Pecandu Jadi Pendamping
Tanggal: Thursday, 22 March 2012
Topik: Narkoba


Media Indonesia, 22 Maret 2012

BAMBANG Sutrisno, 40, yang biasa dipanggil Benk Benk, tak pernah menyangka akan terlepas dari ketergantungan narkoba. Puluhan tahun yang lalu, kisahnya, lingkungan tempat ia tinggal di kawasan Jalan Proklamasi, Jakarta, merupakan wilayah peredaran narkoba yang cukup marak. Obat-obatan terlarang berikut pengedarnya berseliweran dengan bebas.

Hampir semua pemuda di sana, menurut Benk Benk, baik laki-laki maupun perempuan, pernah memakai heroin, mariyuana, dan obat terlarang lainnya. “Setiap hari itu pasti ada yang meninggal akibat narkoba,” tutur Benk Benk, saat ditemui Media Indonesia di tempat kerjanya di Puskesmas Menteng, Jakarta, Senin (19/3).

Siapa sangka, aksi reformasi pada 1998 yang diawali kekacauan massal di seluruh Jakarta, termasuk kawasan tempat tinggal Benk Benk, ternyata juga menjadi tonggak kemenangan bagi Benk Benk dan teman-teman sesama pecandu narkoba.

“Jadi saat itu kami memutuskan kalau mau rusak, ya, rusak sekalian dan kalau mau berubah, harus benar-benar mantap niatnya. Dan yang kami pilih adalah berubah,” tegas pria yang mengaku pernah dipenjara selama tujuh bulan pada 1996 itu. Maka bersama rekan-rekannya, Benk Benk menetapkan hari itu sebagai hari kebangkitan untuk terlepas dari dunia narkoba.

Niat berubah

Sejak itu Benk Benk menanamkan niat untuk mengubah masyarakat sekitarnya ke arah yang lebih positif. Bersama teman-teman sesama pengguna narkoba, Benk Benk mendirikan Komunitas Pemuda Cinta Damai. Komunitas inilah embrio Komunitas Proklamasi--dibentuk pada 1999--yang saat ini ia jadikan motor penggerak perubahan di kampungnya itu.

Bersama komunitasnya, Benk Benk giat melakukan pendampingan dan penyuluhan kepada para pengguna narkoba tentang bahaya HIV/AIDS di Lembaga Pemasyarakatan Pondok Bambu, Cipinang, dan Salemba.

Atas kemauan sendiri, Benk Benk lalu mengikuti pelatihan kader muda yang diadakan Dinas Kesehatan Pemerintah DKI Jakarta pada September 2006 hingga Agustus 2007.

Niat baiknya disambut dengan jalan terbuka. Benk Benk, seorang mantan pecandu narkoba, dipercaya untuk bekerja di Puskesmas Menteng pada bidang harm reduction.

Bidang itu, dia menjelaskan, merupakan pelayanan yang bertujuan mengurangi dampak buruk akibat penyalahgunaan narkoba. Salah satunya dilakukan melalui program layanan jarum suntik steril (LJSS).

Jarum steril

Sebagai orang yang punya pengalaman dalam penyalahgunaan narkoba, Benk Benk menilai salah satu upaya untuk menekan risiko penularan penyakit pada pengguna narkoba suntik ialah dengan mendistribusikan jarum suntik steril seperti yang dilakukannya dalam program LJSS.

Memang, menurut Benk Benk, cara tersebut tidak langsung menjauhkan para pengguna dari narkoba atau serta-merta menghentikan mereka dari penggunaan narkoba. Namun, dengan cara itulah risiko penyakit bisa diturunkan dan kesadaran kritis para pengguna narkoba bisa mulai ditanamkan.

Sasaran utama program itu ialah para penasun alias pengguna narkotika dengan jarum suntik, pasangan penasun, pekerja seks komersial, juga ODHA atau orang dengan HIV/AIDS. Lima ribu jarum suntik steril untuk program tersebut diperoleh Benk Benk dari Komisi Penanggulangan AIDS setiap tahunnya.

Sejak program harm reduction dijalankan, setiap bulan sekitar 450 jarum suntik didistribusikan atau dibagikan kepada pengguna narkoba yang datang ke puskesmas.

Bahkan saat puskesmas libur dan tutup setiap Sabtu dan Minggu, Benk Benk tidak segan-segan membuka layanan di rumahnya sendiri, yang dia namakan Rumah Sehat.

Sejauh ini, menurut Benk Benk, sekitar 350 pengguna narkoba terdata di puskesmas. "Yang masih aktif mengakses puskesmas itu sekitar 45 orang saja," kata dia.

Memang tak mudah merangkul para pengguna narkoba untuk setidaknya mengurangi risiko kebiasaan tersebut. Namun Benk Benk sebagai mantan pecandu yang cukup tahu seluk-beluk dunia haram itu mengaku optimistis. Buktinya, niat kuat seperti yang dia tanamkan kepada dirinya sendiri berhasil mengubah kebiasaan lamanya.

“Yang paling penting juga itu adalah menghilangkan stigma dan diskriminasi terhadap korban penyalahgunaan narkoba itu,” tambahnya.

Benk Benk mengakui hal itu tidak mudah. "Sebagian besar masyarakat masih menganggap pengguna narkoba dan yang terjangkit HIV/AIDS adalah orang yang jelek,” tegasnya. (*/M-1)

Sumber: http://www.mediaindonesia.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=6276