HIV/AIDS Sudah Masuk ke Ketahanan Keluarga
Tanggal: Monday, 26 March 2012
Topik: HIV/AIDS


Harian Equator, 24 Maret 2012

Pontianak - Pengidap HIV/AIDS di Kalbar yang bagaikan gunung es bukan lagi merebak sampai ke pedesaan seirama penyebaran narkoba. Bahkan kini penyakit yang belum ada obatnya itu sudah masuk ke kamar tidur keluarga.

“Data menunjukkan, pengidap HIV/AIDS terus bertambah. Bahkan sekarang HIV sudah menyergap masuk dalam ketahanan keluarga. Endemik yang membahayakan ini harus segera diantisipasi,” ungkap Syarif Toto Taha Alqadrie, Ketua Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Kalbar, kepada Equator, Rabu (21/3).

Salah satu contoh adalah kondisi tragis satu keluarga di Desa Sejuek, Kecamatan Kuala Behe, Kabupaten Landak. Hz, 26, meninggal dunia dan positif dinyatakan mengidap AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome). Malangnya, dia mewarisi istri dan anak bungsunya yang berusia 1,9 tahun dengan HIV (Human Immunodeficiency Virus).

“Kasus HIV/AIDS yang menimpa sekeluarga di Landak itu sudah ditangani KPA setempat. Dan juga biasanya instansi terkait seperti dinas kesehatan. Sejauh KPA Kabupaten Landak bisa menanggulangi permasalahan itu kita serahkan ke sana,” kata Toto.

KPAD Kalbar akan melakukan evaluasi dengan mengumpulkan tujuh kabupaten/kota yang sudah ada KPA yakni Kota Pontianak, Singkawang, Mempawah, Sambas, Ketapang, Sintang, dan Sanggau.

“Ke depan program kerja akan melibatkan semua stake holder dalam mencegah penyebaran HIV/AIDS ini. Jadi akan ada tim terpadu mulai dari puskesmas hingga tim yang menangani Infeksi Penyakit Menular Seksual (IMS). Jadi, faktor tertinggi penularan disebabkan heteroseksual, kemudian jarum suntik pengguna narkoba dan homoseksual,” kata Toto.

Sekarang ini pengamatan KPAD Kalbar juga sudah mengarah kepada laki-laki yang berisiko tinggi. Karena sesuai data terakhir per Desember 2011 yang positif HIV sebanyak 3.339. Positif AIDS sudah 1.610 dan yang meninggal hingga 406 orang.

“Kita juga kerja sama dengan Nahdlatul Ulama (NU) menangani penjangkauan. Penjangkauan inilah yang turun langsung mencari korban yang terkena HIV/AIDS. Selanjutnya dilakukan konseling,” ujar Toto.

Rendahnya pengetahuan masyarakat desa tentang kesehatan, terutama apa itu HIV/AIDS, bagaimana penularannya, dampak dan akibatnya pada keluarga, sungguh sangat memprihatinkan.

“Keluarga pengidap HIV ini perlu diperiksakan. Jangan sampai ditularkan lagi kepada istri dan anak yang tidak berdosa. Apakah dia dapat dari jarum suntik atau hubungan seksual di luar keluarga. Itu penting dideteksi agar sumbernya diketahui dengan cepat,” ingatnya.

Toto mewanti-wanti agar masyarakat tidak langsung memvonis dari dua hal sumber penyakit tersebut pada seseorang. Karena bisa saja melalui alat cukur di tukang pangkas, salon, jarum akupuntur yang digunakan ulang, jarum tato, gunting kuku, dan lain sebagainya.

Karena itu butuh kejujuran pengidap apa saja yang telah dilakukannya sehingga HIV menular lewat darah via peralatan tadi dan hubungan seksual. Saat bersamaan, para pengidap tidak tahu membawa pulang HIV ke rumah, ke kamar tidur di ranjang bersama istrinya.

“Jika HIV/AIDS sudah masuk dalam ketahanan keluarga, siapa lagi yang mau disalahkan. Nah, penjangkau tadi itulah yang menggiringnya ke konselor. Jadi harus dikonseling terlebih dahulu. Itu pun masih banyak yang merasa tidak siap. Stigma rasa malu dan aib masih kuat,” jelasnya.

Mematikan

“HIV/AIDS penyakit mematikan. Sejauh ini belum ditemukan obatnya. ARV yang biasa diberikan kepada pengidap HIV itu bukan obat tetapi sebagai penekan penyebaran virus. Karena HIV ini menggerogoti kekebalan tubuh manusia. ARV masih disubsidi oleh pemerintah,” ujar Toto.

Baru-baru ini ada yang mengaku telah menemukan obatnya. Tetapi ini kan selain butuh waktu juga memerlukan biaya. Dan itu baru penemuan awal di Eropa yang masih jauh dari siap pakai.

Indonesia kini menempati ranking tujuh dunia pengidap HIV/AIDS dan itu sudah kompleks stadiumnya. Ketika belum stadium AIDS inilah harus cepat ditangani.

“Target kita tahun ini penjangkauan harus sudah mencapai 30 persen secara nasional,” jelas Toto.

Dia juga mengingatkan bahwa HIV/AIDS tidak terlepas dari masalah keimanan. Keikutsertaan orang tua dan guru sangat diperlukan. Orang tua harus memerhatikan lingkungan bergaul anaknya. “Kemudian yang penting, jangan merasa malu jika anaknya pemakai narkoba dan tertangkap akan diproses hukum. Orang tuanya yang membawanya agar direhabilitasi,” imbaunya.

Dalam masalah sosialisasi ini, KPAD Kalbar melibatkan berbagai instansi seperti dinas pendidikan menyangkut sosialisasi untuk siswa dari SD hingga SMA. Dinas sosial menyangkut pembantuan logistik dan beberapa dinas terkait lainya. Dibantu juga oleh media baik cetak maupun elektronik. Oleh karena itu semua diminta untuk mengungkap kasus gunung es ini. (kie)

Sumber: http://www.equator-news.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=6294