Sammy Sempat Takut Hadapi Pengidap HIV/AIDS
Tanggal: Friday, 09 March 2012
Topik: HIV/AIDS


Tribun, 09 Maret 2012

DUNIA transportasi Indonesia gawat darurat. Kecelakaan beruntun menimpa angkutan darat dan udara. Kasus fenomenal seperti tabrakan maut di kawasan Tugu Tani Jakarta menewaskan 9 pejalan, bus menyeruduk kendaraan lainnya di Puncak, Bogor, menewaskan 14 orang. Pengemudi kedua mobil itu positif mengonsumsi narkoba. Pada angkutan udara, Badan Narkotika Nasional menangkap empat pilot penerbangan komersial karena menggunakan narkoba.

Bertolak dari kejadian-kejadian itu, Tribunnews membuat tulisan bersambung hasil pengamatan dan 'mondok' bersama para pecandu narkoba yang sedang menjalani perawatan di Unit Pelaksana Teknis Terapi dan Rehabilitasi Badan Narkotika Nasional (UPTTR BNN) Lido, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pekan lalu. Berikut laporan wartawan Tribun Network, Ferdinan Waskita dan Domu D Ambarita.

Tengah hari. Siang tidak begitu terik, sinar mentari terhalang embun. Suasana alami terasa kental di kasawan perbuktian Lido, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Udara sejuk, tepatnya dingin, dengan latar belakang Gunung Salak di sebelah utara. Gedung-gedung dengan arsitek perkantoran tampak megah di atas lahan terhampar 11 hekatare lebih.

Bangunan masih relatif baru yang jauh dari kesan rumah tahanan atau penjara atau lembaga pemasyarakat, maupun rumah sakit. Bersih, tidak kumuh. Juga jauh dari kesan Itulah kesan yang tertangkap pusat rehabilitasi Badan Narkotika Nasional (BNN) Lido, yang terletak di Jalan Mayjen HR Edi Sukma, Km 21, Desa Wates Jaya, perbatasan Kabupaten Bogor - Sukabumi.

Pusat reahabilitasi BNN ini mulai difungsikan 2007. Menurut Teknis Terapi dan Rehabilitasi Badan Narkotika Nasional (UPTTR BNN) Lido Yunis Farida Oktoristiana, kapasitas mencapai 500 orang. Hingga Jumat siang, ada 381 residen, sebutan untuk pecandu narkoba atau pasien yang menjalani rehabilitasi. Jumlah ini berubah-ubah, kadang pagi ada yang masuk, kadang ada yang keluar

Yang membuat bulu berdiri, Yunis mengatakan, dari sejumlah 381 itu, ada 41 persen, atau lebih kurang 150 orang penderita HIV/AIDS. Mereka hidup bersama, membaur dengan residen lainnya, tanpa kecanggungan dan kekhawatiran karena telah diberitahu cara-cara pencegahan penulaaran.

Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) adalah sekumpulan gejala dan infeksi atau sindrom) timbul karena kerusakan sistem kekebalan tubuh manusia akibat infeksi virus bernama Human Immunodeficiency Virus (HIV), yaitu virus yang memperlemah kekebalan tubuh manusia. Penderita HIV/AIDS masih bisa bertahan hidup 5-10 tahun, tergantung perilaku dan pola kesehatan.

Pengguna narkoba, berisiko tinggi tertular HIV/AIDS, karena beberapa hal, yakni pola pernggun narkoba menggunakan jarum suntik. Bila seorang di antara sekumpulan pecandu tertular, sedangkan anggota kumpulan bergantian menggunakan suntik yang sama memasukkan narkoba ke dalam tubuh, jarum itulah media penularan.

Risiko lainnya, pengguna narkoba, cenderung hidup seks bebas atau berganti pasangan. Hubungan seks tidak sehat ini pun menimbulkan risiko penularan penyakit, HIV/AIDS. Cara penularan lainnya bisa lewat tranfusi darah.

Mantan vokalis Band Kerispatih Sammy, salah satu residen sebutan untuk pasien yang menjalani terapi dan rehabiltiasi di BNN Lido, termasuk orang yang keras menolak digabungkan dengan residen lainnya dengan alasan takut tertular HIV/AIDS.

