Buka Klinik Antisipasi HIV-AIDS
Tanggal: Tuesday, 06 March 2012
Topik: HIV/AIDS


Radar Jogja, 03 Maret 2012

WONOSARI – Mengontrol tingginya angka kasus HIV-AIDS di Gunungkidul, Dinas Kesehatan (Dinkes) berencana membuka klinik coluntary counseling test (VTC). Klinik ini berupa layanan kesehatan bagi konseling tes sukarela HIV-AIDS. Kepala Bidang Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Menular (P2KP) Dinkes Gunungkidul Dewi Irawati mengatakan klinik VTC akan dibuka di RSUD Wonosari.

“Kami sudah ada koordinasi dengan manajemen rumah sakit untuk menentukan di mana ruangannya,” kata Dewi kemarin (2/3). Klinik VTC merupakan layanan kesehatan untuk mendeteksi lebih awal terjadinya kasus-kasus HIV-AIDS dengan bantuan dokter ataupun konselor. Menurutnya, VTC ini merupakan pintu masuk untuk pencegahan dan perawatan HIV-AIDS.

“Kita prihatin sekali karena setiap tahun jumlah penderita AIDS di Gunungkidul terus meningkat,” imbuhnya. Jika mengikuti konseling VTC, lanjutnya, maka mampu mengambil keputusan-keputusan pribadi yang terkait HIV-AIDS. Mengenai waktu tes, bisa dilakukan kapan saja, jika orang memiliki prilaku resiko tinggi.

Tujuan VTC juga membuat klien mampu menghadapi isu-isu yang berkaitan dengan HIV-AIDS dan membuat rencana-rencana yang berkaitan dengan pencegahan. “Dengan VTC, kualitas hidup dapat memeperbaiki kualitas hidup dan memainkan peran yang menentukan dalam penurunan stigma dan diskriminasi,” ulasnya. Menurutnya, penderita HIV-AIDS di Gunungkidul dari tahun ke tahun mengalami peningkatan yang cukup tinggi. Pada 2005 ditemukan satu kasus, sedangkan pada 2011 naik mencapai 57 penderita AIDS. Detailnya, 60 persen penderita berjenis kelamin pria dan 40 persen wanita. “Angka ini bisa terdeteksi dari beberapa masyarakat yang memang memiliki gejala AIDS,” paparnya.

Dikatakan, penularan AIDS sebagian besar berasal dari luar Gunungkidul yang penyebabnya berasal dari hubungan intim. Dalam kasus ini, kaum pria lebih dominan sebagai penular pertama. Kaum pria membawa penyakit dari hubungan pasangan yang berganti-ganti. “Penggunaan jarum suntik dan transfusi darah juga menjadi salah satu dari faktor penyebabnya,” ungkap Dewi. (gun/kus)

Sumber: http://www.radarjogja.co.id




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=6157