Diingatkan sang Anak Minum Obat Tiap Pukul 07.00
Tanggal: Tuesday, 03 April 2012
Topik: Narkoba


Radar Jogja, 31 Maret 2012

Tahun 2008 merupakan tahun berat bagi Retno, 31. Saat itu dia dan suaminya divonis mengidap HIV/ AIDS. Beruntung, anak yang lahir saat itu lahir dari rahimnya, Valentino, yang kini berusia lima tahun, negatif HIV/AIDS. Kini, dia terus berjuang agar dua anaknya supaya terhindar dari ”penyakit” mematikan ini.

”Saat mengetahui saya dan suami positif (HIV/AIDS), saya pasrah saja. Sedih pun hanya awalnya saja. Yang melegakan ketika mengetahui Valentino yang saat itu berumur satu setengah tahun tidak tertular penyakit yang kami idap,” kata Retno ketika memberikan testimoni dalam diskusi Pencegahan Penularan dari Ibu dan Anak yang diselenggarakan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) DIJ (28/3). Tidak ada rasa penyesalan pada diri Retno. Menurut perempuan yang sehari-hari berprofesi sebagai ibu rumah tangga ini, apapun kenyataan yang terjadi sudah diterimanya dengan sikap pasrah. Bahkan, sebelum pemeriksaan dirinya terlebih dahulu mendapatkan penyuluhan dari Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Jogja.

Perempuan asal Turi, Sleman, ini menceritakan, sebelum menikah telah mengetahui almarhum suami adalah seorang pengguna narkoba dengan jarum suntik. Namun, miskinnya informasi yang didapatkan tentang bahaya narkoba membuatnya tidak mempedulikan semua bahaya yang mungkin terjadi. ”Sebelum menikah memang suami tidak melakukan pemeriksaan. Karena memang dahulu belum tahu apa-apa,” ujar Retno. Suami Retno meninggal sekitar sepuluh bulan lalu. Sebelum sang belahan jiwa mengembuskan napas terakhir, mereka sempat memutuskan untuk memiliki anak lagi.

Di saat positif mengidap HIV/AIDS, pasangan tersebut tetap memiliki tekad kuat untuk mempunyai anak kembali. ”Waktu itu saya konsultasi pada ahli dan perkumpulan yang berkaitan dengan HIV/AIDS. Salah satunya di RSUP Dr Sardjito,” terangnya. Pada 2010, Retno kembali hamil. Ketika kehamilan kedua ini, dia diwajibkan meminum tablet antiretroviral ARV yang namanya duviral dan neviral. Namun, saat Retno mengkonsumsi obat tersebut muncul ruam-ruam di perut.

Karena tidak mengetahui efek samping obat yang diminum, Retno meminta supaya dokter mengganti obat yang dikonsumsi. Tapi, sang dokter menolak permintaan Retno dengan alasan nantinya bisa mengganggu janin yang dikandung. ”Akhirnya saya diberi obat elergi sampai akhirnya sembuh,” ujarnya. Pada awal 2011, dia melahirkan bayi kedua secara operasi caesar. Cara ini ditempuh guna menekan risiko penuluran HIV/AIDS ke bayi. Namun sampai saat ini, anak keduanya yang bernama Baladewa, 1, belum dipastikan terbebas HIV/AIDS.

”Pemeriksaan akan dilakukan ketika Baladewa sudah berusia minimal 18 bulan,” tambahnya. Dituturkan, Baladewa masih menjalani pengobatan profilaksis bayi dengan nevirapine selama enam minggu. ”Kecemasan saya saat ini adalah mengetahui apakah status anak saya yang kedua (bebas (HIV/AIDS),” ujarnya. Retno yang juga aktif di jaringan orang terinfeksi HIV/AIDS Indonesia (Joti) Jogjakarta lebih memilih memberikan susu formula kepada anaknya ketimbang air susu ibu (ASI). Ini ditempuh guna mengurangi risiko.

Sebagai seorang aktivis, saat ini dia tidak pernah malu dan gusar dengan diskirminasi yang dilakukan masyarakat. Sebelumnya, ujar dia, ada penolakan dan sikap diskriminatif dari para tetangga. ”Dahulu banyak warga yang kenal baik, tiba-tiba menjauh. Namun sekarang sudah tidak lagi,” terangnya. ”Bersahabat” dengan virus mematikan dan belum ditemukan obatnya secara medis membuat Retno terus ingin berjuang dan bertahan. Menyadari rentannya daya tahan tubuh terhadap penyakit ini, dia memilih pola hidup sehat. Dia juga teratur meminum obat yang dianjurkan dokter tiap 12 jam sekali.

Valentino kerap mengingatkannya untuk minum obat. Bakan, Valentino mengingatkan setiap pukul 07.00 sesuai jadwalnya minum obat. ”Setiap alarm pukul 07.00 berbunyi anak saya selalu menyarankan saya untuk cepat minum obat,” terangnya.

Retno memiliki harapan agar para Ibu yang terjangkit HIV/AIDS tidak takut dan berani mengungkapkan permasalahan mereka. Melalui pengobatan yang teratur dan sesuai ajuran dokter, dia yakin anak yang dilahirkan berpotensi negatif tertular HIV/ AIDS. ”Saya tidak menginginkan melihat bayi-bayi yang lahir terjangkit dan setiap hari harus meminum obat,” imbuhnya.

Kordinator Tim Prevention Mother To Child Transmition PMTCT RSUP Dr Sardjito Diah Rumekti mengungkapkan, data yang dimiliki di RSUP Sardjito menyebutkan kasus ibu hamil yang terindikasi HIV/AIDS dari PMTCT hingga akhir 2011 mencapai 14 kasus. ”Dari semua kasus tersebut ibu yang melahirkan negatif tertular HIV/AIDS,” ungkapnya.

Dikatakan Diah, potensi terjangkitnya anak tertular HIV/AIDS oleh ibu yang hamil sebesar 45 persen. ”Namun, bila seorang ibu dengan tekun mengikuti program PMTCT secara benar maka risiko penularan bias ditekan hingga dua persen,” jelasnya. (*/amd)

Sumber: http://www.radarjogja.co.id




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=6331