Tidak Ada Obat Murah Untuk Atasi IO ODHA
Tanggal: Monday, 20 February 2012
Topik: Narkoba


Berita Sore, 17 Februari 2012

MEDAN: Obat untuk Infeksi Oportunistik (IO) yang diderita Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA), tidak tersedia baik di rumah sakit pemerintah maupun swasta, hal ini mengakibatkan kekebalan kondisi fisik tubuh ODHA semakin melemah.

“Tidak sedikit ODHA yang karena lemahnya kekebalan tubuh akibat terinfeksi HIV mendapatkan IO, berupa penyakit toksoplasmosis. Penyakit ini bisa ditangani dengan mengkonsumsi obat prinmetamin,” ucap Ketua Perhimpunan Dokter Peduli AIDS Indonesia (PDPAI) Sumut, Dr dr Umar Zein DTM&H SpPD KPTI, kemarin, di Medan.

Itu artinya, ucap Umar, belum sempurnanya penatalaksanaan ODHA dalam pengobatan. Parahnya obat primitamin tersebut tidak tersedia di pasaran. Padahal, harga obatnya murah yakni sekitar beberapa ratus rupiah perbutir. “Dengan mengkonsumsi obat tersebut selama dua bulan, toksoplasmosis yang dialami ODHA bisa disembuhkan,” yakin Umar.

Namun jika tidak ada obat, maka dengan kondisi AIDS, ODHA tidak bisa diatasi. Akibatnya, ODHA bisa mengalami kematian hanya karena penyakit tersebut.

“Obat untuk mengatasi IO ODHA yang harganya murah tidak tersedia. Saya heran, kenapa obat Antiretroviral (ARV) yang harganya mahal saja bisa disediakan untuk seumur hidup,” ujarnya.

Tidak hanya obat untuk penyakit toksoplasmosis, obat lainnya seperti contrimoxsazol untuk penyakit PCP (pneumositis carini pneumonia)-satu penyakit radang paru yang kerap dialami ODHA, juga tidak tersedia.

“Padahal, cukup obat itu digunakan seminggu, penyakit PCP itu bisa disembuhkan,” tambah Umar. Bahkan penyakit Kriptokokus yang menerpa otak (jamur di otak) sebenarnya bisa diobati dengan Ampotresin B. “Obatnya juga tidak tersedia di pasaran,” ungkapnya.

Begitu juga untuk obat penyakit Candidiasis Oral. Obat penyakit ini tidak tersedia secara generik, hanya obat paten. Akibatnya, Odha yang terkena penyakit ini harus mengeluarkan biaya mahal untuk mendapatkan kesembuhan.

Menurut Umar, sebenarnya berbagai persoalan itu bisa diatasi dengan baik, sehingga penanggulangan HIV/AIDS di tanah air bisa lebih maksimal. Caranya, pemerintah bisa menginvetarisir setiap obat yang diperlukan, kemudian obat tersebut disediakan.

“Padahal obat itu sangat dibutuhkan. Pemerintah bisa bekerjasama dengan lembaga donor seperti Global Fund ATM. Soalnya, tidak bisa berharap dengan perusahaan swasta. Karena, obat yang diperlukan itu kemungkinan harganya murah, sehingga dari sisi bisnis tidak menguntungkan,”bebernya.

Lanjut Umar, kemungkinan lain, jika memang secara nasional tidak bisa diatasi, maka dengan sistem otonomi daerah sekarang, pemerintah daerah (provinsi atau kabupaten/kota) bisa menyediakan obat tersebut untuk kebutuhan lokal.

Umar juga bilang, di Jakarta, untuk memenuhi kebutuhan obat ini, salah seorang profesor yang aktif memberikan pelayanan kesehatan pada ODHA, langsung mendapatkan obat yang dibutuhkan dari luar negeri.

“PDPAI Sumut siap mencoba mengadakan pendekatan dengan profesor tersebut bagaimana cara bekerjasama dengan luar negeri agar bisa mendapatkan obat yang dibutuhkan, kalau memang difasilitasi”bilangnya. (don)

Sumber: http://beritasore.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=6020