TB, Penyakit Lama yang Tak Kunjung Sirna
Tanggal: Monday, 12 March 2012
Topik: Narkoba


Okezone.com, 12 Maret 2012

PENYAKIT Tuberculosis (TB) sudah dikenal manusia sejak zaman Firaun ribuan tahun lalu. Namun hingga kini, seiring kemajuan peradaban, perkembangan informasi dan tekonologi, penyakit ini masih juga menjadi pembunuh nomor dua di dunia setelah HIV/AIDS. Apa pasal?

“Saya mengharapkan pemerintah aware. Penyakit TB ini ada sejak zaman Firaun. Tapi masih bergelut juga kita sekarang. Juara lagi. Dulu nomor tiga, turun lima, sekarang naik lagi empat,” tutur dokter Arifin Nawas ditemui di salah satu ruangan Rumah Sakit Persahabatan, Rawamangun, Jakarta, 8 Maret lalu.

Afirin menjelaskan, bahwa jumlah penderita Tuberculosis (TB) Indonesia menempati peringkat ketiga terbanyak di dunia setelah India dan China sejak 1995 sampai 2007. Pada 2008, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menepatkan Indonesia pada peringkat kelima setelah India, China, Afrika Selatan, dan Nigeria. Namun, peringkat tersebut kembali naik pada posisi keempat pada 2010 setelah India, China, dan Afrika Selatan. Jumlah kasus TB yang ditemukan di Indonesia pada 2010 berdasarkan laporan WHO 2011 sebanyak 302.861 orang.

Meski penyakit TB sudah ada sejak ribuan tahun lalu, Arifin menjelaskan bahwa nyatanya sampai saat ini belum ada negara yang bebas dari TB. Pada 1993, WHO memperkirakan terdapat tujuh sampai delapan juta kasus, dimana 1,3 juta sampai 1,6 juta di antaranya berakhir dengan kematian. Pada 2010, diperkirakan ada 8,5 juta sampai 9,2 juta kasus dengan tingkat kematian mencapai 1,2 juta hingga 1,5 juta, termasuk kasus TB pada penderita HIV. Tuberculosis adalah pembunuh nomor dua setelah HIV yang pada 2008 menyebabkan 1,8 juta kematian. Akibat TB juga, menurut WHO, pada 2009 terdapat 9,7 juta anak kehilangan salah satu orangtua mereka, termasuk kasus TB pada penderita HIV.

Tuberculosis adalah penyakit menular yang disebabkan oleh Mycrobacterium tuberculosis, yang pintu masuknya adalah saluran pernafasan. Namun, selain bisa menyerang paru, TB juga bisa mengenai organ di luar paru, seperti tulang, otak, ginjal, dan lainnya. Dalam banyak kasus, TB merupakan penanda atau paling banyak ditemui di daerah pemukiman kumuh dengan ventilasi buruk, serta penduduk yang miskin dan gizi buruk. Tak heran, penyakit ini paling banyak ditemui di negara-negara berkembang di Asia dan Afrika. Rata-rata yang terserang justru anak dan golongan usia 15 hingga 55 tahun, usia produktif yang sebenarnya sangat penting bagi penopang pertumbuhan ekonomi negara-negara berkembang.

Tuberculosis menyiksa penderitanya dengan gejala awal batuk hebat dan keringat pada malam hari selama tiga minggu hingga sebulan, sesak napas, nyeri dada, dan kadang juga batuk bercampur darah. Gejala terakhir ini adala simbol TB yang kerap kali juga digunakan oleh industri perfilman. Ketika seorang penderia bersin, batuk atau meludah, dia menyebarkan bakteri TB ke udara. Mereka yang daya tahan tubuhnya tinggi, tidak akan sakit meski terpapar kuman TB, karena sistem imun tubuh bisa mengunci bakteri sehingga tak bisa menyebar atau menyebabkan infeksi. Bakteri ini disebut dormant. Namun ketika daya tahan tubuh menurun, misalnya akibat diabetes atau kekurangan gizi, bakteri dormant bisa aktif dan menyerang organ-organ tubuh.

“Itulah sebabnya orang yang kena HIV rentan sekali kena TB,” jelas dokter Arifin. “Apabila penderita HIV menderita TB dan tidak diobati, ini menyebabkan kematian yang tinggi pada penderita HIV,” lanjutnya.

Berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan, Indonesia merupakan negara dengan percepatan peningkatan epidemi HIV yang tertinggi di antara negara-negara di Asia. HIV dinyatakan sebagai epidemik terkonsentrasi (a concentrated epidemic), dengan perkecualian di provinsi Papua yang prevalensi HIV-nya sudah mencapai 2,5 persen (generalized epidemic). Secara nasional, angka estimasi prevalensi HIV pada populasi dewasa adalah 0,2 persen. Sebanyak 12 provinsi dinyatakan sebagai daerah prioritas untuk intervensi HIV dan estimasi jumlah orang dengan HIV/AIDS di Indonesia, sekira 190 ribu orang hingga 400 ribu orang. Estimasi nasional prevalensi HIV pada pasien TB baru adalah 2,8 persen. “Saya mesti menggeluti secara teori dan praktiknya apa itu TB,” kata Arifin yang 26 tahun menggeluti penyakit TB.

