Nyeri Kronis Serang 1 dari 5 Orang Dewasa
Tanggal: Monday, 19 March 2012
Topik: Narkoba


suarasurabaya.net, 17 MAret 2012

Nyeri kronis ternyata menjadi masalah kesehatan yang utama di dunia, terutama wilayah Asia Pasifik. Saat ini, nyeri kronis sudah menyerang satu dari lima orang dewasa di seluruh dunia. Penyakit ini bahkan diprediksi menjadi satu diantara permasalahan kesehatan paling kritis di wilayah Asia Pasifik, seiring dengan populasi yang menua dan meningkatnya prevalensi nyeri kronis.

Kurangnya kesadaran dan pemahaman masyarakat tentang rasa nyeri kronis membuatnya sering diabaikan. Padahal, nyeri kronis dapat membatasi kualitas hidup dan kesejahteraan penderitanya secara drastis serta memberikan beban berat pada sistem pelayanan kesehatan. Nyeri kronis biasanya dirasakan dalam jangka panjang.

Selain nyeri kronis, adapula nyeri akut. Munculnya nyeri akut menjadi gejala dari cedera atau penyakit. Namun, jika serangannya terjadi terus-menerus dalam jangka waktu panjang, berarti nyeri akut bisa berubah menjadi nyeri kronis. Dr Paul Chang Managing Director Joint Commission International (JCI) Asia Pasifik mengatakan pengaruh nyeri kronis diantaranya imobilitas atau ketidakmampuan untuk bekerja, gangguan tidur, isolasi diri, kecemasan, frustrasi, depresi, kurangnya nafsu makan, rentan penyakit, negatif dalam bersikap, gaya hidup dan kebiasaan serta ketergantungan pada obat dan perawatan medis jangka panjang.

Nyeri kronis juga seringkali diasosiasikan dengan kondisi lazim dari penyakit tertentu, seperti HIV/AIDS, kanker dan depresi. Mereka yang berusia lanjut juga lebih banyak mengalami nyeri seperti ruam syaraf, arthritis (nyeri sendi), nyeri punggung dan nyeri otot.

Karena itu, penanganan dan pengurangan rasa nyeri sangat penting. Menurut Chang, pengendalian rasa nyeri dapat membantu pasien untuk sembuh lebih cepat. "Selain itu juga mengurangi resiko komplikasi setelah operasi, seperti radang paru-paru dan penggumpalan darah," ujar Chang di Surabaya, Sabtu (17/3/2012).

Penanganan rasa nyeri menjadi bagian integral dalam proses akreditasi yang harus dipenuhi rumah sakit. JCI sebagai lembaga akreditasi selama ini telah bekerjasama dengan organisasi kesehatan, kementerian kesehatan di lebih dari 80 negara dunia untuk menyediakan akreditasi dan sertifikasi. Saat ini, JCI lebih berfokus untuk memberikan pemahaman dan penyadaran tentang penanganan dan protokol tata laksana rasa nyeri di rumah sakit swasta di Indonesia.(git)

Sumber: http://kelanakota.suarasurabaya.net




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=6248