Jorok Sumber Masalah Kesehatan Anak, Nekat Sumber Masalah Remaja
Tanggal: Tuesday, 27 March 2012
Topik: Narkoba


detikHealth, 26 Maret 2012

Jakarta, Anak dan remaja adalah usia rawan terkena penyakit karena yang satu tubuhnya masih dalam pertumbuhan dan yang satu mulai berani melakukan hal-hal di luar batas.

"Masalah kesehatan anak SD dan remaja itu berbeda," ujar dr Kirana Pritasari, MQIH, Direktur Bina Kesehatan Anak Kementerian Kesehatan RI, dalam acara Peluncuran Dokter Kecil Award 2012, di Balai Kartini, Senin (26/3/2012).

dr Kirana menuturkan pada anak-anak masalahnya adalah infeksi yang terkait dengan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), pola makan, serta gangguan perilaku makan yang bisa menyebabkan anemia pada anak SD (Sekolah Dasar).

Sedangkan remaja terutama SMP dan SMA adalah masalah perilaku berisiko, anak remaja itu sukanya menantang bahaya. Jika ia tidak mendapatkan informasi yang benar, maka ia akan mencoba hal-hal yang ternyata itu berisiko.

"Salah satunya naik sepeda motor ngebut, kematian akibat kecelakaan lalu lintas itu cukup besar dan mereka enggak tahu kalau itu berisiko. Kemudian merokok, minuman keras, mulai coba-coba narkoba dan perilaku seksual bebas," ungkapnya.

dr Kirana mengungkapkan melalui kader kesehatan remaja ini diberikan bekal untuk menghindari hal-hal tersebut. Kader remaja kesehatan harus tahu kesehatan reproduksi sebagai informasi dasar, kemudian tentang narkoba, HIV/AIDS dan cara menghindari perilaku seks bebas.

"Informasi ini melalui sekolah, kelompok remaja dan juga media agar remaja tidak hanya tahu risiko saat ini saja tapi yang paling penting adalah masa depannya sehingga bisa menghindari hal-hal itu," ujar dr Kirana.

Dengan melalui pendekatan teman sebaya, diharapkan pesan atau informasi yang akan disampaikan mengenai pencegahan tersebut bisa lebih tercapai dan lebih mudah diterima oleh remaja.

Sedangkan untuk anak-anak SD dengan cara melibatkan program UKS dan juga dokter kecil sehingga anak-anak ini bisa menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat yang bisa mencegah beberapa penyakit infeksi.

Meski begitu dalam memberikan pesan pada anak SD dibutuhkan konsistensi antara di sekolah dengan di rumah, misalnya di sekolah diajarkan cuci tangan tapi di rumah tidak disediakan sabun maka pesan ini tidak berlanjut, serta dibutuhkan konsistensi dari si pemberi pesan.

"Kalau guru bilang harus cuci tangan tapi dia sendiri tidak cuci tangan maka itu bisa mengganggu pemahaman mereka. Ini karena anak SD belum bisa ambil keputusan sendiri, jadi dia hanya meniru dan dibutuhkan konsistensi dari si pemberi pesan," imbuhnya.

Untuk itu diperlukan kerjasama serta konsistensi dari si pemberi pesan agar anak-anak bisa lebih mudah memahami dan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat dalam kehidupannya sehari-hari.

(ver/ir)

Sumber: http://health.detik.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=6310