Intaian Maut Penikmat Cinta Sejenis
Tanggal: Tuesday, 03 April 2012
Topik: Narkoba


Sumut Pos, 01 April 2012

BEBERAPA waktu lalu Sumut Pos berbincang panjang dengan Marsudi Budi Utomo, Pengelola Program KPA Kota Medan. Dia mengatakan, soal HIV/AIDS di Medan memang sangat memprihatinkan. Untuk bukti, dia pun memberikan data yang dimiliki KPA hingga akhir tahun 2011.

Data itu menggambarkan bila nyaris seluruh kecamatan di Kota Medan berpotensi penularan HIV/AIDS. Contohnya penularan penyakit itu melalui jarum suntik alias pemakai jarum suntik atau penasun. Dari data yang ada, di Medan sedikitnya 354 penasun. Dan para penasun itu menyebar di berbagai kecamatan (lihat grafis). Kecamatan penyumbang penasun terbanyak adalah Medan tuntungan dengan 75 orang diikuti Medan Sunggal sebanyak 40 orang. “Memang penularan HIV melalui jarum suntik sangat riskan. Untungnya, pada 2012 penasun mulai berkurang,” jelas L Marsudi Budi Utomo.

Lelaki tinggi yang mulai terjun ke KPA sejak 2009 lalu ini kemudian menjelaskan, pihaknya memang fokus untuk mengurangi penularan penyakit tersebut. “Untuk itulah, seperti saat ini kami mensosialisasikan bahaya penyakit tersebut kepada kaum gay dan waria,” terangnya.

Ya, saat itu, pihak KPA memang menggelar diskusi dengan kaum gay dan waria di Medan dengan pembicara dr Eva Meutia Harun dari Bestari. Kaum ini dianggap rawan HIV karena perilaku seksual yang cenderung menggunakan anus alias anal seks. “Penggunaan kondom yang kami sosialisasikan pada mereka,” tambah Tomo, panggilan akrab L Marsudi Budi Utomo.

Tomo menjelaskan kembali kalau tugas pihaknya adalah untuk mengurangi potensi penularan. Mereka tidak bicara soal keberadaan gay dan waria dalam arti sebagai kaum yang ‘aneh’. Tapi, seks melalui anal memang berisiko tinggi.

“Bagaimana lagi, gay dan waria memang ada. Dan mereka hidup dengan dunia mereka. Kami melihat risiko yang mereka emban, makanya kami sosialisasikan penggunaan kondom. Ketika mereka sadar, maka potensi penularan semakin sempit,” jelas Tomo.

Diskusi tempo hari memang tampak menarik. Ada beberapa perwakilan gay dan waria.

Asiong, perwakilan waria, mengatakan pada Sumut Pos kalau pihaknya sudah lama sadar dengan itu. Bahkan, dia sebagai koordinator menegaskan pada anggota untuk serius soal kondom. “Sekarang sudah serius semuanya. Kalau ada yang bandel ya kita tegur. Kan untuk kesehatan mereka sendiri. Setelah diingatkan, semuanya juga paham kok,” jelas waria berbadan tinggi besar itu.

Sang pemateri, dr Eva Meutia Harun, saat diskusi menggambarkan soal bahaya anal seks. Katanya, selaput di anus sangat rentan saat terjadi penetrasi. “Jadi tidak seperti vagina yang memiliki pelumas,” ucapnya yang langsung sambut sorak oleh peserta yang rata-rata masih usia produktif tersebut. “Nah, ketika selaput itu rusak, maka akan ada cela bagi virus untuk masuk. Setelah itu, kita tahu sendiri kan?” tambah dr Eva lagi.

Usai diskusi, dr Eva mengatakan pada Sumut Pos, Medan dalam posisi rawan terkait HIV/AIDS. Gaya hidup metropolis adalah tantangan tersendiri. “Kaum gay memang makin banyak di Medan. Kita khawatir dengan itu. Tapi, ini bukan pada pilihan mereka, ini soal perilaku seksual mereka,” jelasnya.

“Kalau soal pilihan menjadi gaya, sudahlah. Meski, saya prihatin karena semakin banyak remaja yang beralih orientasi seksnya menjadi suka sesama jenis,” tambahnya.

Kembali lagi dr Eva menekankan, soal penyebaran HIV/ AIDS terletak pada kelakukan seksual dan bukan pilihan seksual. “Bukan berarti kaum gay dan waria saja yang harus diingatkan, kaum heteroseksual juga cukup berisiko jika tidak bersih. Misalnya, seorang bapak yang ‘jajan’ dan wanita pekerja seksnya sudah positif, maka dia berpotensi menularkan pada istri dan calon anaknya kan?” jelas dr Eva.

