dikeluarkan.

Ex. Utero. Dilakukan pada plasenta yang sudah dikeluarkan dari rahim. Maksudnya, setelah bayi lahir, tali pusat dijepit dan dipotong. Sesaat kemudian, plasenta dikeluarkan dari kandungan dan ditaruh di meja khusus. Lalu, darah tali pusat dialirkan ke kantong steril melalui jarum steril. Umumnya proses pengumpulan ini berlangsung singkat. Dilanjutkan dr Prima, tali pusat yang hendak diambil darahnya dibersihkan dengan antiseptik. Lalu, tali pusat itu ditusukkan jarum steril yang mengalirkan darah ke dalam kantong darah.

“Aman, tidak sakit, prosedurnya cepat dan tidak memiliki risiko bagi ibu dan bayinya. Pengambilan darah biasanya sebanyak 2 kantong darah (blood bag),” tambah dr Nani Permadhi MBA-HCA, Direktur Medis StemCord Indonesia.

Penyimpanan

Setelah darah tali pusat terkumpul, “Darah berjumlah berkisar 40-120 mL ini dibawa ke laboratorium dan dilakukan proses isolasi sehingga menghasilkan sel punca sejumlah 2 mL saja. Hasil inilah yang selanjutnya disimpan dalam bank darah tali pusat,” sambung dr Rini.

dr Nani menambahkan bahwa StemCord mengirimkan blood bag itu secara aman – dikemas dalam suhu kamar - menuju laboratorium di Singapura, yang dikirim kurang dari 36 jam. Setelah itu, diproses dalam kondisi yang ketat. Kemudian, dibekukan dalam nitrogen cair dengan suhu – 180 derajat Celcius. Ternyata, sel punca darah tali pusat selama disimpan dalam suhu nitrogen cair dapat disimpan dalam jangka waktu tidak terbatas. Menurut dr. Rini, sel punca darah tali pusat ini dapat disimpan hingga 17 tahun.

Pemakaian

Bagaimana cara menggunakannya? “Jika sel punca darah tali pusat ini diperlukan, maka dilakukan proses pencairan (thawing). Sebelum melakukan thawing, diawali proses permintaan dari dokter yang akan melakukan transplantasi. Dicocokkan terlebih dulu antara donor dan penerima sel punca, juga diadakan tes terhadap kandungan sel punca yang tersimpan, dan sebagainya,” terang dr Rini.

Manfaat

Hingga kini sel punca darah telah dimanfaatkan memulihkan penyakit-penyakit darah seperti hematologi-onkologi (darah-kanker), kanker sel darah putih (leukimia), anemia aplastik, contohnya thalassemia,” sebut dr Rini.

Ditambahkan dr Nani, jenis-jenis penyakit yang bisa diatasi dengan sel punca tali pusat ini, antara lain leukimia akut, leukimia kronik, sindroma mielodisplastik, Stem Cell Disorders, Congenital (Inherited) Immune System Disorders, Other Inherited Disorders, Inherited Platelet Abnormalities, Plasma Cell Disorders, dan penyakit autoimun.

“Bahkan dalam masa mendatang – sekarang masih dalam tahap penelitian - sel punca ini dapat diaplikasikan dalam mengatasi gangguan-gangguan lainnya seperti Alzheimer, Cerebral Palsi, parkinson, stroke dan penyakit autoimun seperti lupus,” tutup dr Nani. (Sumber: Mom & Kiddie) (tty)

Sumber: http://health.okezone.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=6009