Terapi Metadon, Metode Murah untuk Pencandu Narkoba Suntik
Tanggal: Thursday, 23 February 2012
Topik: Narkoba


REPUBLIKA.CO.ID, 23 Februari 2012

YOGYAKARTA---Pencandu narkotika suntik yang ada di Kota Yogyakarta dan ingin lepas dari kecanduan dapat melakukan terapi metadon yang kini sudah dapat diperoleh di Puskesmas Gedongtengen dan Umbulharjo I. "Terapi metadon ini cukup efektif untuk bisa menghilangkan kecanduan pecandu narkotika, seperti putaw untuk lepas dari ketergantungan terhadap zat-zat additif itu," kata Kepala Puskesmas Gedongtengen Yogyakarta Tri Kusumo Bawono.

Menurut dia, metadon adalah zat yang mampu menjadi pengganti terhadap zat-zat aditif yang terkandung dalam putaw. Namun, zat-zat aditif yang ada dalam metadon tersebut tidak akan membuat pengguna mengalami efek "fly" seperti yang ditimbulkan oleh putaw dan metadon adalah obat yang dilegalkan.

Saat ini, lanjut Tri, sudah ada 14 pencandu yang aktif melakukan terapi metadon di Puskesmas Gedongtengen dan satu orang yang dinyatakan telah mampu menghilangkan kecanduannya terhadap narkotika atau pun metadon. "Pecandu yang mengikuti terapi ini harus rutin memakai metadon setiap hari. Jika tidak, maka ia justru akan merasa sakaw. Sakaw yang dirasakan pun lebih berat dibanding sakaw putaw," katanya. Namun demikian, pecandu yang mengikuti terapi metadon itu bisa lepas dari ketergantungan terhadap metadon apabila rutin menjalani terapi karena semakin lama, dosis metadon yang diberikan akan dikurangi sedikit demi sedikit. "Secara teori, terapi metadon ini akan mampu menghilangkan efek kecanduan pengguna narkotika dalam kurun waktu sekitar dua tahun," katanya.

Puskesmas Gedongtengen telah membuka layanan terapi metadon tersebut sejak Agustus 2009. Terapi tersebut menjadi bagian dari klinik One Stop Service. Selain terapi metadon, di klinik tersebut juga diberikan layanan alat suntik steril (LASS). "Terapi ini sangat murah, hanya Rp5.000 untuk sekali terapi. Bahkan untuk warga Kota Yogyakarta tidak perlu membayar sepeser pun," katanya.

Selain untuk mengatasi kecanduan terhadap narkotika, lanjut Tri, terapi tersebut juga akan memberikan berbagai manfaat lain di antaranya adalah mengurangi transmisi virus karena pecandu narkotika suntik sangat rentan terkena penyakit HIV/AIDS.

Bagi pengguna sendiri pun, Tri menyatakan, bahwa metadon tersebut akan memberikan efek rasa nyaman sehingga pengguna bisa menjalani kehidupan sehari-hari secara normal, meskipun di awal pemakaian terkadang dibarengi dengan berbagai efek samping seperti mual, muntah, dan sulit buang air besar.

Namun, masih ada sejumlah kelemahan dalam pelaksanaan terapi tersebut, di antaranya rasa bosan dari pecandu yang mengikuti terapi, atau klien harus mendekam di penjara karena tersangkut kasus narkoba. "Kami sudah kerja sama dengan rutan, atau LP agar tetap bisa memberikan terapi metadon untuk pengguna saat mereka menjalani hukuman," katanya.

Salah satu pengguna yang mengikuti terapi metadon adalah Bongki. Ia mengaku sudah mengikuti terapi itu sejak 2008 di RS Sardjito namun kini pindah ke Puskesmas Gedongtengen. "Yang pasti, saya merasa nyaman setelah menggunakan metadon dan bisa berkarya lagi," katanya yang kini tengah melakukan pameran lukisan.

Sumber: http://www.republika.co.id




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=6070