BNN Cegah Peredaran Narkoba Lewat Laut
Tanggal: Friday, 23 March 2012
Topik: Narkoba


FAJAR, 22 Maret 2012

MAKASSAR -- Dari tiga jalur transportasi, jalur laut dinilai paling efektif digunakan jaringan narkoba internasional untuk memasok barang haram tersebut ke Indonesia. Jalur laut dipilih para pelaku ini menyusul ketatnya pengamanan yang dilakukan di bandar udara dan darat.

Ini diungkapkan Deputi Pemberantasan Badan Narkotik Nasional (BNN), Benny M saat menjadi narasumber dalam sosialisasi Pencegahan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN) Sektor Transportasi. Kegiatan yang digelar di ballroom Hotel Sahid Jaya ini diselenggarakan Sekretariat Jenderal Kementerian Perhubungan.

Menurut Benny, berdasarkan penelusuran yang dilakukan BNN, dari ketiga jalur transportasi, jalur laut memang dianggap paling efektif digunakan para mafia narkotik dan obat-obatan terlarang jaringan internasional, untuk memasok barang-barangnya ke Indonesia.

Ada beberapa alasan mengapa jalur laut dipilih. Di antaranya karena semakin ketatnya pengawasan di setiap bandara internasional di Indonesia. Dengan kondisi seperti itu, biasanya mereka turun di Kuala Lumpur dan menuju salah satu daerah terdekat di Malaysia dan Indonesia. Di lokasi itu mereka biasanya menggunakan kapal nelayan atau transportasi laut lainnya.

Bahkan pernah ditemukan sebuah kapal nelayan yang membawa barang haram tersebut. Narkoba tersebut kemudian ditenggelamkan ke laut. "Jika dilihat memang tidak ada, tapi, setelah tali yang ditambatkan diangkat, baru ditemukan," tandasnya.

Diakuinya, jalur laut digunakan jaringan internasional dianggap paling efektif, karena mampu memasok barang haram dalam jumlah yang banyak.

"Kalau pesawat hanya sekian kilogram saja. Tetapi, kalau laut bisa lebih. Kami pernah menelusuri WNI yang ditangkap di Portugal. Mereka ditangkap karena membawa 1,8 ton narkotik di atas kapalnya. Mereka mengatakan dari Indonesia. Tapi, setelah kami telusuri ternyata dari negara lain," paparnya.

Sindikat mafia internasional, sambung dia, pada dasarnya sudah membentuk jaringan di Indonesia. Caranya pun sangat berbahaya dan mengancam keselamatan keluarga kurir narkoba.

"Keluarganya itu difoto dan didata serta diancam agar tidak membocorkan informasi tersebut kepada petugas kepolisian. Karena itu, diharapkan masyarakat untuk mewaspadai hal-hal yang seperti ini," imbuhnya.

Bagaimana dirinya melihat vonis yang dijalani para pengedar dan bandar narkoba? Diakui Benny, sejak diberlakukannya undang-undang nomor 35 tahun 2009, tentang, narkotik, hanya ada dua divonis mati atau seumur hidup. Contoh kasus dalam penanganan kasus yang membelit seorang bandar besar di Nusakambangan, pengadilan justru menggelar sidang di malam hari.

Deputi Pencegahan BNN, Victor P meminta seluruh kalangan untuk mewaspadai peredaran narkoba. Juga, sedianya, seluruh elemen masyarakat harus mengenal dan mengetahui seperti apa narkoba dan kerusakan yang ditimbulkannya. Tidak hanya merusak tubuh, tetapi, juga, menjadi salah satu faktor seseorang tertular virus HIV/ AIDS dan lainnya. (abg/pap)

Sumber: http://www.fajar.co.id




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=6285