Rendah, Pengetahuan Remaja tentang Kesehatan Reproduksi
Tanggal: Thursday, 23 February 2012
Topik: Narkoba


Suara Karya, 23 Februari 2012

JAKARTA: Permasalahan remaja saat ini sangat kompleks dan mengkhawatirkan. Berbagai data menunjukkan penerapan pemenuhan hak reproduksi bagi remaja belum sepenuhnya mereka dapatkan, antara lain dalam hal pemberian informasi.

Deputi Keluarga Sejahtera dan dan Pemberdayaan Keluarga (KSPK) Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BK KBN) Sudibyo Alimoeso kepada wartawan di Jakarta, Rabu, mengemukakan, hal ini dapat dilihat dari masih rendahnya pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi (kespro), yaitu tentang masa subur. Remaja perempuan dan laki-laki usia 15-24 tahun yang mengetahui tentang masa subur baru mencapai 65 persen (SDKI 2007).

Sementara itu, remaja perempuan dan laki-laki yang mengetahui risiko kehamilan jika melakukan hubungan seksual sekali masing-masing mencapai 63 persen (SDKI 2007).

Hasil penelitian tentang pengetahuan penyakit menular seksual (PMS) yang dilakukan di DKI Jakarta oleh LD-UI tahun 2005 menunjukkan, pengetahuan remaja tentang PMS masih sangat rendah, kecuali mengenai HIV dan AIDS, yaitu sekitar 95%, raja singa sekitar 37%, penyakit kencing nanah 12%, herpes genitalis 3%, klamida/kandidiasis 2%, jengger ayam 0,3%.

Menurut Sudibyo, data itu menunjukkan bahwa pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi remaja (KRR) masih sangat rendah karena terbatasnya akses informasi KRR kepada remaja.

Selain itu, secara umum permasalahan KRR di Indonesia berdasarkan hasil survei Komnas Perlindungan Anak (KPA) di 33 provinsi tahun 2008 tentang remaja SMP dan SMA yang pernah menonton film porno mencapai 97%. Remaja SMP dan SMA pernah ciuman, onani, dan oral sex mencapai 93, 7%, remaja SMP tidak perawan 62,7% dan remaja yang pernah aborsi mencapai 21,2 persen.

"Bahkan, data PKBI tahun 2006, remaja yang mengaku pernah melakukan hubungan seks pranikah adalah remaja usia 13-18 tahun. Enam puluh persen mengaku tidak menggunakan alat kontrasepsi dan mengaku melakukannya di rumah sendiri," kata Sudibyo.

Mengutip data KPA Sudibyo mengemukakan, minimnya informasi KRR pada remaja berpengaruh terhadap perilaku seks remaja pranikah.

Menyinggung tentang pemberian pelayanan kesehatan reproduksi bagi remaja, Sudibyo mengemukakan, remaja memiliki karakteristik tersendiri sehingga memerlukan pelayanan yang juga spesifik. "Sayangnya, selama ini masih sangat sedikit pelayanan kesehatan reproduksi yang dikhususkan bagi remaja. Pelayanan yang sudah ada lebih dirancang untuk melayani orang dewasa atau pasangan suami istri," katanya.

Remaja yang rentan terkena dampak kesehatan reproduksi adalah remaja putus sekolah, remaja jalanan, remaja penyalah guna napza, remaja yang mengalami kekerasan seksual, korban pemerkosaan dan pekerja seks komersial.

"Mereka ini sebenarnya memerlukan pelayanan kesehatan reproduksi yang lebih spesifik. Namun sayangnya, tempat-tempat pelayanan yang ramah remaja masih sangat sedikit," kata Sudibyo. (Singgih BS)

Sumber: http://www.suarakarya-online.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=6074