Haryono: Mahasiswa Harus Mempunyai Kemampuan Berkomunikasi
Tanggal: Wednesday, 07 March 2012
Topik: Narkoba


Suara Karya, 07 Maret 2012

JAKARTA: Sebagai calon pemimpin masa depan, mahasiswa harus mampu mengurus manusia. Untuk itu, harus ada pembekalan, agar mahasiswa mempunyai kemampuan berkomunikasi dengan masyarakat.

Demikian dikemukakan Ketua Yayasan Damandiri Prof Dr Haryono Suyono ketika memberi kuliah umum di depan sedikitnya 300 mahasiswa pascasarjana Universitas Muhammadiyah Hamka (Uhamka), di Jakarta, akhir pekan lalu.

Dikatakan lebih lanjut, dengan kemampuan berkomunikasi yang dimilikinya, para mahasiswa mempunyai peluang untuk mendekat kepada masyarakat. Dengan demikian, sebagai calon pemimpin, mahasiswa bisa mengetahui apa yang dibutuhkan masyarakatnya.

Pada saat ini, menurut Haryono, perubahan yang terjadi di masyarakat begitu cepat dan drastis. Perubahan drastis itu terjadi hampir di seluruh bidang kehidupan. "Para mahasiswa harus siap menghadapi perubahan yang cepat ini," ujarnya.

Agar bisa berkomunikasi dengan masyarakat, pihak perguruan tinggi, menurut mantan Kepala BK KBN itu, bisa memberikan kemampuan itu lewat program pengabdian terhadap masyarakat. "Itu bisa direalisasikan melalui program kuliah kerja nyata (KKN) tematik posdaya," ujarnya.

Dengan KKN tematik posdaya, para mahasiswa bisa langsung ikut memberdayakan dengan cara membentuk kelompok-kelompok posdaya di masyarakat. Pembentukan kelompok posdaya dimaksudkan untuk mempermudah para mahasiswa membuat peta keluarga miskin di tempat dirinya melakukan KKN. Keluarga miskin itulah yang harus diberdayakan melalui pelatihan dan jaminan pekerjaan.

"Yang perlu diingat, yang harus menjadi sasaran utama adalah keluarga miskin yang masih muda," ujar mantan Menko Kesra dan Taskin tersebut.

Upaya pembentukan posdaya juga dimaksudkan agar bisa diketahui berapa banyak anak usia sekolah di kelompok itu yang masih belum bersekolah. Posdaya juga bisa dimanfaatkan untuk mengatasi persoalan kesetaraan gender.

Caranya, menurut dia, dalam posdaya bisa dibentuk pramuka desa yang anggotanya terdiri dari anak laki-laki dan perempuan.

"Jadi, kesetaraan gender harus sudah dikenalkan sejak dini. Bahwa laki-laki dan perempuan mempunyai hak yang sama dalam pendidikan," tuturnya.

Melalui posdaya, juga bisa dilakukan upaya penggalakan kembali posyandu, terutama yang terkait dengan masalah pelayanan keluarga berencana (KB) serta penanganan masalah kematian anak.

Selanjutnya, menurut Haryono, posdaya juga bisa dimanfaatkan untuk menanggulangi masalah HIV-AIDS serta pemanfaatan lingkungan secara positif.

Yang paling penting, menurut dia, yang harus menjadi tolok ukur kebehasilan posdaya adalah banyaknya partisipasi masyarakat yang turut menjadi anggota. "Jadi, tidak hanya sekadar maju atau tidaknya posdaya tersebut. Sebab, yang menjadi pedomannya adalah capaian millennium development goals (MDGs)," kata dia. (Budi Seno)

Sumber: http://www.suarakarya-online.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=6180