Sammy, pemilik nama lengkap Hendra Samuel Simorangkir itu diciduk petugas di sebuah kamar kost kawasan Pedurenan Sawir Setiabudi, Jakarta Pusat, 2 Februari 2010. Saat ditangkap, polisi menemukan paket sabu-sabu beserta alat hisap. Pengadilan Negeri Jakarta Pusat memvonis satu tahun penjara pada 15 Juli 2010. Sammy kemudian dirujuk ke Pusat Rehabilitasi Narkoba BNN, Lido agar terlepas dari barang haram itu.

Kepala Unit Terapi dan Rehabilitasi BNN Yunis Farida Oktoris Triatna mengatakan awalnya Sammy menolak mengikuti program di tempat tersebut. Ia juga menginginkan perlakuan khusus di Pusat Rehabilitasi BNN.

"Pertama kali datang ke sini ada penolakan dari Sammy. Ibunya juga menghubungi saya minta kamar khusus dipisahkan dari pecandu lainnya," kata Yunis.

Namun, petugas terus memberikan informasi kepada pria yang lahir 8 September 1982 bahwa HIV/AIDS tidak berbahaya bila tidak berhubungan badan atau pemakaian jarum suntik. Sammy juga diajarkan kehidupan di pusat rehabilitasi seperti layaknya keluarga besar yang tak membedakan seorang dengan yang lain.

Akhirnya, Sammy tinggal bersama sekitar 300 residen lainnya di tempat itu dan mulai menjalani program tersebut. "Ia tahu hidup ini masih berharga," kata Yunis. Bahkan belakangan, Sammy turut mendukung gerakan after care, semacam pelayanan eks residen yang rutin membuat kegiatan membantu keluarga

Ciko mengatakan hal serupa Yunis. Awalnya, Sammy, belum dapat menanggalkan nama besarnya di dunia musik bersama Kerispatih saat pertama kali datang ke Pusat Rehabilitasi BNN. Sammy bahkan ingin membawa alat-alat kebutuhan sehari-hari serta telepon seluler. Ciko menduga Sammy ingin berbuat seperti yang dilakukannya selama di rumah tahanan.

"Kesan yang saya terima, ia masih menggunakan nama besar Kerispatih. Dia langsung bereaksi ketika telepon selulernya saya minta. Lalu ingin membawa peralatan sendiri. Dia enggak mau mendengarkan penjelasan kita," kata Ciko yang juga mantan residen di Pusat Rehabilitasi BNN.

Setelah pihak BNN Lido menjelaskan, tidak akan terjadi seks bebas di kalangan residen, disususl penjelasan lainnya, Sammy akhirnya bersedia bergabung. Dr Danu Cahyono, dokter umum dan Penanggungjawab Entry Unit BNN Lido, terhadap penderita atau orang dengan HIV/AIDS, tidak perlu takut asal dapat menghindari kontak badan.

"HIV AIDS tidak menular kecuali hubungan seks bebas dan ganti-gantian jarum suntik," kata Danu.

Danu melanjutkan, BNN Lido menerapkan pengobatan sistem putus langsung obat-obatan kepada pecandu. Begitu residen masuk, merek langsung masuk fase detoksifikasi. Selama dua pekan, para pencandu akan diputus dari narkoba. Kalaupun dia sakaw atau withdrawal, hanya gejala traumatisnya yang dibati misalnya, demam, sakit atau emosi memuncak. "Sedangkan obat, termasuk obat subsitusi yang diizinkan PBB, metadon, kami tidak beri," ujarnya.

Yuni menandaskan, "Bagaimana mau seks bebas, itu kan dilarang." Dia menyebut, ada selogan dan prinsip di BNN Lido yang tidak boleh dilanggar yakni: dilarang menggunakan narkoba (no drug), dilarang ngeseks bebas (no sex), dilarang melakukan kekerasan (no violence), dilarang corat-coret dinding (no vandalism), dan dilarang mencuri (no stealing). (tribunnews.com/ferdinan waskita/domu d ambarita).

Sumber: http://www.tribunnews.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=6193