Pembeli Seks Tak Terjangkau Program HIV/AIDS
Tanggal: Tuesday, 06 March 2012
Topik: HIV/AIDS


Kompas, 05 Maret 2012

Jakarta - Kelompok lelaki pembeli seks kurang terperhatikan dalam program pengendalian HIV dan AIDS. Program masih fokus kepada pekerja seks, khususnya perempuan. Padahal, pertambahan ibu rumah tangga pengidap HIV tak lepas dari banyaknya lelaki pembeli seks.

Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) Nafsiah Mboi seusai Rapat Koordinasi Pencegahan HIV dan Penanggulangan AIDS di Jakarta, Jumat (2/3), mengatakan, jumlah lelaki pembeli seks di Indonesia tahun 2006 diperkirakan 3,1 juta orang. Namun, setelah diamati tempat-tempat potensial dengan lokalisasi, jumlahnya diprediksi 8 juta-10 juta orang.

Hal itu terkait kian tingginya mobilitas masyarakat, khususnya generasi muda lelaki yang berpindah lintas provinsi. Umumnya mereka bekerja di perkebunan, perikanan, konstruksi, transportasi, pertambangan, dan sektor formal, seperti aparat keamanan dan pegawai negeri.

Mereka membeli seks di lokalisasi legal/terselubung di kafe, pub, karaoke, diskotek, panti pijat, dan hotel di banyak daerah. ”Pembangunan masif membuat banyak pekerja yang bekerja di luar daerahnya tanpa diikuti keluarga sehingga rekreasinya tak sehat,” kata Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih.

Ibu rumah tangga berada pada kelompok tertinggi penderita AIDS kumulatif 2010, sebanyak 41,4 persen. Itu akan meningkatkan kasus HIV pada bayi. Data KPAN, penularan HIV mencapai 4,7 persen tahun 2011. Tahun 2006 ada 2,16 persen.

Meski jumlah lelaki pembeli seks besar, penggunaan kondom rendah. Data Surveilans Terpadu Biologis dan Perilaku 2011 pada kelompok berisiko tinggi menunjukkan, penggunaan kondom pria 14 persen. ”Target penggunaan kondom laki-laki sebesar 20 persen,” ujar Endang.

Pengetahuan dan budaya

Pengetahuan generasi muda usia 15-24 tahun tentang HIV dan AIDS, termasuk cara penularan dan pencegahannya, sangat rendah. Endang menyebut pengetahuan kelompok usia ini tahun lalu 20,6 persen. Hasil Riset Kesehatan Dasar 2010 menunjukkan, pengetahuan kelompok usia itu dengan HIV dan AIDS baru 11,4 persen. Padahal, target Tujuan Pembangunan Millenium (MDGs) 75 persen.

Asisten Deputi Program KPAN Inang Winarso, mengatakan, mendekati kaum laki-laki agar berperilaku seks aman dan bertanggung jawab—hingga tak menularkan penyakit—tak mudah. Salah satu penyebabnya, kuatnya hegemoni budaya maskulinitas yang menempatkan laki-laki di atas wanita pada banyak budaya Nusantara.

”Pandangan ini membuat laki- laki dianggap lebih berkuasa dan tak menimbulkan masalah, termasuk dalam hubungan seksual. Akibatnya, pekerja seks perempuan yang sering dituduh menjadi penyebab. Padahal, laki-laki yang menularkan kepada perempuan-perempuan lain, termasuk istri,” katanya.

Dekonstruksi budaya harus dilakukan, termasuk untuk mencegah penyebaran HIV dan AIDS. Nilai dalam masyarakat harus diubah. Laki-laki tak bisa bebas melampiaskan hasrat seksnya.

”Masalahnya, belum ada mekanisme sosial yang menghukum laki-laki tak bertanggung jawab dalam hubungan seksualnya,” kata Inang. Ia yakin laki-laki tahu manfaat menggunakan kondom, tetapi enggan menggunakan karena berbagai alasan. Untuk itu, program pengendalian HIV tak cukup hanya dengan edukasi kepada pria berisiko tinggi.

Menurut Endang, pengendalian HIV dan AIDS tak bisa hanya oleh Kementerian Kesehatan, melainkan juga perlu kerja sama dengan Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi atau Kementerian Perindustrian agar mengendalikan perilaku seks pekerja. (MZW)

Sumber: http://health.kompas.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=6162