Jamsostek Dongkrak Kepesertaan dengan Manfaat Tambahan dan Peningkatan Pelayanan
Tanggal: Wednesday, 29 February 2012
Topik: Narkoba


Suara Karya, 29 Februari 2012

Pada tahun 2012 ini, PT Jamsostek (Persero) mencanangkan 3 peningkatan, yakni peningkatan manfaat program jaminan sosial untuk tenaga kerja, pelayanan kepesertaan, dan jumlah peserta. Selain sosialisasi tentang program jaminan sosial beserta manfaatnya, Jamsostek juga akan mengintensifkan pelaksanaan "Gerakan Nasional Wajib Jamsostek" dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan.

Tidak tanggung-tanggung, tahun ini Jamsostek menargetkan adanya tambahan jumlah peserta dari perusahaan sebanyak 51.050 unit dan 3,4 juta tenaga kerja formal di perusahaan-perusahaan tersebut. Penambahan kepesertaan juga diharapkan dari tenaga kerja perorangan sebanyak 58.780 orang, tenaga kerja luar hubungan kerja (TK-LHK) mencapai 169.800 orang serta tenaga kerja di sektor jasa konstruksi sebesar 4,4 juta orang. saat ini terdapat 153.938 perusahaan dan 10,6 juta tenaga kerja yang menjadi peserta aktif program jaminan sosial yang diselenggarakan Jamsostek.

Jemput bola dengan mendatangi perusahaan-perusahaan dalam rangka menyosialisasikan program serta manfaat program jaminan sosial bagi tenaga kerja akan diiringi dengan pemberian manfaat tambahan. Nilai santunan dan cakupan layanan 4 program jaminan sosial yang terdiri dari jaminan kecelakaan kerja (JKK), jaminan kematian (JK), jaminan hari tua (JHT), dan jaminan pemeliharaan kesehatan (JPK) juga terus ditingkatkan.

Direktur Utama Jamsostek Hotbonar Sinaga mengatakan, Jamsostek akan memberikan manfaat tambahan, di antaranya berupa pemeriksaan kesehatan (medical check up/MCU) gratis serta pelatihan keselamatan dan kesehatan kerja (K-3) untuk perusahaan maupun tenaga kerja.

Pelaksanaan medical check up gratis ini merupakan manfaat tambahan dari program JPK Jamsostek, selain perluasan cakupan pelayanan yang sudah diberikan sebelumnya. Dalam hal ini, tenaga kerja dan keluarganya yang menjadi peserta JPK Jamsostek sudah mendapat lagi layanan hemodialisis (cuci darah), operasi jantung, pengobatan kanker, dan HIV/AIDS.

Sedangkan pelaksanaan pelatihan K-3 yang diikuti oleh banyak perusahaan dan tenaga kerja ini bertujuan untuk menekan angka kecelakaan kerja yang saat ini masih tergolong tinggi. Pelaksanaan pelatihan K-3 ini akan diselenggarakan oleh kantor-kantor cabang Jamsostek tempat perusahaan atau tenaga kerja bersangkutan terdaftar.

Menurut Hotbonar Sinaga, hal ini merupakan komitmen dari Jamsostek dalam rangka meningkatkan jumlah peserta, manfaat program jaminan sosial, dan pelayanan kepesertaan. Pemberian fasilitas medical check up gratis dan pelatihan K-3 yang merupakan manfaat tambahan dari program jaminan sosial ini, sekaligus merupakan bagian dari upaya meningkatkan jumlah peserta dan pelayanan kepesertaan.

"Sebelumnya yang namanya sakit jantung, kanker, cuci darah, dan lainnya tidak dilayani dalam program JPK. Ditambah medical check up gratis. Semua ini jadi manfaat tambahan dan akan mendorong perusahaan beserta tenaga kerjanya masuk jadi peserta Jamsostek. Selain merupakan manfaat tambahan, tentunya ini juga merupakan bentuk peningkatan pelayanan. Tahun 2012 ini Jamsostek mencanangkan pemberian manfaat tambahan bagi peserta program Jamsostek yang akan mendorong peningkatan pelayanan dan jumlah kepesertaan tersebut," kata Hotbonar.

Berdasarkan data, terdapat 2,6 juta tenaga kerja beserta keluarganya (menjangkau lebih dari 5 juta orang yang terlayani) mengikuti JPK. Sebanyak 600.000 di antaranya berusia di atas 40 tahun dan bisa mendapatkan manfaat tambahan berupa medical check up gratis. Pelayanan tambahan ini sudah dilaksanakan di sejumlah perusahaan di Surabaya, Jakarta, dan menyusul kota-kota lainnya.

Di lain pihak, Jamsostek juga akan terus menyelenggarakan pelatihan dasar tentang K-3 di sejumlah perusahaan. Kegiatan ini merupakan salah satu manfaat tambahan dari kepesertaan program jaminan sosial untuk tenaga kerja, sekaligus upaya untuk menekan kasus kecelakaan kerja yang tergolong masih tinggi. Selain melibatkan perusahaan yang termasuk nihil kecelakaan kerja, pelatihan K-3 juga mencakup 10 perusahaan yang angka kasus kecelakaan kerjanya tergolong tinggi, sehingga ke depan bisa diminimalisasi.

