Seorang Pelajar di Serang Positif HIV/AIDS
Tanggal: Monday, 20 February 2012
Topik: HIV/AIDS


Suara Pembaruan, 20 Februari 2012

[SERANG] Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Banten menemukan kasus pelajar di Serang, yang mengidap penyakit HIV/AIDS. Kasus menyebarnya HIV/AIDS di kalangan pelajar ini sangat mengkhawatirkan.

Karena itu, pemerintah daerah diminta secara serius menanggulangi masalah HIV/AIDS dan memberantas peredaran narkoba. Sebab salah satu penyebab HIV/AIDS adalah penggunaan jarum suntik narkoba.

Project Officer KPA Banten Arif Mulyawan, Minggu (19/2), mengatakan, ancaman penyakit yang mematikan HIV/AIDS memang tidak pandang usia. Bahkan seorang balita bisa terkena HIV/AIDS akibat perbuatan orangtuanya. Seorang pelajar bisa terkena HIV/AIDS akibat terjerumus mengonsumsi narkoba dan seks bebas (free sex).

Karena itu, untuk mengatasi meluasnya penyebaran HIV/AIDS tentu melibatkan masyarakat, kelompok berisiko tinggi terserang HIV/AIDS, dan dunia pendidikan. “Penanggulangan penyakit HIV/AIDS memang tidak hanya tanggung jawab Dinas Kesehatan dan KPA. Namun, tanggung jawab bersama,” ujar Arif.

Menurutnya, masyarakat harus memahami bagaimana virus HIV/AIDS bisa menyerang ketahanan tubuh manusia dan pola penyebarannya. Sosialisasi serupa juga harus dilakukan kepada kelompok berisiko tinggi, seperti perempuan seks komersial (PSK), waria, narapidana dan pelaku penyalahgunaan narkotika.

“Dunia pendidikan pun sangat berperan dalam melakukan sosialisasi mengenai HIV/AIDS. Sebab dalam dunia pendidikan bisa memberikan pemahaman bahaya virus tersebut kepada anak didik. Dengan banyaknya sosialisasi mengenai HIV/AIDS, diharapkan penyebaran virus HIV/AIDS dapat ditekan. Artinya, masyarakat dari berbagai usai dan golongan bisa memahami dan menghindari perilaku hidup berisiko terjangkit HIV/AIDS,” jelasnya.

Arif mencontohkan, jika di salah satu kabupaten/kota di Banten terdapat 1.200 PSK. Apabila 1.200 PSK ini terjangkit virus HIV/AIDS dan dalam satu malam melayani 2 pelanggan hidung belang. Maka bisa dihitung berapa jumlah penderita HIV/AIDS di Banten. Belum lagi, pelanggan hidung belang tersebut memiliki pasangan.

Artinya, fenomena gunung es HIV/AIDS bisa saja terjadi di Banten. Menurut Arif, sosialisasi mengenai bahaya hubungan seks pra nikah dan penyalahgunaan narkotika, juga bisa menekan penyebaran virus HIV/AIDS. Sedangkan untuk langkah selanjutnya, kata Arif, adalah program penanggulangan yang melibatkan instansi pemerintah lainnya.

“Untuk menangani masalah HIV/AIDS juga butuh pengobatan. Dalam proses pengobatan membutuhkan layanan klinik untuk HIV AIDS. Dari delapan kabupaten/kota di Banten, baru tiga puskesmas yang memiliki pelayanan HIV AIDS seperti Voluntary Counseling and Testing (VCT) dan Capral Tunnel Syndrom (CTS),” katanya.

Anggaran Berkurang

Lebih jaug Arif mengatakan, saat ini Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten terkesan tidak serius menanggulangi masalah HIV/AIDS di Banten , karena anggaran operasional untuk KPA Banten dikurangi. “Tahun 2012 ini dana operasional KPA berkurang Rp100 juta. Padahal tahun 2011 lalu mencapai Rp600 juta,” kata Arif.

