Perlukah Calon Suami Tes HIV?
Tanggal: Monday, 27 February 2012
Topik: HIV/AIDS


Kompas.com, 27 Februari 2012

Teman saya baru saja melahirkan anak pertamanya. Dia menjalani operasi caesar. Sehari sebelum operasi, dokter melakukan tes HIV dan di luar dugaan hasilnya positif. Dia dalam keadaan tegang karena akan menghadapi operasi, sekarang ditambah kenyataan dia HIV positif. Bagaimana sikap suaminya? Bagaimana pula nasib anaknya nanti, apakah akan tertular?

Suaminya amat memahami keadaannya dan berterus terang bahwa dia pernah menggunakan narkoba sewaktu SMA, tetapi hanya setahun dan sejak itu tak pernah memakai narkoba lagi. Suami dalam keadaan sehat, tetapi dokter menganjurkan suami menjalani tes HIV, ternyata hasilnya positif. Teman saya menjadi mengerti bahwa dia tertular dari suaminya, tetapi bagi dia itu tak penting. Dia lebih mengkhawatirkan anaknya, adakah upaya agar anaknya tak tertular HIV?

Dokter cukup bijak dengan memberikan informasi yang cukup menggembirakan. Sekarang ada obat virus dan anaknya dapat dikurangi risiko HIV-nya dengan cara operasi caesar serta diberikan susu formula sebagai pengganti air susu ibu. Semua telah dijalaninya. Suaminya dan dia sekarang juga sudah minum obat antiretroviral. Anaknya dalam pemantauan dokter dan sementara harus minum obat pencegahan.

Saya jadi berpikir ulang untuk menikah. Apakah bijak jika saya meminta kekasih saya menjalani tes HIV? Apakah sebaiknya perempuan hamil perlu tes HIV? Benarkah jika diketahui sejak dulu dia HIV positif, dapat diberikan obat pencegahan agar bayinya terhindar dari HIV? Apakah sahabat saya telah kehilangan kesempatan untuk melindungi anaknya? Mohon penjelasan dokter.

N di J

Niat untuk membina keluarga sudah tentu disertai harapan keluarga yang sehat dan bahagia. Karena itu, dianjurkan kepada calon pengantin untuk menjalani pemeriksaan kesehatan. Di samping pemeriksaan fisik, perlu beberapa pemeriksaan laboratorium untuk menunjang diagnosis penyakit, seperti pemeriksaan kemungkinan talasemia serta penyakit infeksi, termasuk hepatitis B dan HIV.

Jadi, sebenarnya tes HIV adalah sebagian saja dari pemeriksaan yang diperlukan. Jangan lupa juga menjalani vaksinasi tetanus toksoid dan rubela. Diharapkan, dengan pemeriksaan kesehatan tersebut, calon suami, calon istri, dan keturunannya kelak akan juga sehat. Jadi, Anda dapat merundingkan dengan calon suami Anda pemeriksaan kesehatan yang diperlukan. Sudah tentu semua berharap hasil pemeriksaannya akan baik. Namun, jika ada penyakit yang terdeteksi, akan ditangani dan juga amat penting dicegah penularannya kepada orang yang kita sayangi, yaitu istri atau suami.

Untuk hepatitis B jika belum ada kekebalan perlu dilakukan vaksinasi hepatitis B. Sedangkan jika ibu hamil hepatitis B, anak yang lahir dapat dikurangi risiko penularannya dengan diberi suntikan imunoglobulin dan vaksinasi hepatitis B. Sementara tes HIV memang sekarang dianjurkan untuk ibu hamil. Ibu hamil yang positif HIV dapat diberi upaya pencegahan agar virus tersebut tak menular kepada anaknya. Pencegahan yang dilakukan adalah selama kehamilan minum obat antiretroviral, melahirkan dengan cara operasi caesar, serta mengganti air susu ibu dengan susu formula jika memungkinkan.

Risiko penularan

Risiko penularan pada janin dalam kandungan sekitar 7 persen, pada waktu melahirkan cara biasa 15 persen, dan risiko penularan melalui air susu ibu 13 persen. Dengan demikian, keseluruhan risiko penularan adalah 35 persen. Risiko ini dapat diturunkan menjadi kurang dari 2 persen jika ketiga upaya tersebut dapat dilakukan dengan lengkap. Jika selama kehamilan tak sempat minum ARV, jumlah virus HIV dalam tubuh ibu hamil tinggi sehingga risiko menularkan selama melahirkan cara biasa atau pemberian air susu ibu masih tinggi. Karena itulah teman Anda dianjurkan dokter untuk memberikan susu formula. Kita semua sudah memahami sebenarnya air susu ibu adalah makanan terbaik bayi, tetapi pada keadaan ini akan lebih aman menggunakan susu formula.

Namun, jika keinginan untuk menggunakan susu formula ini tak dapat dilakukan dengan baik, misalnya karena faktor biaya atau lain-lain, boleh dilakukan pemberian air susu ibu eksklusif. Bayi hanya minum air susu ibu saja selama enam bulan.

Kita perlu belajar lebih banyak untuk meningkatkan keberhasilan pencegahan penularan HIV dari ibu hamil ke bayi, misalnya dari Thailand dan Kamboja. Program penanggulangan HIV di Kamboja berhasil menurunkan kasus baru HIV 50 persen, cakupan penggunaan ARV 92 persen, dan penurunan lebih dari 50 persen kasus HIV pada bayi.

Untuk dapat meningkatkan keberhasilan penanggulangan HIV, masyarakat harus memahami bahaya HIV dan bagaimana menghindari diri dari penularan penyakit ini. Tes HIV harus tersebar di seluruh Indonesia dan mudah diakses oleh masyarakat luas.

Tes HIV

Pakar HIV, Prof Zubairi Djoerban, dalam suatu simposium menganjurkan agar kita menggalakkan tes HIV di masyarakat, terutama untuk pengguna narkoba dan pasangan seksualnya, juga pasangan seksual ODHA, mereka yang terdiagnosis penyakit menular seksual, ibu hamil, penderita tuberkulosis, bahkan siapa saja yang merasa perlu dites. Tanpa tes HIV, kita tak dapat menetapkan apakah seseorang tertular HIV. Kesempatan untuk mengobati hilang dan juga kesempatan untuk mengurangi pencegahan kepada orang lain hilang. Prof Zubairi berharap kita dapat melaksanakan tes HIV pada sekitar 10 juta penduduk kita.

Apakah saran ini berlebihan? Ternyata, pada tahun 2010 Afrika Selatan yang berpenduduk 50 juta orang telah melakukan 10 juta tes HIV dan dapat ditemukan sekitar 2 juta yang positif. Mereka yang positif diobati supaya virusnya dapat ditekan agar tidak timbul infeksi oportunistik dan sekaligus mengurangi risiko penularan kepada pasangan seksualnya.

Bagaimana dengan biaya? Sudah tentu tidak seluruh biaya harus dimintakan dari pemerintah. Mereka yang mampu membayar dapat membiayai diri sendiri dan yang tak mampu dibantu oleh pemerintah. Jadi, banyak yang dapat kita bantu untuk sahabat Anda. Terapi HIV sekarang sudah maju dan efektivitasnya tinggi.

Sumber: http://health.kompas.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=6107