Pelayanan Kesehatan Odha Belum Maksimal, Sejumlah Obat IO Tak Tersedia
Tanggal: Thursday, 16 February 2012
Topik: Narkoba


Harian Analisa, 16 Februari 2012

Medan - Ketua Perhimpunan Dokter Peduli AIDS Indonesia (PDPAI) Cabang Sumatera Utara Dr dr Umar Zein DTM&H SpPD KPTI masih melihat belum sempurnanya penatalaksanaan orang dengan HIV dan AIDS (Odha) dalam pengobatan. Soalnya, kata Umar Zein, Selasa (14/2), ada beberapa obat untuk infeksi oportunistik (IO) yang diderita Odha, tidak tersedia obatnya baik di pemerintah maupun swasta.

Menurutnya, tidak sedikit Odha yang karena lemahnya kekebalan tubuh akibat terinfeksi HIV mendapatkan IO berupa penyakit toksoplasmosis. Penyakit ini bisa ditangani dengan mengonsumsi obat pirinmetamin.

"Cukup mengonsumsi obat tersebut selama dua bulan, toksoplasmosis yang dialami Odha bisa disembuhkan. Tapi sayang, obat pirimitamin tersebut tidak tersedia di pasaran. Padahal, harga obatnya murah. Paling beberapa ratus rupiah per biji," jelasnya.

Jadi, lanjutnya, jika tidak ada obat, maka dengan kondisi AIDS Odha tidak bisa diatasi. Akibatnya, Odha bisa mengalami kematian hanya karena penyakit tersebut. "Saya heran, kenapa obat antiretroviral (ARV) yang harganya mahal saja bisa disediakan untuk seumur hidup. Tapi, obat untuk mengatasi IO Odha yang harganya murah tidak tersedia," jelasnya.

Tidak hanya obat untuk penyakit toksoplasmosis, obat lainnya seperti contrimoxsazol untuk penyakit PCP (pneumositis carini pneumonia)-satu penyakit radang paru yang kerap dialami Odha, juga tidak tersedia. "Padahal, cukup obat itu digunakan seminggu, penyakit PCP itu bisa disembuhkan," tambah Umar.

Bahkan penyakit kriptokokus yang menerpa otak (jamur di otak) sebenarnya bisa diobati dengan ampotresin B. "Obatnya juga tidak tersedia di pasaran," ungkapnya.

Begitu juga untuk obat penyakit candidiasis oral. Obat penyakit ini tidak tersedia secara generik, hanya obat paten. Akibatnya, Odha yang terkena penyakit ini harus mengeluarkan biaya mahal untuk mendapatkan kesembuhan.

Menurut Umar, sebenarnya berbagai persoalan itu bisa diatasi dengan baik, sehingga penanggulangan HIV dan AIDS di tanah air bisa lebih maksimal. Caranya, pemerintah bisa menginvetarisir setiap obat yang diperlukan, kemudian obat tersebut disediakan.

"Soalnya, tidak bisa berharap dengan perusahaan swasta. Karena, obat yang diperlukan itu kemungkinan harganya murah, sehingga dari sisi bisnis tidak menguntungkan. Padahal obat itu sangat dibutuhkan. Pemerintah bisa bekerjasama dengan lembaga donor seperti Global Fund ATM," ucapnya.

Kemungkinan lain, lanjutnya, jika memang secara nasional tidak bisa diatasi, maka dengan sistem otonomi daerah sekarang, pemerintah daerah (provinsi atau kabupaten/kota) bisa menyediakan obat tersebut untuk kebutuhan lokal.

Di Jakarta, lanjut Umar, untuk memenuhi kebutuhan obat ini, salah seorang profesor yang aktif memberikan pelayanan kesehatan pada Odha, langsung mendapatkan obat yang dibutuhkan dari luar negeri. "Kalau memang difasilitasi, PDPAI Sumut siap mencoba mengadakan pendekatan dengan profesor tersebut bagaimana cara bekerjasama dengan luar negeri agar bisa mendapatkan obat yang dibutuhkan," ucap Umar Zein.(nai)

Sumber: http://www.analisadaily.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=6012