Untuk itulah, dr Eva yang berasal dari klinik Bestari ini langsung menyambut baik ketika KPA Medan memintanya menjadi pemateri. “Ya, ini semua untuk masa depan, jika tidak kita mulai Medan bisa bahaya,” ucapnya. “Medan dalam kepungan penyakit mematikan,” timpal Tomo yang duduk di samping dr Eva.

Dari data Komisi Penganggulangan (KPA) AIDS Kota Medan per Desember 2011 yang diterima Sumut Pos diketahui dalam enam tahun terakhir, tercatat sudah 2.904 penderita. Dan, dari jumlah itu, 538 di antaranya meninggal dunia. Nah, dari 1.191 WPS yang ada di Medan, penderita HIV/AIDS 155 orang.

Jumlah WPS yang terdata ini menyebar di dua puluh kecamatan yang ada di Medan. Dan, wilayah kecamatan penyumbang WPS terbanyak adalah Medan Selayang dengan 193 WPS. Peringkat kedua diduduki Medan Tuntungan 171 WPS dan ketiga, Medan Timur dengan 125 WPS (jumlah WPS per kecamatan lihat grafis).

Itulah sebab, Project Officer Global Fund Dinas Kesehatan Sumatera Utara, Andi Ilham Lubis mengingatkan, para lelaki hidung belang harus mengambil pelajaran. Jika tidak, bukan tidak mungkin dia menambah daftar penderita HIV/ AIDS di Medan. “Satu WPS bisa melayani hingga 8 orang pelanggannya, jika HIV positif, maka virus tersebut tentu akan tertular. Karena perilaku berganti-ganti pasangan dan tidak mengenakan pengaman saat berhubungan menyebabkan orang tersebut lebih berisiko tertular HIV/ AIDS,” kata Andi Ilham.

Namun, katanya, jika menggunakan kondom, risiko tertular HIV/AIDS semakin kecil. “Sebenarnya penularan HIV/ AIDS melalui hubungan seksual tidak sampai 0,1 persen. HIV/ AIDS lebih cepat tertular jika tidak menggunakan kondom saat berhubungan. Karena luka pada alat kelamin yang dialami lebih berpotensi menularkan HIV/AIDS,” jelasnya lagi.

KPA Kota Medan juga menemukan kaum lelaki memang paling rentan terjangkit HIV/AIDS. Dari 2.904 penderita, 2.216 adalah lelaki. Dan, kelas umur yang paling banyak menderita adalah usia 25 hingga 34 tahun. “Diharapkan para remaja jangan sampai berisiko. Apalagi WPS itu banyak yang usia produktif. Kita tidak bisa memastikan berapa jumlah pastinya WPS yang usia produktif, tapi dari survei di lapangan memang kebanyakan remaja,” ucap Andi Ilham.

Sambungnya, jika tidak dilakukan pencegahan sejak dini, maka jumlah kasus HIV/AIDS akan terus meningkat.

“Pencegahan dengan meningkatkan pengetahuan mengenai HIV/AIDS sangat penting dilakukan. Itu bukan semata- mata tugas kita. Tapi dari semua pihak terutama instansi terkait. Sejauh ini, kita selalu melakukan pengobatan, sosialisasi dan pembinaan,” ucapnya.

Ketua LSM Medan Plus, Totonta Kaban mengatakan estimasi WPS cenderung meningkat setiap tahunnya. Bahkan, bisa mencapai dua kali lipat tingginya. “Penularan HIV/AIDS juga semakin tinggi karena melihat perilaku seks yang masih belum berubah. Artinya, banyak ditemukan pekerja seks yang berhubungan tanpa menggunakan kondom,” katanya.

Pihaknya sendiri, melakukan program pendampingan, penyuluhan hingga pemberian kondom secara gratis. “Potensi penularan HIV/AIDS semakin besar karena didukung penyakit kelamin lainnya seperti shipilis. Tapi, banyak WPS yang mengeluhkan pelanggannya yang tidak mau berhubungan kalau menggunakan kondom. Karena katanya nggak enak. Kalau sudah begini, mereka biasanya nggak bisa menolak,” ujarnya. (her/rmd/mag-11)

Lelaki Suka Lelaki Picu HIV/AIDS

HOMO seksual khususnya Lelaki Suka Lelaki (LSL) atau gay ditengarai bisa mempercepat laju pertumbuhan penderita HIV/AIDS di Kota Medan; begitu juga dengan kaum waria. Apalagi, di Medan jumlah kaum gay sudah mencapai 1.699 orang, sedangkan waria berjumlah 664 orang.