Arif sendiri tidak mengetahui alasan Pemprov Banten mengurangi anggaran tersebut. Padahal, anggaran yang diterima KPA itu sangat dibutuhkan untuk digunakan sosialisasi terhadap masyarakat mengenai HIV/AIDS. Dikatakan, dalam program penanggulangan HIV/AIDS, untuk dana operasionalnya berasal dari asing 75 persen, sedangkan APBD hanya 25 persen. Apabila bantuan dari luar negeri dihentikan, maka Pemprov Banten harus siap menghadapi permasalahan penanggulangan HIV/AIDS sendiri.

Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 22 Tahun 2011 tentang Pedoman Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2012, pada butir 24 dijelaskan bahwa pemerintah daerah harus mensinergiskan penganggaran program dan kegiatan dalam penyusunan APBD Tahun Anggaran 2012 dengan kebijakan nasional antara lain adalah program pencapaian Millenium Development Goals (MDGs), seperti kesetaraan gender, dan penanggulangan HIV/AIDS.

“Perlu diingat Pemprov Banten memiliki Perda mengenai penanggulangan HIV/AIDS. Namun, baru sebatas teori. Artinya, Pemprov Banten harus sungguh-sungguh menangani masalah HIV/AIDS tersebut,” katanya.

Gubernur Banten, Hj Ratu Atut Chosiyah mengatakan, dalam menanggulangi penyebaran virus HIV/AIDS, Pemprov Banten telah mengalokasikan anggaran di beberapa dinas terkait seperti Dinas Kesehatan, Dinas Sosial dan sejumlah Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) lainnya.

Sementara mengenai adanya pelajar Serang yang terjangkit HIV/AIDS, Atut meminta kepada Dinas Kesehatan dan SKPD lainnya yang mendapatkan anggaran penanggulangan HIV/AIDS, untuk segera proaktif melakukan penanganan secara khusus terhadap orang yang terkena HIV/AIDS dan melakukan pencegahan lewat upaya mengoptimalkan sosialisasi.

Selain itu, lanjutnya, Pemprov juga sudah melakukan nota kesepahaman dengan Badan Narkotika Provinsi (BNP) Banten, untuk bekerja secara maksimal guna menekan penyalahgunaan narkotika di Banten.

“Salah satu penyebab virus HIV/AIDS tersebut berasal dari penyalahgunaan narkotika. Karena itu peran BNP di sini sangat membantu untuk menekan kasus HIV/AIDS tersebut,” katanya.

Untuk diketahui, jumlah kasus penderita HIV di Banten pada tahun 2011 lalu sebanyak 1.514 orang, dan penderita AIDS 552 orang. Selama kurun waktu 2009-2011, jumlah korban meninggal dunia akibat penyakit menular ini tercatat 90 orang dan belasan di antaranya balita.

Jumlah penderita HIV/AIDS sebanyak itu terdiri atas Kota Cilegon HIV sebanyak 114 orang, AIDS sebanyak 63 orang, Kabupaten Pandeglang jumlah HIV sebanyak 41 orang dan AIDS 12 orang, di Kabupaten Lebak sebanyak jumlah pendertita HIV sebanyak 24 orang, dan AIDS sebanyak 31 orang, Di Kota Serang jumlah HIV sebanyak 28 orang dan AIDS sebanyak 53 orang.

Sementara di Kabupaten Serang jumlah penderita HIV sebanyak 338 orang dan AIDS sebanyak 61 orang. Di Kota Tangerang jumlah HIV sebanyak 528 orang dan AIDS sebanyak 149 orang. Sedangkan di Kabupaten Tangerang jumlah penderita HIV sebanyak 405 orang dan AIDS sebanyak 167 orang.

Sementara di Kota Tangsel jumlah HIV sebanyak 36 dan AIDS sebanyak 16 orang. Dikatakan, tren penularan virus HIV/AIDS di setiap kota/kabupaten di Provinsi Banten terus meningkat. Kota Tangerang merupakan daerah yang cukup tinggi penyebaran HIV/AIDS, disusul Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Kota Cilegon dan Kabupaten Tangerang serta Kota Serang. [149]

Sumber: http://www.suarapembaruan.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=6036