Dua daerah di Bali percontohan nol HIV
Tanggal: Friday, 17 February 2012
Topik: HIV/AIDS


Waspada Online, 16 Februari 2012

DENPASAR - Kabupaten Badung dan Kota Denpasar direncanakan menjadi proyek percontohan dalam mencapai program nol kasus baru HIV di Pulau Dewata.

"Ada tiga butir yang ingin dicapai untuk mencapai tujuan itu, yakni menolkan atau meniadakan infeksi baru HIV, menolkan diskriminasi bagi penderita, dan menolkan kematian akibat HIV/AIDS," kata Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Bali Made Suprapta di Denpasar, Kamis.

Ia menyampaikan rencana tersebut terkait dengan tindak lanjut hasil salah satu komitmen dan deklarasi para pemimpin Perhimpunan Bangsa-bangsa Asia Tenggara (ASEAN) saat KTT ASEAN di Bali pada 18 November 2011.

"Komisi Penanggulangan AIDS Nasional menantang setiap provinsi untuk membuat proyek percontohan dalam mencapai tiga tujuan itu. Kami sudah mengadakan rapat dan koordinasi dalam upaya mewujudkannya. Kami juga mencoba bekerja sama dengan KPA Badung dan Denpasar," ucapnya. Menurut dia, dasar pertimbangan memilih Badung dan Denpasar untuk dijadikan percontohan karena sebagian besar unit pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS yang ada di Bali terkonsentrasi di sana. Selain itu, perhatian para pemimpin di dua kawasan tersebut selama ini cukup besar terhadap penanggulangan HIV/AIDS.

"Sampai saat ini, kami masih menunggu keputusan dari pemerintah Kabupaten Badung dan Denpasar apakah siap melakukan ini. Dari hasil rapat koordinasi kami dengan KPA dari kedua daerah tersebut, mereka mengatakan masih sedang mengkonsultasikan dengan pimpinannya," kata Suprapta.

Jika bersedia, lanjut dia, maka pihak KPA Bali akan meneruskan rencana itu ke Jakarta. Desain detail dan formulasinya disusun bersama-sama dengan KPA Nasional yang meliputi tujuh butir prioritas kegiatan.

Ia menyampaikan, tujuh prioritas kegiatan itu yakni program pengurangan dampak buruk dan pengobatan adiksi (harm reduction), program pencegahan melalui hubungan seksual (PMTS paripurna), pengobatan dan pemeriksaan infeksi menular seksual, penyelenggaraan program pencegahan dari ibu ke bayi (PMTCT), pengobatan dini bagi yang sudah terdeteksi HIV positif langsung dapat diberikan ARV, menurunkan stigma dan diskriminasi di masyarakat terhadap penderita, dan tindakan sirkumsisi sebagai upaya kesehatan.

"Kalau upaya itu dilakukan secara serempak, saya optimis tiga upaya menolkan kasus HIV dapat tercapai. Ditandai dengan angka perkembangan kasus yang stagnan. Meskipun ada penambahan tetapi itu kasus lama," ucapnya.

Suprapta menambahkan, dengan pelaksanaan percontohan itu sekaligus sebagai upaya mempersiapkan kemandirian daerah dalam pembiayaan penanganan HIV/AIDS

Suatu strategi pembiayaan untuk penanganan HIV/AIDS, kata dia, hendaknya dapat segera dibangun. Selama ini 70 persen dari pembiayaan tergantung dari negara donor yakni Global Fund dan AusAID, sedangkan pemerintah daerah hanya berkontribusi sekitar 30 persen. Kemandirian harus disiapkan mengingat kontrak bantuan Global Fund akan berakhir pada 2015.

"Kita harus mempersiapkan diri seandainya benar selesai bantuan itu, apa Indonesia dan khususnya Bali mampu melanjutkan kemandirian ini. Dengan melakukan percontohan itu, sekaligus untuk mengukur kekuatan keuangan daerah karena titik fokus pembiayaan diharapkan tertumpu pada masing-masing pemerintah kabupaten," ucapnya.





[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=6016