Melindungi Anak dari AIDS
Tanggal: Tuesday, 06 March 2012
Topik: Narkoba


Suara Merdeka, 05 Maret 2012

HUMAN immunodeficiency virus yang memperlemah kekebalan tubuh manusia bukan lagi hal baru di Indonesia. Virus ini secara progresif menghancurkan sel-sel darah putih dan menyebabkan acquired immune deficiency syndrome (AIDS), penyakit fatal yang merupakan stadium lanjut dari infeksi HIV.

Sejak kali pertama ditemukan kasus HIV di Indonesia tahun 1987, hingga angka infeksi virus itu kini terus menunjukkan peningkatan signifikan. Data terakhir Kemenkes, hingga September 2011 di Indonesia ditemukan 15.598 kasus infeksi HIV, adapun data AIDS pada periode yang sama tercatat 1.805 kasus.

Data itu bukanlah angka kecil mengingat HIV/AIDS merupakan penyakit menular yang mematikan bagi penderitanya. Lebih memprihatinkan lagi ketika diketahui bahwa kelompok pekerjaan terbanyak ada pada kelompok pekerjaan ibu rumah tangga (IRT). Tulisan ini secara singkat hendak mengkaji mengenai AIDS pada kelompok ini.

Data tahun 2011 menunjukkan dari 1.805 kasus AIDS, 288 diantaranya adalah ibu rumah tangga, disusul oleh kelompok pekerjaan wiraswasta dengan 250 kasus. Ini cukup mencengangkan mengingat pada tahun yakni 2010, kelompok pekerjaan terbanyak dalam kasus AIDS adalah wiraswasta. Seorang ibu yang sudah terinfeksi sudah pasti memiliki virus itu dalam tubuhnya. Dia sangat berisiko menularkan virus kepada anaknya, baik ketika mengandung maupun menyusui.

Data Kemenkes menyebutkan 60 kasus AIDS dikarenakan oleh penularan dari ibu ke anak. Penularan infeksi dari ibu ke anak bahkan merupakan penyebab utama infeksi pada anak usia di bawah 15 tahun. Penularan terhadap bayi bisa terjadi selama kehamilan, persalinan, atau setelah persalinan melalui ASI. Angka kejadian penularan dari ibu ke anak diperkirakan 20-30%. Penularan HIV dari ke janin bila tanpa dilakukan intervensi dilaporkan berkisar 15-45%.

Sosialisasi Intensif

Pemerintah selama ini mencegah transmisi vertikal dari ibu ke bayi melalui pemberian terapi antiretroviral (ARV), obat yang dapat menekan laju pertumbuhan virus HIV dalam tubuh, kepada ibu hamil. Obat ini dapat diperoleh seacara cuma-cuma di klinik voluntary counseling and testing pada rumah sakit atau puskesmas. Tujuannya untuk meningkatkan jumlah CD4 atau kekebalan tubuh si ibu, karena pada dasarnya bayi dan ibu dipisahkan oleh plasenta yang melindungi bayi dari virus HIV yang ada di dalam tubuh si ibu. Tetapi bila kekebalan tubuh ibu menurun maka plasenta tersebut tidak dapat cukup melindungi bayi tidak terpapar virus HIV dari ibu. Di sinilah pentingnya terapi ARV pada ibu hamil.

Hal lain yang dilakukan oleh pemerintah adalah dengan membantu proses kelahiran secara caesar. Ini dilakukan karena penularan HIV dari ibu ke bayi juga dapat terjadi pada proses persalinan di mana terjadi kontak antara darah ibu, maupun lendir ibu dan bayi yang mengakibatkan HIV masuk kedalam tubuh bayi. Proses kelahiran caesar dimaksudkan untuk mengurangi risiko bayi tertular HIV dari cairan tubuh ibu. Ibu yang tidak memiliki biaya untuk caesar dapat diikutkan program jaminan persalinan (jampersal) untuk persalinan berisiko bagi ibu tidak mampu. Dengan syarat dan ketentuan yang mudah sehingga ibu dapat melahirkan secara caesar dengan tanpa biaya.

Berbagai program itu bisa mengurangi jumlah anak yang tertular HIV/ AIDS dari ibu, dan juga tidak sulit mengakses program tersebut. Namun kurangnya sosialisasi dan kurangnya kesadaran ibu (yang merasa berisiko) memeriksakan diri sedini mungkin ke klinik VCT menjadi hambatan keberhasilan program tersebut. Karenanya menjadi penting untuk lebih mengintensifkan sosialisasi guna memberikan pengetahuan sedini mungkin tentang HIV/ AIDS kepada seluruh kelompok masyarakat. (10)

Sumber: http://www.suaramerdeka.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=6165