Perempuan Terinfeksi HIV Terus Meningkat
Tanggal: Thursday, 23 February 2012
Topik: HIV/AIDS


Kompas, 23 Februari 2012

Jakarta
- Semula kasus HIV dan AIDS didominasi laki-laki. Kini, jumlah penderita perempuan terus meningkat. Fenomena feminisasi epidemi HIV ini menempatkan ibu rumah tangga sebagai kelompok pengidap AIDS terbesar. Ini akan meningkatkan jumlah bayi yang tertular HIV.

Perbandingan rata-rata pengidap AIDS di Indonesia tahun 2009 adalah 3 laki-laki : 1 perempuan. Perbandingan di Riau 4 laki-laki : 1 perempuan. Di Papua, jumlah penderita laki-laki dan perempuan hampir sama besar.

”Ibu rumah tangga tertular HIV dari suaminya,” kata anggota staf Program Pencegahan HIV Melalui Transmisi Seksual, Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Pusat, Slamet Riyadi, di sela-sela diskusi Pencegahan HIV dan AIDS terhadap Komunitas Berisiko Tinggi melalui Pemberdayaan Komunitas di Jakarta, Rabu (22/2).

Ibu rumah tangga menduduki peringkat pertama dari jumlah kumulatif AIDS pada perempuan tahun 2010 sebanyak 41,4 persen. Adapun pada pekerja seks perempuan yang selama ini dituding sebagai penyebar utama HIV sebanyak 8,7 persen.

Lonjakan jumlah ibu rumah tangga yang tertular AIDS terjadi sejak tahun 2003. Mereka diperkirakan terinfeksi HIV jauh sebelum itu. Sebelumnya ibu rumah tangga dianggap termasuk kelompok risiko rendah tertular HIV.

Komisi Penanggulangan AIDS tahun 2009 memperkirakan 3,2 juta laki-laki pernah menjadi pelanggan pekerja seks. Sekitar 1,9 juta perempuan menikah dengan laki-laki yang terinfeksi HIV. Jumlah pekerja seks perempuan diperkirakan 214.000 orang.

Latar belakang laki-laki pelanggan pekerja seks ini beragam, mulai dari sopir truk, anak buah kapal, petani, nelayan, pegawai negeri, karyawan swasta, wiraswasta, hingga aparat keamanan.

”Laki-laki memiliki potensi tinggi menularkan HIV, tetapi paling sulit disentuh program pencegahan HIV dan AIDS,” kata Slamet.

Daya tawar ibu rumah tangga untuk memaksa suaminya menggunakan kondom sangat rendah. Alasan penolakan suami masih sama, yaitu dianggap tidak enak.

Penularan HIV ke bayi juga meningkat pesat. Tahun 2006, jumlah kasus penularan HIV ke bayi baru 2,16 persen. Namun, pada tahun 2011, kasusnya sudah 4,7 persen.

Makin besar jumlah ibu rumah tangga yang mengidap HIV dan AIDS dipastikan akan membebani ekonomi dan mengubah struktur sosial. Penularan HIV pada bayi akan mengancam hilangnya satu generasi penerus bangsa.

Sulitnya memaksa laki-laki menggunakan kondom juga dialami pekerja seks perempuan yang merupakan kelompok risiko tinggi penyebaran HIV.

Menurut Pengelola Program HIV, PKBI Pusat, Fahmi Arizal, di sejumlah lokalisasi memang ada kewajiban bagi para pelanggan untuk menggunakan kondom. ”Namun, siapa yang bisa menjamin pelanggan tetap memakai kondom saat berhubungan?” katanya.

Meski demikian, perkembangan berbagai penyakit infeksi menular seksual dan HIV lebih mudah dipantau pada pekerja seks di lokalisasi. Adapun pekerja seks yang beroperasi secara terselubung di kafe, diskotek, tempat karaoke, dan panti pijat jauh lebih sulit dikontrol.

Jangan digusur

Berdasarkan pertimbangan inilah, sejumlah penggiat sosial berharap pemerintah tidak menggusur lokalisasi yang ada. Bukan berarti hal ini mendukung hubungan di luar nikah, tetapi agar lebih mudah mengontrol perkembangan penyakit menular seksual dan HIV supaya tidak tersebar makin luas.

Menurut Fahmi, penggusuran lokalisasi yang sering dijadikan alat politik untuk menggalang dukungan massa terbukti tak mampu menghapus prostitusi. Para pekerja seks yang berasal dari lokalisasi tersebut justru menyebar ke berbagai tempat, seperti membentuk lokalisasi-lokalisasi baru terselubung hingga beroperasi di jalanan.

Slamet mengatakan, pekerja seks perempuan merupakan korban pembangunan yang tidak adil dan budaya patriarki yang menempatkan perempuan sebagai obyek. Sebagian besar dari mereka berpendidikan rendah, berasal dari keluarga miskin, terjebak utang, serta dieksploitasi oleh keluarga atau lingkungan sekitarnya.

Mereka juga korban perdagangan manusia. Banyak pekerja seks perempuan adalah janda yang ditinggalkan suami atau justru dilacurkan oleh pasangannya untuk memenuhi kebutuhan ekonomi. Sebagian besar pekerja seks di lokalisasi berasal dari luar daerah tempat lokalisasi tersebut berada. (MZW)

Sumber: http://health.kompas.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=6077