Pengajar di Fakultas Kedokteran sekaligus Kepala Divisi Infeksi Laboratorium Universitas Indonesia ini menjelaskan, infeksi TB menyebabkan kerusakan permanen pada organ tubuh seperti paru. Paru yang terinfeksi TB seperti digerogoti sampai tak bisa berfungsi sehingga penderita kerap sesak napas. Jaringan yang digerogoti inilah yang biasanya menjadi salah satu patokan untuk mendiagnosa TB tatkala paru seorang pasien dirontgen. Dalam hasil rontgen akan terlihat jaringan rusak berupa bintik putih, sedangkan paru normal yang mengandung oksigen berwarna hitam. Itulah penyebabnya pada orang yang pernah kena TB, timbul gejala sesak napas, tidak kuat jalan jauh, dan sebagainya karena volume paru-parunya berkurang.

Walau tak berani menyimpulkan penyakit TB paling banyak timbul di daerah miskin, dokter Arifin tak membantah bahwa faktanya memang demikian. Kemakmuran penduduk tak bisa dilepaskan dari upaya memberantas TB. Dengan kata lain, keberhasilan program pemberantasan TB juga berkaitan erat dengan hasil kebijakan peningkatan kesejahteraan masyarakat seperti terjadi di Eropa dan Amerika pada abad 19 sampai 20. Seiring dengan peningkatan kesejahteraan warganya, kasus TB berangsur-angsur terus mengecil di kedua kawasan tersebut.

“Contohnya begini, kalau misalnya orang dengan gizi bagus, badan sehat, tentu daya tahan tubuhnya baik. Tapi kalau orang dengan daya tahan tubuh tidak baik, gizi buruk, AIDS lagi, lebih mudah dia terkena,” katanya.

Dia mencontohkan, rumah-rumah tanpa ventilasi memadai seperti banyak ditemui di Papua dan Nusa Tenggara Timur atau lembaga pemasyarakatan yang melebihi kapasitas di kota-kota besar, termasuk Jakarta.

“Sudah pasti tingkat penularan TB-nya tinggi dibandingkan dengan rumah yang jendelanya banyak. Sebab kita di Indonesia ini bersyukur tidak ada empat musim. Matahari (bersinar) sepanjang tahun, sinar matahari mengandung ultraviolet, begitu kena ultraviolet kumannya mati,” katanya.

Hal senada pernah diungkapkan Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Tjandra Yoga Aditama pada acara temu media di Kantor Kementerian Kesehatan, 18 Februari lalu.

“TB sangat erat dengan program pengentasan kemiskinan. Orang yang miskin akan menyebabkan kekurangan gizi dan penurunan daya tahan tubuh sehingga rentan tertular dan sakit TB, begitu sebaliknya orang terkena TB akan mengurangi pendapatannya,” katanya.

Meski demikian, bukan berarti negara-negara kaya macam Eropa dan Amerika tak memiliki kasus TB. Dalam era keterbukaan sekarang ini, dunia seakan tanpa batas, orang bisa berpindah dari satu negara ke negara lain dalam waktu sekejap. Seorang imigran yang terinfeksi TB bisa saja menularkan penyakitnya di negara-negara maju yang sistem pengawasannya tidak ketat.

Meski bukan tergolong penyakit langka, belum semua masyarakat Indonesia memahami gejala dan cara perawatan TB. Hasil survei prevalensi TB pada 2004 yang dikutip dari laporan Kementerian Kesehatan, menunjukkan bahwa 96 persen keluarga merawat anggota keluarga yang menderita TB dan hanya 13 persen yang menyembunyikan keberadaan mereka. Meskipun 76 persen keluarga pernah mendengar tentang TB dan 85 persen mengetahui bahwa TB dapat disembuhkan, akan tetapi hanya 26 persen yang dapat menyebutkan dua tanda dan gejala utama TB. Cara penularan TB dipahami oleh 51 persen keluarga dan hanya 19 persen yang mengetahui bahwa tersedia obat TB gratis.

Mitos yang terkait dengan penularan TB juga masih dijumpai di masyarakat. Sebagai contoh, studi mengenai perjalanan pasien TB dalam mencari pelayanan di Yogyakarta telah mengidentifikasi berbagai penyebab TB yang tidak infeksius, misalnya merokok, alkohol, stres, kelelahan, makanan gorengan, tidur di lantai, dan tidur larut malam. (tty)

Sumber: http://health.okezone.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=6210