Jangan Diskriminasi Penderita
Tanggal: Monday, 26 March 2012
Topik: Narkoba


Harian Equator, 24 Maret 2012

Pontianak - Penanggulangan HIV/AIDS bukan pekerjaan gampang di tengah stigma dan persepsi negatif penderita. Masih banyak warga menjauh dan menghindari para penderita.

“Apa pun yang ada, sikap kita adalah jangan diskriminasi dan stigma keluarga tersebut. Hal yang penting adalah bagaimana memberikan dukungan pengobatan secara teratur dan benar. Istri dan anak bungsunya dari almarhum Hz yang berusia 1,9 tahun yang ikut terjangkit AIDS itu harus tetap mendapatkan perlindungan dan perhatian,” kata Rizal Ardiansyah, aktivitis perlindungan dan pencegahan HIV/AIDS Kalbar, kepada Equator, Jumat (23/3).

Menurut dia, perhatian lain dukungan sosial perlu disikapi. Artinya, di sini peran stakeholder dalam memberikan dukungan melalui Komisi Penanggulangan AIDS (KPA). “Peran sosial artinya kesempatan bekerja, anaknya tetap bisa sekolah,” kata Rizal.

Penderita adalah manusia biasa, sama-sama ciptaan-Nya. Hanya banyak dari mereka telah memilih untuk melakukan jalan yang salah dalam hidup dan mereka harus mendapatkan risiko yang menyedihkan.

“Biarkan anak muda dengan HIV/AIDS tertawa dan bercanda serta mendapatkan perlakuan yang sama. Saya tidak bisa mengerti mengapa sampai sekarang orang-orang masih mendiskriminasi mereka. Kita tidak tertular jika berbicara dengan mereka atau berjabat tangan dan memeluk mereka,” jelas Rizal.

Para penderita HIV/AIDS memiliki hak untuk hidup, hak untuk berteman, hak untuk bekerja, dan hak untuk belajar. “Tolong jangan diskriminasikan mereka. Ingatlah juga untuk Anda di luar sana yang sehat untuk menjaga diri, pikirkanlah orang-orang yang mencintai Anda, seperti keluarga dan teman-teman,” Rizal mengingatkan.

Upaya penanggulangan dan pencegahan HIV/AIDS ini tidak bisa dilakukan secara parsial, tetapi harus dilakukan secara menyeluruh dan intensif sehingga penularannya bisa diminimalisasi. “Masyarakat harus mengenali bahaya HIV/AIDS. Sehingga mereka dapat melindungi diri mereka sendiri dari penyakit ini,” tandasnya.

Berdasarkan data Global Fund AIDS Kalbar, kata dia, terdapat 4.949 kasus HIV/AIDS sepanjang 2011. Rizal kembali mengingatkan, penderita penyakit mematikan ini lebih disebabkan hubungan heteroseksual berganti-ganti pasangan. Khususnya lelaki pengguna seks komersial dan tercatat sudah 405 pengidap yang meninggal dunia.

Lelaki nakal hidung belang yang membawa virus HIV penyebab AIDS, pulang ke rumah dan menularkannya kepada istri, yang mereka dapat dari penjaja seks komersial.

Akibatnya, jumlah penderita HIV/AIDS di provinsi ini terus bertambah. Sepanjang 2011 tercatat 3.339 kasus HIV dengan lanjutan 1.610 kasus AIDS. Dari jumlah itu pengidap HIV didominasi hubungan heteroseksual dengan angka hingga 1.548 penderita. Sedangkan pengidap AIDS mencapai 804 penderita.

Rizal mengungkapkan, penderita HIV laki-laki di Kalbar berjumlah 2.227 orang dan perempuan 1.112. Sedangkan penderita AIDS laki-laki 1.022 orang dan perempuan 578 orang.

Berdasarkan usia, penderita HIV/AIDS lebih banyak pada usia produktif yakni 20-39 tahun. “Ternyata usia lanjut juga menimpa usia di atas 60 tahun yang menderita HIV sebanyak 26 orang dan AIDS 11 orang,” jelas Rizal.

Jumlah pengidap HIV tertinggi di provinsi ini masih didominasi Kota Pontianak dengan 1.641 (HIV) dan 885 (AIDS). Urutan kedua dipegang Kota Singkawang sebanyak 929 (HIV) dan 464 (AIDS), disusul Kabupaten Pontianak 221 (HIV) dan 59 (AIDS). Penderita HIV/AIDS paling sedikit adalah Kabupaten Kayong Utara, yakni hanya 1 (HIV) dan 1 (AIDS). (jul)

Sumber: http://www.equator-news.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=6295