Santunan yang sudah disalurkan Jamsostek untuk program JKK selama 34 tahun (sejak Jamsostek berdiri) mencapai Rp 3.456 triliun untuk 1.883.200 kasus. Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, kasus kecelakaan kerja cenderung fluktuatif (naik-turun). Pada 2007 terdapat penurunan kasus kecelakaan kerja sebesar 12,46 persen dan nominal pembayaran santunan 1,10 persen. Pada 2008, terdapat kenaikan nominal pembayaran JKK dibanding 2007 sebesar 35,57 persen. Ini dikarenakan pada akhir 2007 santunan dan manfaat JKK ditingkatkan.

Pada 2010 terdapat 98.711 kasus kecelakaan kerja dengan total pembayaran santunan sebesar Rp 401,237 miliar dan pada 2011 menjadi 99.491 kasus dengan total klaim Rp 504,029 miliar. Secara rata-rata, angka kasus kecelakaan kerja sebenarnya tidak berubah secara signifikan, meski nilai santunannya mengalami kenaikan, karena didorong peningkatan nilai dan cakupan layanan. Oleh karena itu, Jamsostek akan melaksanakan program pelatihan K-3 yang dikoordinasi seluruh kantor-kantor cabang Jamsostek di Indonesia.

Kesadaran

Untuk meningkatkan jumlah peserta, pada tahun ini Jamsostekakan mengoptimalkan pelaksanaan "Gerakan Nasional Wajib Jamsostek" yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan. Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo)/pihak perusahaan, serikat pekerja/buruh serta kementerian terkait hingga pemerintah daerah akan dilibatan untuk meningkatkan peserta program-program jaminan sosial yang diselenggaraan Jamsostek.

Direktur Kepesertaan Jamsostek Ahmad Ansyori mengatakan, sosialisasi tentang program jaminan sosial dan manfaatnya akan terus ditingkatkan. Arahnya agar seluruh tenaga kerja bisa terpenuhi hak-hak normatifnya atau terlindungi dari segala risiko akibat bekerja dengan menjadi peserta program jaminan sosial. Upaya membangun kepercayan (trust building) kepada seluruh pemangku kepentingan juga menjadi kunci agar seluruh tenaga kerja bisa terlindungi melalui program jaminan sosial.

Saat ini masih terdapat sekitar 25 juta tenaga kerja formal dan 60 juta tenaga informal (mandiri dan luar hubungan kerja) yang belum menjadi peserta Jamsostek. Selain perusahaan yang sama sekali belum mengikutsertakan pekerja/karyawannya ke dalam program Jamsostek, sosialisasi juga dilakukan di perusahaan-perusahaan yang hanya mendaftarkan sebagian karyawannya atau mendaftarkan sebagian upah karyawannya dalam program jaminan sosial.

Selain itu, Jamsostek juga mendorong pelaksanaan Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor 24 Tahun 2006 tentang Program Jaminan Sosial bagi Tenaga kerja di Luar Hubungan Kerja (tenaga kerja informal). Dengan diharapkan akan lebih banyak lagi pekerja sektor informal yang menjadi peserta Jamsostek.

"Kami berharap program jaminan sosial untuk tenaga kerja merupakan suatu kebutuhan karena manfaatnya. Terkait hal ini, upaya sosialisasi dan promosi secara masif perlu terus ditingkatkan. Bukan itu saja, kami juga akan melakukan transformasi ke arah perbaikan di semua lini, baik itu pelayanan, operasional, pengembangan sumber daya manusia, aplikasi teknologi informasi. Terkait hal ini, upaya sosialisasi dan promosi secara masif perlu terus ditingkatkan," ucapnya.

Optimalisasi

Seiring target peningkatan kepesertaan serta pelayanan dan manfaat program jaminan sosial, Jamsostek akan mengoptimalkan pengelolaan dan pengembangan dana peserta program jaminan hari tua (JHT). Dengan ini, imbal hasil dengan bunga maksimal (di atas 10 persen) untuk program JHT bisa kembali terwujud.

Jamsostek menargetkan dana investasi (pengelolaan dana peserta) sebesar Rp 125 triliun pada 2012 dengan total aset mencapai hingga Rp 130 triliun. Hal ini berarti ada peningkatan jika dibandingkan 2011 dengan dana investasi sebesar Rp 111 triliun dan aset Rp 116,4 triliun.

Dalam rencana kerja perusahaan tahun ini, komposisi investasi yang ditetapkan mencakup 42,5 persen di obligasi, sebesar 29,1 persen di deposito perbankan, dan 18,9 persen di bursa saham. Selanjutnya 7,6 persen di reksadana dan 1,2 persen penyertaan modal secara langsung serta 1 persen di sektor properti. Investasi obligasi mengalami kenaikan mengingat pada tahun lalu pengucuran dana pada protfolio investasi ini hanya mencapai 38 persen. Dengan proporsi tersebut, hasil investasi ditargetkan sebesar Rp 4,7 triliun dari obligasi, sebanyak Rp 2,5 triliun dari saham serta Rp 2,2 triliun dari deposito. Selanjutnya Rp 924 miliar dari reksadana serta dan Rp 84 miliar dari hasil investasi properti.

Ada kenaikan dibanding hasil investasi tahun 2011 lalu yang mencapai Rp 4,4 triliun untuk obligasi serta Rp 2,4 triliun untuk saham dan deposito sebesar Rp 2,4 triliun. Sementara hasil dari reksadana mencapai Rp 700,5 miliar dan perolehan hasil dari sektor properti Sebesar Rp 84,6 miliar. ***

Sumber: http://www.suarakarya-online.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=6120