Kiat PMI Jogja Ajak Anak-Anak Muda Donorkan Darah
Tanggal: Monday, 20 February 2012
Topik: Narkoba


Radar Jogja, 20 Februari 2012

MENDONORKAN darah di waktu muda merupakan waktu yang tepat. Sebab, darah di usia muda memiliki kekentalan yang pas. Selain itu, pendonor juga bisa menyumbangkan darahnya dalam waktu yang lama.

’’Kegiatan donor darah harus menjadi bagian dari sebuah gaya hidup, terutama bagi kaum muda di Jogja,’’ kata Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) cabang DIJ Herry Zudianto di sela kegiatan donor darah di SMA 3 Jogjakarta kemarin (19/2). Menurut Herry, diperlukan sosialisasi secara terus-menerus pada anak muda tentang manfaat donor darah. Ini, karena tingkat partisipasi anak muda untuk mendonorkan darah mereka masih rendah. Untuk sosialisasi itu, harus dalam bentuk promosi dengan bahasa dan gaya anak muda. ’’Kalau kita berpromosi dengan cara lama belum tentu mereka tertarik. Tetapi jika kita bisa menjadi bagian dari mereka akan lebih mudah mengajaknya,’’ tambah mantan wali kota Jogja itu.

Anak muda saat ini, sambung Herry, jauh lebih terbuka dan rasional dalam menyaring informasi. Anak muda paling mudah didekati melalui cara-cara yang familier dengan dunia mereka. Herry mencontohkannya ketika masa berpacaran. ’’Kamu tanya pacarmu sudah donor darah belum? Jika sudah, berarti dia pasangan yang mau berkorban. Dia mau mengorbankan darahnya, apalagi mengorbankan dirinya untuk cinta,’’ kata Herry yang disambut tawa para peserta donor darah. Selain itu jika sudah donor darah, berarti dirinya sehat dan terhindar dari penyakit. ’’Kalau sudah donor darah berarti pacarmu itu steril dari penyakit AIDS, hepatitis atau sifilis. Berarti dia sehat,’’ lanjut Herry yang kembali disambut tawa. Setiap hendak donor darah memang akan dicek kesehatannya. ’’Kan lumayan sekalian untuk cek kesehatan gratis,’’ tambah Herry. Setelah menjadi pendonor, badan juga akan merasa lebih segar. Itu karena darah baru. Selain itu, kekentalan darah juga terjaga.

Batas minimal pendonor adalah 17 tahun. Pendonor akan dicek tensi dan hemoglobin (HB) darahnya. Juga tidak mengidap penyakit AIDS, sifilis, dan hepatitis. Setelah mendonorkan darahnya, pendonor baru bisa mendonorkan lagi tiga bulan ke depan. Itu, supaya tubuh sudah kembali memproduksi darah. Herry juga menambahkan, saat paling baik menjadi pendonor adalah saat muda. ’’Kita memerlukan donor-donor yang lebih muda. Alasan pertama adalah para kaum muda biasanya lebih sehat dan mereka dapat menjadi donor dalam masa yang lebih lama,’’ terangnya.

Karena itu dengan mengampanyekan donor darah sebagai gaya hidup, diharapkan anak muda bisa berpartisipasi aktif. Saat ini DIJ bisa dikatakan masih kekuranagan darah. Masih banyak permintaan darah ke PMI yang belum bisa dilayani.

’’Target saya setahun itu bisa 70 ribu kantong darah, jumlah itu baru aman. Saat ini masih sekitar 43 ribu kantong per tahun,’’ jelasnya. Kebanyakam permintaan dari rumah sakit untuk korban kecelakaan, operasi maupun melahirkan. Sementara itu Ketua Panitia Donor Darah SMA 3 Jogjakarta Ghaneswari Yugamaris mengatakan, kegiatan ini sekaligus memperingati lustrum ke-14 SMA 3 Jogjakarta. ’’Donor darah ini sudah rutin diadakan setiap tahun, juga mengajak anak muda menjadi pendonor darah,’’ ujarnya.

Selain donor darah, diadakan pula kegiatan talkshow Bold Donor Motivation dan pemilihan donor ambasador. Siswi kelas 11 ini menilai, partisipasi anak muda untuk menjadi pendonor tinggi. ’’Target 300 kantong sepertinya sudah tercapai,’’ kata dia. Ghaneswari kemarin yang tidak ikut mendonor karena baru berusia 16 tahun itu. Tetapi, dia bertekad akan menjadi pendonor darah kelak karena sudah mengetahui keuntungan menjadi pendonor.

Dia juga akan mengajak teman-temanya menjadi pendonor. ’’Seperti yang dikatakan Pak Herry, hari gini gak donor darah, gak gaul deh lu,’’ katanya. (*/abd)

Sumber: http://www.radarjogja.co.id




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=6037