Cegah Anak-anak Kecanduan Lem
Tanggal: Tuesday, 20 March 2012
Topik: Narkoba


Harian Equator, 19 Maret 2012

Pontianak - Kasus adiksi inhalansia atau yang biasa disebut dengan ngelem yang dilakukan pelajar dan anak tidak sekolah marak di beberapa kecamatan yang ada di Kota Pontianak.

Meski belum diketahui berapa persentase anak-anak korban adiksi ngelem, namun Sekretaris Penanggung Jawab Program Komisi Penanggulangan HIV/AIDS (KPA) Kota Pontianak Lusi Nurianti menyatakan Kecamatan Pontianak Barat dan Timur merupakan daerah terbanyak anak dalam ketergantungan lem. Bahkan menjadi prioritas KPA mengurangi dan memberantas anak kecanduan mengisap lem tersebut.

“Kami belum dapat menyatakan berapa besaran persentasenya. Karena kami masih mendata hal tersebut. Tetapi Kecamatan Pontianak Barat dan Timur merupakan daerah banyak ditemukan anak-anak ketergantungan lem,” ungkap Lusi kepada wartawan di kantor Wali Kota Pontianak belum lama ini.

Untuk pemetaan sendiri, diakui Lusi, Kecamatan Pontianak Barat merupakan daerah tinggi pengguna lem di Kota Pontianak. Disusul Kecamatan Pontianak Timur dan masih ada beberapa daerah lain, juga ditemukan anak-anak yang adiksi terhadap lem.

“Kalau untuk Pontianak Barat merupakan daerah Texas dengan pengguna lem terbanyak. Sedangkan Pontianak Timur, ditemukan di beberapa tempat, juga terdapat pengguna lem oleh anak-anak sekolah dan mereka yang tidak sekolah. Namun datanya masih akan kita lengkapi lagi,” tutur Lusi.

Parahnya lagi, mereka yang mengenyam pendidikan di tingkat SD sudah ada yang kecanduan lem, hingga anak-anak berusia remaja. Dengan adanya temuan tersebut, Lusi menjelaskan, inisiasi yang akan dilakukan KPA, memberikan rehabilitasi terhadap anak-anak yang kecanduan inhalansia yang ditemukan KPA Kota Pontianak.

“Belum lama ini kami melakukan pertemuan dengan Ketua Harian KPA Bapak Wakil Wali Kota Pontianak Paryadi. Ini merupakan upaya kami mencegah anak-anak yang adiksi ngelem tersebut tertularnya penyakit HIV/AIDS,” jelasnya.

Penanggulangan pencegahan terhadap anak-anak yang adiksi dengan lem, dikhawatirkan akan beralih kepada barang-barang seperti heroin, ganja yang akan menyebabkan mereka tertular penyakit HIV/AIDS. Melalui adiksi ngelem ini sendiri merupakan pintu masuk tertularnya HIV/AIDS. Karena untuk penggunaan jarum suntik yang dilakukan anak-anak tersebut sekitar 29 kasus sudah ditemukan. Sementara di Kampung Dalam dan Soedarso sendiri sekitar 123 anak sudah aktif terdaftar oleh KPA dan sudah dalam masa rehabilitasi. “Ini yang kami usahakan agar mereka tidak tertular HIV/AIDS,” paparnya.

Pada 2012 sendiri, beberapa kegiatan dilakukan pihak KPA. Salah satunya melakukan pertemuan dengan KPAID, Pemberdayaan Perempuan dan Anak, serta Wakil Wali Kota dan beberapa pihak terkait, sekaligus menentukan bentuk rehabilitasi yang cocok untuk anak-anak teradiksi lem.

“Kami masih akan melakukan pertemuan terkait pencegahan makin banyaknya anak teradiksi dengan lem ini,” jelas Lusi.

Inhalansia lainnya, salah satunya dilakukan melalui uap bensin, thinner, cat kuku, lem mempunyai bau yang sangat menyengat. Bau tersebut mempunyai dampak yang bahaya bagi tubuh manusia, yaitu kecanduan bahkan sampai kematian.

Inhalansia banyak terdapat pada berbagai barang keperluan rumah tangga, kantor, dan sebagai pelumas mesin. Merupakan suatu gas yang dihirup dari solven (zat pelarut) yang merupakan senyawa organik seperti hidrokarbon aliphatic, keton, haloalkana, dan nitrit. Zat-zat tersebut mudah sekali menguap dan akan terhirup oleh hidung lalu akan diserap oleh tubuh dan menimbulkan reaksi adiksi melalui serangkaian proses neurotransmitter di otak dan dapat berpengaruh psikoaktif.

Dikutip dari kidshealth.org, efek jangka pendek yang dirasakan saat menghirup uap solven meliputi gejala-gejala denyut jantung meningkat, mual-muntah, halusinasi, mati rasa atau hilang kesadaran, susah bicara atau cadel, serta kehilangan koordinasi gerak tubuh.

Karena uap solven tersebut bisa terakumulasi di jaringan tubuh dalam jangka panjang. Jika terhirup terus-menerus bisa memberikan efek jangka panjang. Di antaranya kerusakan otak (bervariasi, mulai dari cepat pikun, Parkinson, dan kesulitan mempelajari sesuatu), otot melemah, depresi, sakit kepala dan mimisan, kerusakan saraf yang memicu hilangnya kemampuan mencium bau dan mendengar suara. Selain itu toksis pada hepar, otak, jantung dan ginjal. Kelainan pada paru-paru seperti asma dan pneumonitis hipersensitif. Cepat lelah, kulit membiru, bahkan kematian mendadak jika sampai melewati batas ambang toleransi tubuh. (dna)

Sumber: http://www.equator-news.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=6260