Dari data Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Medan yang diterima Sumut Pos, Kecamatan Medan Kota menjadi wilayah subur gay dengan 295 orang. Di peringkat kedua ditempati Kecamatan Medan Sunggal dengan 245 gay, dan peringkat ketiga diduduki Medan Petisah dengan 208 gay.

Untuk waria, Medan Baru menduduki tempat pertama dengan 161 waria. Medan Johor di posisi kedua dengan 134 warianya dan Medan Petisah di posisi tiga dengan 93 waria (daftar lengkap lihat grafis).

“Komunitas ini (gay) termasuk tertutup, namun ketika dipetakan jumlahnya 1.699 orang dengan profesi beraneka ragam.

Banyak juga yang memiliki keluarga (anakistri) namun memiliki pasangan gay,” terang L Marsudi Budi Utomo, Pengelola Program KPA Kota Medan, kemarin.

Kecenderungan gay dan waria menularkan HIV/AIDS ditekankan oleh oleh dr Yulia Maryani, selaku dokter praktik penanganan masalah infeksi menular seksual (IMS).

“Kelompok gay cenderung melakukan hubungan seksual lewat anus (anal seks, Red). Seperti diketahui anus adalah tempat pembuangan yang banyak ditemui pembuluh darah di daerah sekitar anus. Sehingga dengan seksual yang rutin dilakukan lewat anus akan mengakibatkan pecahnya pembuluh darah yang mengakibatkan luka pada bagian tersebut. Luka inilah yang nantinya akan menjadi pintu masuknya virus HIV melalui darah,” terang Yulia di ruang praktiknya, di kawasan Jalan Veteran Medan, Kamis (8/3).

Tidak hanya rentan tertular HIV, sambung Yulia, gay juga rentan terhadap penularan penyakit IMS, dan untuk diingat, seseorang yang terkena IMS memiliki risiko lebih besar untuk terinfeksi HIV. Bahkan, menurut Yulia dari pengalaman yang ditemui terhadap sejumlah pasiennya dari kelompok gay, banyak dari mereka yang tidak mengetahui jika mereka telah terinfeksi IMS maupun HIV.

Akibat ketidaktahuan inilah yang akhirnya menyebarkan virus ke orang lain, apalagi para pelaku seks yang dominan berganti-ganti pasangan.

“Tidak ada cara lain untuk mencegah penularan IMS dan HIV melalui hubungan seksual kecuali dengan menggunakan kondom secara rutin dan harus benar-benar memperhatikan tentang cara penggunaannya agar tidak terjadi kesalahan,”ungkapnya.

Berangkat dari pengalaman praktiknya, Yulia mengakui, ada beberapa perbedaan prilaku seks antara gay dengan para waria. Meskipun sama-sama berhubungan dengan sesama jenis, namun untuk kelompok gay, masih sering menggunakan penisnya sesama pasangan secara bergantian ketika melakukan hubungan seksual. Bahkan tak jarang, sebagian gay ini juga memiliki isteri dan anak.

“Namun, hal ini tidak akan dilakukan para waria. Selain tidak mau disebut sebagai seorang gay, para waria juga tidak akan menggunakan penisnya dengan sesama jenis saat melakukan hubungan seksual. Selain itu, waria juga mengakui jika dirinya murni seorang wanita dan tidak akan berpikir memiliki isteri apalagi anak meskipun keduanya tergolong kelompok homoseksualitas,” ungkap Yulia.

Selain itu, Yulia juga mengungkapkan jika sering menangani pasien yang terinfeksi IMS dan memiliki risiko besar tertular HIV, dari kalangan para pelajar. Dan biasanya para pelajar ini, menurut pengakuannya, cenderung sebagai pemuas nafsunya para gay atau sering disebut sebagai ‘kucing’.

“Setidaknya sampai saat ini ada sekitar 25 pasien kita yang masih berstatus pelajar yang tengah berobat atas keluhan penyakit IMS yang dideritanya. Bahkan tak jarang mereka juga datang berobat ke klinik dengan menggunakan baju sekolah. Hal ini juga yang menjadi keprihatinan bagi kita, mengingat penyakit IMS memiliki risiko besar untuk terkena HIV,” ungkapnya. (uma)

Ketika Homoseksual Jadi Lifestyle

Tak heran bila para pria banyak melakukan seks menyimpang, dalam hal ini menjadi homoseksual. Salah satu dominan penyebab tersebarnya karena homoseksual saat ini dianggap kalangan remaja pria sebagai tren life style. Begitulah pendapat Direktur Biro Psikologi PERSONA, Irna Minauli.

