Di Manado, Tiap Bulan Bertambah 5 Penderita AIDS
Tanggal: Thursday, 16 February 2012
Topik: Narkoba


JPNN.com, 16 Februari 2012

MANADO - Warga Manado harus lebih hati-hati terhadap tingginya penyebaran virus HIV dan penyakit Aids. Berdasarkan data yang diperoleh Manado Post dari Dinas Kesehatan Kota Manado dan Komisi Pemberantasan Aids (KPA) Manado, penderita HIV/AIDS di kota Tinutuan ini dalam jangka lima bulan bertambah 25 orang.

Jika data terakhir KPA pada Septembr 2011 penderitanya hanya 350 orang, pada Februari tahun 2012 ini menurut data Dinas Kesehatan Kota Manado, berjumlah 375 orang. Artinya dalam jangka lima bulan ada 25 orang yang terjangkit penyakit mematikan itu. Atau setiap bulan, lima warga Manado terkena HIV/AIDS.

Kenaikan yang sangat drastis ini, Pemerintah Kota melalui Dinas Kesehatan dan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Manado, harus lebih gencar melakukan tindakan konkrit melawan penyakit yang belum ada obatnya tersebut.

""Angka ini terus naik dari bulan ke bulan, tanpa banyak disadari oleh orang pada umumnya,""ungkap seorang staf dari Voluntary Counselling and Testing (VCT) RS Prof Kandou.

Angka 375 ini adalah orang yang terdeteksi, tetapi prediksi yang berkembang menunjukkan fenomena HIV/AIDS ini adalah fenomena gunung es. ""Yang kelihatan adalah yang sedikit, tetapi yang banyak itu masih belum terdeteksi. Banyak orang yang tidak sadar sudah terjangkit virus HIV dan kemudian menularkan virus tersebut bagi orang lain, jika orang tersebut memiliki kecenderungan suka berganti-ganti pasangan,"" terangnya lebih lanjut.

Wali Kota Manado Dr GS Vicky Lumentut yang juga adalah Ketua KPA Kota Manado, angkat bicara mengenai hal ini. ""Jadi pemerintah kota memberikan perhatian terhadap fenomena ini. Saya memintakan agar KPA lebih aktif untuk menekan angka ini,"" terang Lumentut, saat ditemui usai acara launching Mapalus Kamtibmas di kantor Gubernur, bersama Wakapolri Nanan Soekarna.

Pemerintah Kota mem-back up dengan dana APBD terkait dukungan untuk memberikan sosialisasi mengenai bahaya HIV/AID tersebut. ""Sosialisasi dan pendekatan persuasif kita lakukan kepada anak-anak sekolah, sebagai generasi muda maupun sosialisasi di tempat-tempat hiburan,"" urai Lumentut.

Bukan hanya melibatkan beberapa elemen saja, tetapi melalui para rohaniawan agar gencar melakukan pembinaan, baik melalui bahan-bahan materi khotbah dan ceramah. ""Betapa bahaya seks bebas itu berpotensi menyebarkan virus HIV/AIDS,"" imbuh Lumentut.

Kepala Dinas Kesehatan Manado dr RJ Mottoh menerangkan, persoalan penyebaran HIV/AIDS tersebut cukup kompleks. Bukan hanya bicara mengenai penyebaran virus melalui penggunaan jarum suntik secara bersamaan dengan orang yang mengidap HIV/AIDS, tetapi penyebarannya juga berkorelasi signifikan dengan perilaku orang yang gemar jajan di luar, tanpa menggunakan pengaman/kondom. ""Bersama-sama dengan KPA kami terus lakukan sosialisasi. Termasuk juga membagikan kondom di tempat-tempat yang diduga menjadi pusat terjadinya seks bebas,"" ungkap Mottoh.

Sony Winda, salah seorang pengelola logistik KPA Manado mengakui bahwa sekali pun sudah banyak disebar kondom di ordinat-ordinat rawan, tetapi masih kurangnya kesadaran pribadi untuk menjaga diri sendiri dari kerawanan akan terjangkit virus HIV/AIDS. ""Para WPS maupun orang-orang yang suka menggunakan jasa WPS tersebut, masih kurang berminat menggunakan kondom, sekalipun dengan alasan untuk proteksi diri. Sekalipun kondom tersebut dibagikan secara gratis,"" terangnya.

Sumber: http://www.jpnn.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=6015