Peredaran Obat Metadon Perlu Diperketat
Tanggal: Thursday, 01 March 2012
Topik: Narkoba


PRLM, 29 Februari 2012

BANDUNG - Komisi D Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Bandung meminta Dinas Kesehatan dan Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) untuk memperketat peredaran obat metadon di kalangan masyarakat. Berdasarkan temuan Komisi D, obat metadon yang biasanya digunakan sebagai obat terapi untuk mengalihkan ketergantungan pasien terhadap narkoba, justru rawan disalahgunakan.

"Ada laporan masyarakat yang menyebutkan bahwa metadon berbentuk tablet ini tidak hanya diminum pasien untuk mengatasi ketergantungan terhadap narkoba saja, tapi juga dibuat menjadi bubuk dan dilarutkan, untuk kemudian disuntikkan agar bisa mendapatkan efek seperti narkoba," kata Anggota Komisi D DPRD Kota Bandung, Deni Rudiana, ketika ditemui di Gedung DPRD Kota Bandung, Rabu (29/2).

Hal itu sangat mengkhawatirkan, karena bisa meningkatkan angka pengguna narkoba di Kota Bandung, dan meningkatkan kriminalitas. Apalagi, kata Deni, angka penyebaran HIV-AIDS di Kota Bandung cukup tinggi dari faktor jarum suntik.

Dia mengatakan, saat ini hanya RSHS yang berwenang untuk menjual obat tersebut secara bebas berdasarkan resep dokter. Akan tetapi Deni menyayangkan, pengawasan yang dilakukan sangat kurang.

Konsumsi obat pertama dan kedua oleh pasien, lanjut dia, dilakukan di rumah sakit. Sedangkan yang ketiga dan seterusnya, bebas dilakukan di rumah atau di tempat yang lain. "Buktinya masih ada laporan ini, dan kami sudah melakukan penelusuran selama beberapa bulan," ucap Deni. Dia juga mengatakan, hingga saat ini pihaknya kesulitan meminta data berapa butir metadon yang telah beredar di masyarakat.

Penyalahgunaan obat tersebut, kata dia, juga marak dilakukan oleh beberapa anggota geng motor di Kota Bandung. "Dengan uang hanya Rp 20 ribu, bisa mendapatkan efek yang sama dengan narkoba seharga Rp 400 ribu, makanya penyelewengan obat ini marak dilakukan," katanya.

Dia berharap, pengawasan ketat bisa dilakukan, untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan obat. "Kalau perlu, obat ini diganti saja dengan obat lain yang tidak rawan disalahgunakan, obat ini toh tingkat keberhasilannya hanya sekitar 20 persen," ucap Deni. (A-175/A-147)**

Sumber: http://www.pikiran-rakyat.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=6128