“CUKUP mengkhawatirkan! Sekarang perilaku homoseksual dianggap sebagai trend atau life style karena mengikuti gaya hidup para selebritis, misalnya Ricky Martin yang menikah dengan seorang dokter yang tampan,” ujarnya , belum lama ini.

Menurutnya, di Sumatera Utara jumlah gay tidak tertutup kemungkinan mengalami peningkatan. Bahkan kaum gay sudah semakin berani menampilkan diri secara terbuka ke khalayak.

Gerakan yang dilakukan oleh kaum LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transeksual) ini pun menjadi lebih terorganisir.

Tak lain karena banyaknya dukungan dari foundation di luar negeri yang memperjuangkan kesamaan hak mereka.

Jika dilihat secara psikologi, kaum homoseksual (lesbian dan gay), khususnya yang mengacu pada DSM (Diagnostic and Statistical Manual) yang dipublikasikan oleh American Psychiatry Association (Asosiasi Psikiater Amerika) yang merupakan buku panduan dalam menegakkan diagnosa, bahwa homoseksual tidak lagi dianggap sebagai abnormalitas.

“Dengan demikian mereka sudah dianggap normal. Ada banyak penyebab homoseksualitas. Biasanya para gay belajar dari pengalaman seksual pertama yang mereka alami. Jika pengalaman seksual pertama yang menyenangkan itu dengan sesama jenis, maka mereka cenderung akan menikmati hubungan tersebut dan menjadi homoseksual,” tambah Irna Minauli.

Menurutnya umumnya, kaum homoseksual juga akan mencari ‘mangsa’ yang berpeluang menjadi homoseksual.

Kaum homoseksual memiliki kemampuan yang cukup jeli dalam melihat mana yang dapat menjadi rekan seksualnya. Karena ada semacam sinyal yang dikenali oleh kaum homoseksual tersebut.

“Banyak dari kaum gay yang kemudian terlibat dengan pernikahan dengan seorang wanita hanya untuk menjaga nama baik keluarga dan sebagainya.

Namun, di sisi lain mereka juga tetap menjalin hubungan sejenis.

Beberapa memiliki kecenderungan biseksual sehingga dapat berhubungan dengan kedua jenis kelamin,” jelas Irna.

Berdasarkan teori Psikoanalisa, masalah homoseksual adalah semacam spektrum dimana pada sisi kiri adalah homoseksual dan sisi kanan adalah heteroseksual, dan di tengahtengahnya adalah biseksual.

“Jadi setiap orang memiliki kecendrungan tersendiri dimana mereka berada.

Sesuai dengan teori sosial belajar maka homoseksual itu merupakan hasil dari proses belajar,” terangnya.

Selain itu, pria yang bergaul dengan kaum homoseksual lebih berpeluang menjadi kaum gay dibandingkan dengan mereka yang tidak sama sekali.

Banyak kaum homoseksual yang kemudian menjadi sangat posesif dengan pasangannya.

“Ini disebabkan karena peluang mereka yang jauh lebih terbatas dibandingkan dengan kaum heteroseksual.

Itu sebabnya tindakan kekerasan dan pembunuhan di kalangan kaum homoseksual jauh lebih banyak jika dibandingkan dari segi proporsional,” ujarnya.

Namun, kondisi rumah tangga yang kurang harmonis juga berkaitan menjadikan seorang pria menjadi gay.

“Banyak diantara mereka yang memiliki ayah yang kurang berperan sehingga mereka tidak memiliki role model.

Proses identifikasi seorang anak lakilaki yang biasanya terhadap ayah. Ketika proses identifikasi itu terganggu, maka mereka berpeluang mengalami gangguan,” tambahnya.

Beberapa di antaranya mungkin pernah mengalami pelecehan seksual seperti disodomi pada masa kanakkanak yang kemudian menimbulkan kesenangan. “Trauma karena dikecewakan oleh lawan jenis juga menjadi salah satu faktor penyebabnya.

Sambungnya, kebosanan dengan relasi heteroseksual membuat beberapa orang mencari variasi dengan melakukan homoseksual. Menariknya, dibanyak negara, perjuangan kaum LGBT ini sudah berhasil.

“Misalnya buku-buku pelajaran anak SD di Belanda dan beberapa negara yang mengakui keberadaan LGBT, sudah direvisi. Pembelajaran dari luar negeri ini kemungkinan akan merambah ke Indonesia khususnya Sumut,” bebernya. (mag-11)

Sumber: http://www.hariansumutpos.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=6334