PMI Intensifkan Sosialisasi Donor Darah
Tanggal: Thursday, 23 February 2012
Topik: Narkoba


Ujungpandang Ekspres, 23 Februari 2012

MAKASSAR -- Palang Merah Indonesia (PMI) kembali mengintensifkan sosialisasi Donor Darah. Kali ini, PMI menggandeng LPM kelurahan, RW, RT dan tokoh masyarakat. Sosialisasi yang digelar di Hotel La Macca UNM, Rabu (22/2) itu, dihadiri ratusan peserta dari berbagai elemen masyarakat se-kota Makassar.

Wali Kota Makassar Ilham Arief Sirajuddin, dalam sambutannya menyampaikan, even seperti ini sangat penting untuk menjelaskan kepada masyarakat tentang posisi PMI sebagai organisasi kemanusiaan yang diberi mandat oleh pemerintah dalam penyelenggaraan donor darah. Ilham juga mengungkapkan, donor darah merupakan tugas PMI selain penanggulangan bencana dan diseminasi kemanusiaan. Sehingga, PMI diharapkan bisa berpartisipasi aktif dari segenap elemen masyarakat.

Hal yang sama diungkapkan Ketua PMI Sulsel Syamsu Rizal. Menurutnya, PMI tetap akan melaksanakan tugasnya secara optimal. Apalagi, jika dalam melaksanakan tugasnya, PMI mendapat partisipasi dari seluruh elemen masyarakat. "Tanpa partisipasi masyarakat, PMI tak akan optimal melaksanakan tugas ini", katanya.

Syamsu Rizal atau yang akrab disapa Ical itu mengatakan, berbagai persoalan mengemuka pada orientasi itu. Yang paling banyak muncul adalah persoalan BPPD (Biaya Pengganti Pengolahan Darah). PMI, kata Ical, tidak mampu untuk menutupi semua biaya pengolahan darah yang berkisar antara Rp285 ribu hingga Rp500an ribu. Oleh karena itu, BPPD membantu PMI untuk tetap eksis melakukan tugasnya.

"Sebelum darah dari donor ditransfusikan ke pasien, PMI wajib untuk melakukan proses uji saring dan screening untuk menjamin darah bebas dari penyakit seperti HIV AIDS, hepatitis B dan C serta penyakit kulit dan sipilis," ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Ical juga menepis adanya anggapan bahwa PMI menjualbelikan darah dari para donor.

"Darah sama sekali tidak diperjualbelikan. Tapi ada biaya yang timbul dari pengolahan darah yang tidak mampu dibiayai oleh PMI sendiri. Sehingga, butuh BPPD yang ditanggung oleh masyarakat pengguna. Makanya, BPPD sama saja antara darah yang diambil langsung dari relawan di PMI ataupun darah yang berasal dari donor keluarga," pungkasnya.

Biaya ini, tambah Ical, bisa berkurang bahkan gratis bila ada donasi dari masyarakat maupun lembaga usaha yang bisa menutupi biaya pengolahan tersebut.

Sumber: http://www.ujungpandangekspres.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=6076