Di Tabanan 17 Bayi Tertular HIV/AIDS
Tanggal: Monday, 12 March 2012
Topik: HIV/AIDS


Bali Post, 12 Maret 2012

Tabanan - Kasus penyebaran HIV/AIDS di Tabanan makin memprihatinkan. Sebanyak 17 bayi sudah tertular penyakit mematikan tersebut. Yang mengejutkan, mereka tertular dari ibunya sejak lahir. Parahnya lagi, selain bayi, sejumlah PNS dan mahasiswa juga terjangkit HIV/AIDS.

Kepala Dinas Kesehatan Tabanan dr. Sumiarta melalui Kabid Pencegahan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan dr. Nyoman Suratmika menjelaskan, kasus HIV/AIDS ini mulai terdeteksi sejak tahun 2008 silam. Sejak ditemukan, jumlah penderita sudah mencapai 344 orang. Dari jumlah ini, sebanyak 29 meninggal. "Sisanya masih dalam tahap pendampingan, termasuk para bayi yang sudah terjangkit," katanya, Minggu (11/3) kemarin.

Menurut Suratmika, warga Tabanan yang terjangkit HIV/AIDS ini justru ditemukan di sejumlah klinik VCT di luar daerah, salah satunya di Buleleng. Begitu juga dengan bayi yang sudah positif HIV/AIDS. Mereka tertular ibunya yang sudah lebih dulu terserang penyakit itu. "Bayi yang sudah terserang kita berikan pendampingan khusus, ada juga yang dirawat di panti," jelasnya.

Suratmika menambahkan, ditemukannya penderita bayi ini menunjukkan makin gencarnya penularan HIV/AIDS. Diduga kuat, para ibu tertular HIV/AIDS justru dari pasangan masing-masing. Sehingga, begitu mengandung, secara otomatis bayinya ikut tertular.

Sementara kalangan PNS dan mahasiswa yang tertular karena berbagai faktor. "Salah satunya, seks bebas dan penggunaan jarum suntik narkoba. Dari sekian kasus, narkoba dan seks bebas yang paling dominan," jelasnya.

Karena itu, katanya, Dinas Kesehatan Tabanan gencar melakukan sosialisasi terkait bahaya HIV/AIDS. Apalagi, kini penyebaran penyakit tersebut sudah mulai bergeser.

Dulu, kawasan Terminal Pesiapan menjadi daerah paling rawan penyebaran HIV/AIDS lantaran digunakan ajang prostitusi. Namun, seiring banyaknya razia, para pekerja seks komersial (PSK) mulai pindah ke kawasan kafe dan rumah kos. Sebab, di tempat ini dicurigai menjadi ajang transaksi seksual. Karena itu, Suratmika meminta para pengurus adat bisa ikut memproteksi menjamurnya kafe di pelosok pedesaan.

Menurutnya, pemberantasan HIV/AIDS membutuhkan komitmen bersama sejumlah pihak. "Kami bersama LSM terus gencar melakukan sosialisasi dan pendampingan warga yang berpotensi tertular HIV/AIDS," jelasnya.

Salah satu bentuk sosialisasi tersebut adalah program kondomisasi. Mereka yang rawan terjangkit HIV/AIDS diberikan kondom secara gratis. Harapannya, penyebaran penyakit ini bisa ditekan sedini mungkin. (kmb30)

Sumber: http://www.balipost.co.id




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=6211