PRAKTIK LEBIH SIAP ON CALL
Tanggal: Monday, 19 March 2012
Topik: Narkoba


Sumatera Ekspres, 18 Maret 2012

G Kesavan SKed dan S Nantha Kumaran SKed merupakan dua mahasiswa asal Negeri Jiran Malaysia yang menimba ilmu di Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Sriwijaya (Unsri). Praktik langsung ke lapangan membuat mereka tertarik belajar di Indonesia. Termasuk juga ketika "bedah mayat" di RSMH Palembang.

MENGENAKAN seragam putih, dua dokter muda itu, terlihat santai saat dibincangi Sumatera Ekspres, kemarin siang. “Kita masih coas, masih praktik,” ujar Kesa --sapaan G Kesavan SKed---, mahasiswa FK Unsri semester X, jurusan Pendidikan Dokter Umum (PDU) ini.

Menurut Kesa, ia bersama rekannya yang lain berada di bagian forensik sejak lima hari lalu. Tugas kuliah yang dilakukannya selama 5 minggu. “Baru temui dua mayat selama lima hari di sini,” kata anak kedua dari tiga bersaudara pasangan Govindasamy dan Puspa ini.

Ia mengaku, memilih belajar di Unsri karena ada praktiknya. “Jadi, lebih mendalam yang kita pelajari di Unsri. Jelas lebih terampil saat melaksanakan tugas sebagai dokter nantinya,” ungkap pria kelahiran Kuantan Pahang, Malaysia, 22 Oktober 1989 lalu.

Selain dianggap lebih baik, juga karena biaya lebih murah dibandingkan dengan kuliah di negerinya sendiri. “Kita pilih Unsri juga karena jaraknya tak jauh dari Malaysia. Apalagi, biayanya lebih murah dibandingkan dengan negara lain,” ungkapnya seraya mengatakan dari Kuala Lumpur ke tempat tinggalnya sekitar 3 jam.

Ia sendiri masuk Unsri sejak 2007 lalu. Memilih jurusan kedokteran karena keinginan sendiri dan orang tua. "Ya, karena saya juga mau meningkatkan kemampuan di bidang ini. Keluarga belum ada yang jadi dokter, makanya saya pilih profesi ini dan mendapat dorongan orang tua.”

Dalam praktek coas ini, sejumlah skill dan keterampilan diajarkan. Seperti pembedahan yang benar, analisa sehingga menyebabkan kematian seseorang dan lainnya. Menurut dia, melihat isi tubuh manusia tersebut sudah biasa. Sebab, sebelum praktek di kamar mayat, pihaknya sudah masuk di obgin, kulit kelamin, saraf, THT, anak, jiwa dan lain-lain. “Kita sudah lihat operasi tubuh, jadi biasa saja dengan mayat ataupun isi tubuhnya. Termasuk juga kalau ada mayat busuk, nggak takut ataupun jijik,” bebernya.

Ia mengaku, dalam pembedahan yang dilakukan menggunakan alat pengaman, seperti sarung tangan, masker dan lainnya. “Nggak perlu khawatir lagi kalau ada mayat terinfeksi HIV/AIDS.” Sementara rekan se-negaranya Nantha---sapaan akrab S Nantha Kumaran SKed---mengungkapkan, awalnya memilih Universitas Sumatera Utara (USU) sebagai tempatnya kuliah. Namun, setelah dipikirkan, ia lebih memilih Unsri. “Karena di Unsri pelajarannya dengan bahasa internasional, sedangkan di USU pakai bahasa Indonesia. Kalau awalnya ‘kan masih belum lancar, meski sama-sama Melayu,” ungkapnya.

Ia tak memilih negara lain atau di negerinya sendiri belajar ilmu kedokteran karena berkaitan dengan jarak. “Kalau Palembang dengan Malaysia ‘kan dekat, bisa sekali terbang saja,” ungkapnya. Di pilihnya Unsri sebagai tempat belajar dibandingkan negeri dan negara lain karena biayanya lebih murah.

“Kalau di Malaysia biayanya bisa dua kali lipat lebih mahal. Apalagi, kuotanya sedikit, jadi susah masuk,” ujar pria kelahiran Perak Malaysia, 24 Juli 1988 lalu. Ia mengaku, memilih kedokteran karena ingin dijadikan profesi yang dapat meningkatkan nilai diri sendiri.

“Sambil kerja, kita bisa menolong orang. Perasaaan kita juga senang, karena berpahala,” ungkap putra dari K Santrian dan S Chandra Devi ini. Menurutnya, bisa membedah mayat atas permintaan penyidik kepolisian, suatu kebanggaan. Rasa penasaran bisa terungkap setelah diperiksa hasil autopsi. “Jadi bisa tahu penyebab. Apalagi, rasa penasaran saya tinggi,” ungkap Nantha.

Dalam praktik coasnya selama 4 minggu ke depan, pihaknya siap on call. Baik siang, malam atau pun tengah hari. “Kita harus siap praktek coas ini kalau ada telepon. Misalnya mayat masuk, kita pasti dihubungi, termasuk saat tengah malam, kita juga harus siap,” bebernya.

Diakuinya, meski tengah hari melaksanakan tugas praktek coas, ia merasa tidak takut. Menurutnya, niat mereka datang ke kamar mayat bukan karena hal-hal yang negatif. “Tapi, niat kita bagus. Ingin mengungkap penyebab kematian seseorang.” Ia menjelaskan, pemeriksaan dalam yang dilakukan, yakni mulai dari kepala sampai ujung kaki. Bagian kepala dibuka untuk melihat otaknya. Kemudian jika pemeriksaan dalam tubuh mulai dari dagu sampai bawah pusar di belah. “Kita bisa melihat isi dadanya, paru-paru, hati, usus dan lainnya. Setelah diperiksa, baru ketahuan apa penyebab kematian,” tandasnya. (rei)

Sumber: http://sumeks.co.id




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=6254