Renungan Ancaman Serius Bali
Tanggal: Thursday, 23 February 2012
Topik: Narkoba


Bali Post, 23 Februari 2012

BALI mengantongi 5.639 kasus HIV/AIDS yang tercatat sejak 2005 sampai 2011. Jumlah kasus itu memberikan gambaran betapa penyakit mematikan itu sudah merupakan ancaman serius bagi daerah ini. Ribuan pengidap virus dan penyakit tersebut tentu sangat mengkhawatirkan. Mengingat kasus penularan HIV/AIDS bagai fenomena gunung es, semakin menggelinding terus semakin besar dan meluas.

Jumlah lima ribuan pengidap HIV/AIDS itu bukan tidak mungkin sudah masuk juga pada ribuan warga Bali lainnya setelah melakukan hubungan badan. Tanpa disadari virus-virus itu sudah pindah tempat dan terus berkembang. Pada akhirnya mereka yang tertular virus akan merasakan ketahanan tubuhnya terus menurun setelah virus mengalami masa inkubasi antara 5-10 tahun.

Penularan HIV/AIDS di Bali dari hasil penelitian Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Bali, ternyata mayoritas melalui hubungan seksual. Penularan lainnya melalui jarum suntik, dari orang tua ke anak sampai penularan kasus tato.

Penularan melalui hubungan seksual sebagai hal yang patut diwaspadai. Terutama perikaku seks yang tidak dilakukan dengan pasangannya sendiri. Seks bebas atau berganti-ganti pasangan sangat berisiko tertular HIV/AIDS, lebih-lebih dilakukan dengan pihak-pihak yang berisiko.

Mencegah dan menyadarkan masyarakat yang doyan ''jajan'' mencari kesenangan sesaat namun berdampak sangat mematikan bagi diri sendiri dan keluarga, tentu harus segera dilakukan. Tidak cukup mengatakan prihatin dengan kondisi yang ada sekarang, tetapi mari berbuat melakukan upaya pencegahan.

Keberadaan tempat mangkalnya para penjaja seks komersial (PSK) sudah seharusnya ditekan bahkan dihilangkan. Demikian juga keberadaan kafe-kafe yang tersebar sampai pelosok desa juga patut diminimalkan. Sudah menjadi ''nyanyian'' anak-anak muda di desa, bahwa mereka sudah sangat ketagihan untuk berkunjung ke tempat remang-remang tersebut. Pelayanan di kafe dilakukan wanita-wanita muda dengan perilaku genit dan merangsang, tentu saja tidak menutup kemungkinan terjadinya transaksi seks. Kondisi seperti ini besar kemungkinan para pengunjung mendapatkan virus dari para penjaga kafe. Demikian halnya PSK yang saban hari tamunya berbeda, bisa jadi ''terus'' menularkan virus-virus tersebut ke para palanggannya.

Bila para lelaki-lelaki suka ''jajan'' ini kemudian pulang dan berhubungan dengan istri-istri mereka, maka perpindahan virus pun terus terjadi. Akhirnya para istri yang setia di rumah juga kebagian penyakit tersebut. Bahkan anak dalam kandungan juga akhirnya menerima virus yang benar-benar belum ada obatnya.

Fenomena gunung es ini benar adanya bila upaya penanggulangan penyakit ini tidak dilakukan dengan intensif. Menyadarkan masyarakat akan bahaya penyakit ini harus terus didengungkan serta membatasi keberadaan kafe yang melenceng dari ketentuan. Lokasi-lokasi tempat mangkalnya para PSK juga patut mendapatkan perhatian. Mengingat belakangan ini tumbuh subur lokasi-lokasi yang dicurigai sebagai tempat mangkalnya para wanita jual diri. Apalagi belakangan ini penggerebekan-penggerebekan lokasi-lokasi PSK tidak sesering dulu. Hal seperti ini menjadikan para PSK tumbuh subur dan terus melebarkan operasinya. Bila kondisi ini terus dibiarkan, bukan tidak mungkin penyakit ini mengalir bagai air deras. Ancaman terhadap krama Bali semakin kuat dan berbahaya bagi masa depan Bali sendiri. Tentu sangat berbahaya bila di masa depan banyak krama Bali ngerentekang atau menderita sakit gede ini. Bila krama Bali sakit, tentu tidak mungkin lagi mempertahankan taksu-nya Bali, budaya, agama, apalagi mampu mengajegkan Bali. (pur)

Sumber: http://www.balipost.co.id




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=6079