Kasus HIV/AIDS, Denpasar Tertinggi Faktor Penyebab Didominasi Heteroseksual
Tanggal: Thursday, 08 March 2012
Topik: HIV/AIDS


Bali Post, 07 Maret 2012

Sejak ditemukannya kasus HIV/AIDS di Bali tahun 1987 lalu, ternyata Denpasar menempati posisi tertinggi. Berdasarkan data, jumlah kasus HIV/AIDS di Denpasar mencapai 1.141 kasus, disusul Buleleng dengan 586 kasus dan Badung 394 kasus. Dari kasus HIV/AIDS yang ada, faktor penyebabnya didominasi hubungan seksual, terutama dengan berganti-ganti pasangan (heteroseksual).

FENOMENA gunung es dalam kasus HIV/AIDS tampaknya menjadi kenyataan. Selama ini, kasus-kasus yang mencuat ke permukaan hanya sedikit dan cenderung ditimpakan ke para pekerja seks komersial (PSK) dan pelanggannya, para lelaki hidung belang. Namun, sejalan bergesernya gaya hidup masyarakat, utamanya generasi muda, ke arah gaya hidup bebas -- termasuk seks bebas, bongkahan besar dasar gunung es itu pun terkuak dan menyembul ke permukaan menjadi bencana dahsyat. Kini penyakit mematikan itu mulai ditemukan pada hampir semua lapisan masyarakat, bahkan sampai ke pelosok pedesaan. Yang lebih miris lagi, kasus HIV/AIDS kini juga ditemukan pada anak usia di bawah lima tahun (balita).

Kenapa hal itu bisa terjadi? Jawabannya, karena gaya hidup bebas, utamanya seks bebas tadi. Sudah bukan rahasia umum lagi, kini di masyarakat banyak yang melakukan hubungan seks dengan berganti-ganti pasangan. Perilaku ini tidak hanya menebar bencana pada banyak pasangan itu, namun juga makhluk tanpa dosa -- balita tadi -- akibat orangtua mereka yang telah melakoni heteroseksual. Bahkan, kadang karena hal kecil dan sepele semacam tato. Bukan hanya tato tubuh yang telah berkembang utamanya pada kaum laki-laki, tetapi sekarang kaum wanita banyak yang mempercantik penampilan dengan tato alis. Siapa menjamin alat yang digunakan di tempat tato dan salon kecantikan itu benar-benar steril?

Kenyataan ini pula terungkap dalam konsultatif forum SKPD di Lingkungan Pemkot Denpasar, Selasa (6/3) kemarin. Dalam kesempatan itu, Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Bali menyebutkan, kumulatif kasus AIDS setiap tahun di Pulau Dewata meningkat signifikan. ''Pada tahun 2010, warga yang terjangkit 4.210 orang, sedangkan akhir 2011 yang terjangkit 5.222 orang,'' kata anggota KPAD Provinsi Bali, Ketut Sukanata.

Ia menyebutkan kasus HIV/AIDS di Bali berdasarkan umur, yakni usia produktif 20-29 tahun 1.197 orang, umur 30-39 tahun 969 orang, usia 40-59 tahun 333 orang. Ironisnya, usia satu tahun ke bawah sudah ada 19 kasus HIV/AIDS.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Denpasar dr. Luh Putu Sri Armini menyebutkan, tahun 2009 prevalensi HIV pada ibu hamil tercatat 257 orang pada bidan praktik swasta, dan yang tertular HIV 3 orang. Tahun 2010, kata dia, semua bidan yang dilatih di Kota Denpasar dan Kabupaten Badung diminta merujuk semua ibu hamil yang datang ke tempat praktiknya untuk tes HIV di klinik VCT. ''Dari 400 orang ibu hamil yang memeriksakan kehamilannya di bidan praktik swasta, ternyata setelah dirujuk ke klinik VCT, yang positif terjangkit HIV empat orang,'' katanya.

Oleh karena itu, instansi terkait dan LSM peduli AIDS diminta terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat mengenai bahaya dari penyakit mematikan ini. Hingga saat ini, penyakit AIDS belum ditemukan obatnya. Upaya yang dilakukan untuk mencegah menyebarnya kasus ini, dengan melibatkan generasi muda. Mereka membentuk kelompok kerja (pokja) baik di sekolah maupun di lingkungan masyarakat. Bahkan, saat ini hampir semua sekolah di tingkat SMA/SMK di Denpasar telah membentuk pokja tersebut dalam upaya menyosialisasikan pencegahan penyakit itu. (ara)

Sumber: http://www.balipost.co.id




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=6181