NU Peduli HIV/AIDS di Kalbar
Tanggal: Tuesday, 21 February 2012
Topik: HIV/AIDS


Harian Equator, 20 Februari 2012

Pontianak – Salah satu agenda Muskerwil PWNU Kalbar, membahas masalah HIV/AIDS yang berkembang pesat termasuk di daerah ini. Pertemuan yang berlangsung di Pondok Pesantren Walisong Pontianak, Minggu (19/2) menghasilkan berupa rekomendasi program peduli HIV/AIDS.

Fakta menunjukkan, di Indonesia dalam tempo 4 bulan terdapat 60 bayi yang positif terinfeksi HIV. Pemateri pertama, Sekretaris Eksekutif Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Syarif Fatah Al-Qadri, mengatakan situasi terkini epidemi HIV dan AIDS di Kalbar.

Jumlah pengidap HIV positif di Kalbar sebanyak 3.339 orang dan AIDS sebanyak 1.610 orang, sedangkan meninggal dunia 405 orang. “Bahkan ibu rumah tangga yang sudah terinfeksi di Kalbar hampir 2.000 orang. Epidemi HIV/AIDS ini harus dicarikan solusinya. Penenggulangannya harus secara bersama-sama termasuk alim-ulama,” katanya.

Syarif Fatah memberikan langkah nyata pencegahan HIV/AIDS dari sudut pandang Islam. Selain dengan cara meningkatkan pemahaman dan pengalaman keagamaan, meningkatkan ketahanan keluarga yang sehat dan bertanggung jawab. Memberikan informasi yang benar kepada masyarakat mengenai HIV dan AIDS, agar masyarakat menerima dan tidak mendiskriminasikan ODHA dan OHIDHA.

Peran ulama dalam struktur masyarakat muslim memiliki kedudukan yang sangat strategis dalam menuntun anggota masyarakat agar terus pada nilai-nilai keimanan, kebaikan, dan kemanusiaan

“Dalam sebuah tamsil yang disampaikan Nabi Muhammad SAW, suatu komunitas laksana satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh lain merasakannya. Bahkan aktif memulihkan kesakitan itu (diriwayatkan Imam Bukhari dan Imam Muslim, pada Jami’ al Ushul, nomor Hadits 4771),” jelas Syarif Fatah.

Di tempat sama Sekretaris Pengurus Pusat Rabithah Ma’had Islamiyah Nahdlatul Ulama menyampaikan makalahnya berjudul membangun kesadaran masyarakat terhadap HIV/AIDS.

Ia menjelaskan, untuk mengurangi HIV/AIDS sekurang-kurangnya ada dua tindakan yang harus dilakukan. Yaitu pencegahan (prevensi) dan penanggulangan (rehabilitasi). Pencegahan dalam konteks ini lebih merujuk kepada tindakan pencegahan (precaution) yang menuntut adanya aksi dan interaksi dengan didasarkan pada ide pemikiran.

Penanggulangan merupakan tindakan yang bersifat rehabilitatif. Yakni merehabilitasi kepercayaan diri penderita di tengah-tengah komunitasnya. “Bagaimana kita bisa bermanfaat bagi yang lain. Kita hidup harus pada kemaslahatan publik tanpa pandang bulu. Karena kita hadir di bumi ini sebagai dua fungsi yaitu sebagai hamba dan sebagai khalifah Allah. Apakah kita sudah benar-benar hadir dalam komunitas kita. Hadir dalam mendorong, menopang terhadap masalah saudara-saudara kita,” tegas Miftah.

Dalam silaturahmi alim ulama tersebut, para peserta yang terdiri dari Suriyah NU dari PWNU Kalbar maupun PCNU Kabupaten/Kota sepakat merekomendasikan, bahwa NU harus peduli dengan permasalahan HIV/AIDS yang begitu tinggi di Kalbar.

Alim-ulama harus mengambil peran dalam mencegahnya, terutama dalam hal bimbingan keagamaan dan moral. Sehingga jumlahnya bisa ditekan seminim mungkin. Begitu juga yang sudah terkena untuk terus dimotivasi semangat hidupnya supaya mereka tidak merasa dipojokkan. (kie)

Sumber: http://www.equator-news.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=6044