Terkait Video Mesum, Ternyata 40 % PSK di Provinsi Banteng Pelajar SMP dan SMA
Tanggal: Thursday, 01 March 2012
Topik: Narkoba


Suara Pembaruan, 01 Maret 2012

[LEBAK] Kasus beredarnya video porno di kalangan siswa di Lebak Selatan dan sebelumnya ditemukan salah seorang siswa yang positif mengidap penyakit HIV/AIDS di Serang, secara tidak langsung mencoreng wajah pendidikan di wilayah Provinsi Banten.

Karena itu, sudah sepatutnya Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten dan kabupaten/kota di Banten perlu melakukan evaluasi terhadap sistem pendidikan yang saat ini diterapkan.

Bahkan, dari hasil survei dan monitoring Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Banten di beberapa tempat lokalisasi di Banten, diketahui bahwa 40 persen Penjaja Seks Komersial (PSK) masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan SLTA.

Wakil Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak Provinsi Banten Yayah Rukhiyah menyatakan, dalam setiap kasus yang terjadi ini diduga ada penyebabnya, di antaranya faktor ekonomi, pendidikan, dan juga lingkungan.

“Persoalan ini memang berat karena itu harus ditangani bersama-sama. Karena tidak semua yang terlibat adalah pelaku, melainkan juga adalah korban,” ujarnya.

Yayah meminta pemerintah agar segera membuat Peraturan Daerah (Perda) tentang Perlindungan Anak. Dengan adanya payung hukum tersebut, semua kebijakan pemerintah akan terarah.“Anak harus menjadi skala prioritas. Mereka adalah generasi muda yang harus dilindungi,” katanya.

Tidak hanya itu, Yayah juga meminta kepada siapa pun yang menjadi korban dari kekerasan dan pelecehan untuk segera melapor ke P2TP2A. “Saya yakin seorang yang berusia belia tidak akan melakukan hal-hal negatif jika tidak ada penyebabnya. Kita perlu mengidentifikasi penyebabnya, lalu menentukan langkah solusi yang tepat secara bersama-sama baik itu orang tua, masyarakat, lembaga-lembaga terkait maupun pemerintah,” jelasnya.

Sementara itu, untuk mengantisipasi agar kasus serupa tidak terjadi lagi, Dinas Pendidikan (Dindik) Banten akan benahi sistem pengajaran, caranya yaitu dengan menyelipkan pendidikan kharakter di setiap mata pelajaran yang disampaikan guru.

“Kasus yang terjadi pada anak-anak sekolah ini merupakan peringatan bagi penyelenggara pendidikan. Kami akan mengintegrasikan pendidikan kharakter kepada mereka,” ujar Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Banten Hudaya Latuconsina.

Menurut Hudaya, usia anak sekolah merupakan usia yang rawan, karena mereka cenderung melakukan sesuatu tanpa memikirkan masa depannya.

“Faktor lingkungan, faktor teknologi jelas akan berpengaruh negatif jika tidak diterapkan etika sejak dini,” jelasnya.

Menurut Hudaya, pendidikan karakter tidak hanya dibebankan kepada guru agama, tapi juga guru biologi. Seyogiyanya, anak harus diperkenalkan tentang usia reproduksi, bahaya narkoba, serta akibat yang ditimbulkan jika melakukan hal itu di luar etika.

“Pendidikan tentang seks, tidak perlu dianggap tabu untuk diajarkan kepada siswa. Pendidikan seks tentu ditekankan pada risiko kalau melakukan hubungan seks di luar nikah. Ini dilakukan sejak dini, sehingga para pelajar memahaminya secara baik dan tidak terjebak dalam praktik free sex (seks bebas),” ujarnya.

Hudaya mengatakan, dalam waktu dekat ini, Dinas Pendidikan Banten akan mengumpulkan seluruh guru yang ada di Banten, guna menyosialisasikan program-program pencegahan terjadinya kasus yang diakibatkan kenakalan remaja.

“Kami telah bertemu dengan guru-guru sekolah dasar (SD). Pekan depan, kami akan berkoordinasi dengan guru SMP. Selanjutnya kami akan mengumpulkan guru SLTA. Sebab, kasus yang memprihatikan yang terjadi di kalangan pelajar ini, jelas sebuah peringatan bagi pendidik untuk lebih memaksimalkan tangungjawabnya,” ujar Hudaya. [149]

Sumber: http://www.suarapembaruan.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=6133