TBC Masih Menjadi Ancaman
Tanggal: Wednesday, 22 February 2012
Topik: Narkoba


okezone.com, 22 Februari 2012

BELUM lama ini publik dibayangi ancaman penyakit-penyakit terbilang “baru” yang mematikan, seperti flu burung. Namun, ada penyakit lama yang diam-diam menjadi ancaman, yakni tuberkulosis atau TBC. Penyakit yang disebabkan mycobacterium tuberkulosa ini merupakan penyakit “pembunuh” ketiga di Indonesia.

Indonesia merupakan negara peringkat ketiga dengan penyakit TBC terbesar di dunia saat ini. Setiap tahun 250.000 kasus penyakit TBC baru ditemukan dan sekitar 140.000 meninggal akibat penyakit TBC. Kawasan yang diperkirakan memiliki angka penyakit TBC meningkat adalah Afrika, Mediteranian, dan Asia Tenggara.

Jika selama ini penyakit TBC identik dengan kemiskinan, ternyata penyakit ini dapat menyerang siapa saja, tak terkecuali pria, wanita, tua, muda, kaya, dan miskin serta di mana saja. Namun, memang berkembangnya penyakit TBC di Indonesia ini berkaitan dengan memburuknya kondisi sosial ekonomi, belum optimalnya fasilitas pelayanan kesehatan masyarakat, dan meningkatnya jumlah penduduk yang tidak mempunyai tempat tinggal. Hal ini juga tentunya mendapat pengaruh besar dari daya tahan tubuh yang lemah, virulensi, dan jumlah kuman yang memegang peranan penting dalam terjadinya infeksi TBC.

Penularan penyakit TBC adalah melalui udara yang tercemar oleh mycobacterium tuberkulosa yang dilepaskan/dikeluarkan oleh si penderita TBC saat batuk. Bakteri ini masuk ke dalam paru paru dan berkumpul hingga berkembang menjadi banyak (terutama pada orang yang memiliki daya tahan tubuh rendah). Bahkan, bakteri ini pula dapat mengalami penyebaran melalui pembuluh darah atau kelenjar getah bening sehingga menyebabkan terinfeksinya organ tubuh yang lain, seperti otak, ginjal, saluran cerna, tulang, kelenjar getah bening, dan lainnya meski yang paling banyak adalah organ paru-paru. Pada anak usia 3 bulan–5 tahun yang tinggal serumah dengan penderita TBC paru dewasa dengan BTA positif, dilaporkan 30 persen terinfeksi berdasarkan pemeriksaan serologi/darah.

Gejala penyakit TBC digolongkan menjadi dua bagian, yaitu gejala umum dan gejala khusus. Sulitnya mendeteksi dan menegakkan diagnosis TBC adalah disebabkan gambaran secara klinis dari si penderita yang tidak khas, terutama pada kasus-kasus baru. Kementerian Kesehatan mewaspadai penyebaran penyakit paru TBC di Papua dan Nusa Tenggara Timur.

Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Ali Ghufron Mukti mengatakan, 15 persen orang dengan HIV-AIDS di Papua telah terjangkit TBC karena kekuatan tubuhnya melemah. Sementara, di NTT, dalam dua tahun terakhir ditemukan 2.500 pasien baru penyakit TBC. Kondisi lingkungan yang tidak sehat diduga menjadi penyebab utama penyebaran TBC di dua daerah itu. Ali Ghufron Mukti mengklaim, pemerintah sudah memberikan pelayanan gratis untuk penderita TBC di berbagai daerah.

“Terutama di Papua karena penderita HIV di sana cukup besar dan di antara mereka sekitar 15 persen lebih itu menderita tuberculosis. Tapi, pemerintah sudah memberikan pengobatan TBC ini secara gratis,” ujarnya.

Wamenkes menambahkan, penyebab lain tingginya angka TBC di Papua dan NTT juga karena pasien yang tidak meminum obat selama enam bulan. Itu adalah syarat sembuh dari TBC. Menurut Ali, pengobatan tidak tuntas menyebabkan virus TBC masih aktif sehingga akan mudah menyebar ke orang lain. Pemerintah berusaha menurunkan angka kejadian penyakit TBC menjadi 222 kasus per 100.000 penduduk pada 2015 sesuai target Tujuan Pembangunan Milenium (Millenium Development Goals/MDGs).

Untuk mencapai target tersebut, pemerintah menerapkan strategi pengobatan jangka pendek dengan pengawasan langsung (DOTS). Strategi itu, antara lain meliputi komitmen berkesinambungan untuk mengerahkan sumber daya bagi upaya pemberantasan TBC, diagnosis TB berkualitas, penyediaan obat anti-TBC (OAT), pengobatan OAT dengan pengawasan, serta pencatatan dan pelaporan kasus sesuai standar.

Saat ini 98 persen puskesmas sudah menerapkan strategi DOTS yang bisa diakses penderita TBC. Rumah sakit memegang peran kunci dalam upaya penanggulangan TBC nasional. Kementerian Kesehatan juga sudah meminta Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) memasukkan materi tentang pemberantasan TBC dan strategi DOTS dalam kurikulum pendidikan kedokteran.

Adapun pengobatan bagi penderita penyakit TBC memang membutuhkan proses yang cukup lama, yaitu berkisar dari 6 bulan sampai 9 bulan, atau bahkan bisa lebih. Penyakit TBC dapat disembuhkan secara total apabila penderita secara rutin mengonsumsi obat-obatan yang diberikan dokter dan memperbaiki daya tahan tubuhnya dengan gizi yang cukup baik. (tty)

Sumber: http://health.okezone.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=6061