Target Sosialisasi HIV/AIDS Baru Capai 11 Persen
Tanggal: Monday, 19 March 2012
Topik: HIV/AIDS


Berita Sore, 16 Maret 2012

MEDAN: Target Millenium Development Goals (MDGs) tahun 2012, tentang sosialisasi HIV/AIDS bagi usia 15 sampai 24 tahun, secara nasional baru mencapai 11 persen. Ini masih jauh mengingat target pada tahun 2015 harus mencapai 95 persen. “Mereka mempunyai pengetahuan komprehensif dan itu ditargetkan pada 2015 sosialisasi HIV/AIDS mencapai 95 persen secara nasional,” ujar Syafirah Hamdani, Staf pada Sekretaris Komisi Penanggungalan AIDS Nasional (KPAN), Kamis (15/3), di Medan.

Sementara dengan capaian target nasional yang baru 11 persen tersebut, Syafirah menambahkan hal itu harus dianalisis kenapa. “Apakah selama ini mungkin targetnya salah sasaran,” bebernya. Syarifah menjelaskan Responsif Gender, adalah kondisi yang memperhatikan perbedaaan kebutuhan laki-laki dan perempuan. Karena keduanya mempunyai pengalaman hidup yang berbeda sejak kecil. Perbedaan itu baik dari sosial, kebutuhan fisik dan biologis. “Kondisi responsif gender adalah yang memperhatikan kebutuhan tersebut,” paparnya.

Saat ditanyakan mengenai hubungan responsif gender dengan penanggulangan HIV. Menurut Syafirah, itu adalah dimana program yang direncanakan harus memperhatikan betul kebutuhan laki-laki dan perempuan.

“Nah ARVnya ini berbeda, jadi harus diperhatikan betul pengadaannya. Misalnya pengadaan obat ARV yang selama ini sama saja, tapi ketika dianalisis lagi ternyata perempuan punya kebutuhan yang berbeda. Karena pada usia produktif mereka ingin hamil,”ungkapnya.

Sekarang ketersediaan obat ARV untuk perempuan sudah ada. Namun dirinya tidak mengetahui angka pastinya. Maka, kalau diresponsif genderkan program sosialisasi ini, harus memperhatikan kebutuhan laki-laki dan perempuan. Dari beberapa kegiatan sosialisasi HIV disekolah, ketika dipisah antara perempuan dan laki-laki, ternyata anak perempuan lebih banyak bertanya karena hambatan psikologisnya dia malu bertanya kalau digabung.

“Ketika ini sudah bisa dipenuhi maka sebuah program bisa dikatakan responsif gender. Begitu juga laki-laki lebih banyak bertanya. Nah,metode sosialisasi ini ditemukan melalui analisis responsif gender,” ujarnya.

Tentang peran perempuan dalam responsif gender, Syafirah mencontohkan ketika kita sedang mengembangkan program penanggulangan laki-laki beresiko tinggi atau pencegahan melalui transmisi seksual (PMTS).

“Dulu,pendekatannya hanya kepada perempuan terus. Ternyata yang laki-laki kecolongan. Jadi kita programkan informasi melalui PMTS bagi laki-laki yang diidentifikasi beresiko tinggi, misalnya yang pergi bertugas, juga kelompok masyarakat mana yang beresiko,” timpalnya.

Disinggung mengenai terjadinya peningkatan resiko dari ibu ke anak, bagaimana sebenarnya program Prevention Mother to Child Transmision (pencegahan penularan dari ibu ke anak). Syafirah menyebutkan kalau itu pedomannya kemenkes. (don)

Sumber: http://beritasore.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=6244