Kasus HIV/AIDS di Bali Mayoritas Melalui Hubungan Seks
Tanggal: Monday, 20 February 2012
Topik: HIV/AIDS


Bali Post, 20 Februari 2012

Denpasar - Fenomena gunung es terjadi pada kasus penularan HIV/AIDS. Apalagi di Bali hingga saat ini penularannya mayoritas melalui hubungan seksual. ''Berdasarkan data temuan kasus HIV/AIDS hingga Desember 2011, penularan melalui heteroseksual masih memegang posisi teratas sebanyak 4.129 kasus,'' kata Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Bali, Made Suprapta di Denpasar, Minggu (19/2) kemarin.

Berdasarkan data kumulatif temuan kasus HIV/AIDS di Pulau Dewata dari 1987 hingga Desember 2011 yang terhimpun di KPA Bali, secara keseluruhan tercatat 5.639 kasus, dengan perincian 2.647 kasus AIDS dan 2.992 kasus HIV. ''Sejak beberapa tahun terakhir, memang penularan didominasi melalui heteroseksual, sedangkan melalui hubungan seksual sesama jenis (homoseksual) sebanyak 222 kasus dan biseksual 13 kasus,'' ujarnya.

Penularan melalui penggunaan narkoba (jarum suntik), lanjut dia, kini menempati posisi kedua yakni 794 kasus. Sedangkan penularan dari orang tua ke anak (perinatal) 161 kasus, tidak diketahui saluran penularannya 318 kasus, dan melalui tato dua kasus. ''Semakin banyak kasus terungkap, itu bukan berarti buruk. Justru menunjukkan semua unit kegiatan penanganan HIV/AIDS di daerah kita telah berjalan dengan baik. Yang jelas, untuk kasus infeksi baru, kami berusaha menekan seminimal mungkin,'' katanya.

Dengan semakin banyaknya kasus yang terungkap, lanjut dia, itu berarti juga memudahkan untuk melakukan penanganan dan pengobatan HIV/AIDS yang selama ini diibaratkan sebagai fenomena gunung es. ''Bukan dengan angka besar berarti KPA tidak bekerja. Menjadi lebih berbahaya jika pengidap tidak mengetahui bahwa dirinya itu berisiko menularkan kepada orang lain,'' ucapnya.

Ia tidak memungkiri tidak semua pihak setuju dengan pandangan banyak kasus terungkap menjadi lebih baik. ''Inilah yang perlu dikomunikasikan dan berbagai pemangku kepentingan duduk bersama,'' imbuhnya.

Menurut Suprapta, tahun ini ada tujuh prioritas kegiatan penanganan HIV/AIDS yang dilanjutkan dari tahun sebelumnya. Yakni, program pengurangan dampak buruk dan pengobatan adiksi (harm reduction), program pencegahan melalui hubungan seksual (PMTS paripurna), serta pengobatan dan pemeriksaan infeksi menular seksual. Selanjutnya, penyelenggaraan program pencegahan dari ibu ke bayi (PMTCT), pengobatan dini bagi yang sudah terdeteksi HIV positif langsung diberikan ARV, menurunkan stigma dan diskriminasi di masyarakat terhadap penderita, dan tindakan sirkumsisi sebagai upaya kesehatan. (kmb)

Sumber: http://www.balipost.co.id




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=6038