Laskar Pendamping Menyambut Maut
Tanggal: Tuesday, 10 April 2012
Topik: Narkoba


RNW, 08 April 2012

Mendampingi anak penderita kanker dan AIDS yang akan menghadapi maut menjadi tugas keseharian para perawat Yayasan Rumah Rachel. Dengan prinsip mengantar anak menghadapi kematian tanpa rasa sakit, mereka berkeliling dari satu rumah pasien ke rumah pasien lain setiap hari untuk memberikan pendampingan dan perawatan demi pengurang rasa sakit. Seperti apa mereka bekerja?

Siang itu Susi Susilawati, perawat dari Yayasan Rumah Rachel, tengah memeriksa kondisi Rizki. Bocah berusia 4 tahun ini mengidap HIV sejak 2 tahun lalu.

Rizki sedang diare, suhu tubuhnya di atas normal. Ia menderita penyakit TB Paru, pembesaran hati, dan berat badan di bawah normal. Semua itu ia alami akibat virus HIV menggerogoti kekebalan tubuhnya. Satu kali dalam seminggu kesehatan Rizki dipantau oleh Susi Susilawati atau perawat lainnya dari Yayasan Rumah Rachel. Setiap kunjungan dibuat menyenangkan untuk memberi semangat Rizki dan ibunya.

Paliatif

Susi Susilawati yang akrab dipanggil Susi, sudah 4 tahun menjadi perawat di Yayasan Rumah Rachel. Wilayah Utara Jakarta menjadi daerah kerjanya. Setiap hari dengan mengendarai sepeda motor ia mengunjungi pasien Dokter kanker anak yang juga konsultan Yayasan Rumah Rachel, Edi Tehuteru menjelaskan arti paliatif.

"Paliatif anak menurut Badan Kesehatan Dunia adalah satu perawatan aktif yang menyeluruh yang meliputi unsur jasmani dan rohani anak berikut keluarganya. Jadi tidak hanya anaknya saja yang kita pikirkan tapi keluarganya juga. Kita lakukan ini sejak anak tersebut didiagnosis penyakitnya dan terus berlanjut mengikuti perjalanan penyakitnya."

Edi mengatakan, seorang yang terkena penyakit ujungnya ada dua: sembuh atau tidak sembuh. Kalau sembuh artinya dia diagnosis apabila ada hal-hal yang berhubungan mungkin dengan gejala nyeri atau apa. Dan disitulah paliatif sudah bisa berperan, tambahnya. Kalaupun ujungnya tidak sembuh, inilah peran paliatif juga untuk membantu anak ini meninggal dengan bermartabat.

Kanker dan AIDS

Yayasan Rumah Rachel saat ini menangani asuhan paliatif bagi anak penderita kanker dan AIDS. Perawat Susi mengatakan, tidak mudah untuk bisa dekat dengan pasien anak. "Pada saat kita melakukan perawatan luka kanker yang gede kayak kembang kol dengan nanah yang banyak gitu, anaknya maunya diusap-usap lukanya sama kita, sampai dia tertidur, sampai kita berjam-jam nunggui dia."

Siang itu Rina Wahyuni, perawat Rumah Rachel, tengah melakukan kunjungan pasca kematian. Tepat seminggu setelah Nadia meninggal. Nadia Fira Pranajaya meninggal karena kanker mata di usia 4 tahun.

Orang tua Nadia mengambil tindakan paliatif karena tidak tahan melihat anaknya tersiksa dengan rentetan perawatan di rumah sakit. Bocah perempuan itu divonis terkena kanker saat usia 1,5 tahun. Dua bulan Nadia menjalani asuhan paliatif di rumah sebelum maut menjemput. Kehadiran perawat Rumah Rachel yang mendampingi dirasakan manfaatnya oleh keluarga.

Ayah Nadia, Naidi Pranajaya menyatakan, merasa lebih lebih kuat dengan bantuan suster-suster yang datang setiap seminggu sekali atau kadang gak sampai seminggu udah datang membuat perasaan kita agak tenang.

"Berarti anak kita itu masih diperhatikan. Kita bisa konsultasi dengan suster di rumah walaupun tanpa harus ke rumah sakit," katanya.

Kunjungan pasca kematian merupakan bagian dari asuhan paliatif. Berbincang dengan keluarga diperlukan untuk pendampingan psikologis. Perawat Rumah Rachel, Rina Wahyuni. mengatakan, kalau tidak ada masalah, orang tuanya normal saja. "Tapi kalau misalnya ada kendala, kadang-kadang kita kunjungan pertama dia bilang 'saya bisa nerima kok' kayak tadi, bisa aja dia menutupi dari kitakan. Tahu-tahunya pas kita telpon suaminya bilang 'isteri saya nih yang ngelamun' atau si abangnya tadi, nah itu akan kita janjiin lagi kunjungannya. Pengennya sih aktivitas mereka sehari-hari tidak terganggu pasca kematian ini." Demikian Rina.

Berdirinya Rumah Rachel

Yayasan Rumah Rachel berdiri di tahun 2006. Berawal dari cerita akhir hidup teman sang pendiri, Lynna Chandra menceritakan bahwa ini berawal dari usahanya untuk memastikan, tidak satu anakpun mesti mati dalam penderitaan. Lynna: "Teman saya Rachel meninggal pada 2004 walaupun dia sangat kuat. Pada akhirnya, rasa nyaman itu berasal dari perasaan bahwa ada yang menemani, sentuhan seseorang yang memijit tangan dan kakinya. Ini sungguh penting bari mereka yang menjalani hari-hari terakhir. Jika pun ada perawatan medis terbaik, pada akhirnya mereka membutuhkan rasa nyaman dari seseorang yang peduli pada mereka" Pendiri Rumah Rachel Lynna Chandra bercerita, perawat yang bekerja di Rumah Rachel selalu ditekankan untuk mengenal secara mendalam pasien yang ditangani."

Lynna menambahkan, penting bagi perawat mereka untuk mengakui di depan pasien, mempelajari dan memahami dengan dekat bagaimana anak itu sebelum dia sakit. Apa yang ia suka dalam hidup, apa ia punya banyak teman, apa mainan kegemarannya. Ketika perawat kami belajar sejarah seorang anak, mereka kemudian mulai belajar mencintai anak itu dengan atapun tanpa gejala sakit.

Selanjutnya Lynna mengatakan, anak itu seperti pada umumnya hingga gejala penyakin mematikan tiba, hanya karena ia sekarang sakit, tidak berarti ia berhenti menjadi anak.

Sejak 2009 ada sekitar 150 anak yang telah ditangani oleh Yayasan Rumah Rachel. Lima perawat disebar di tiga satelit atau kantor layanan di wilayah Utara, Timur, dan Barat Jakarta. Perawatpun harus siap mendengar setiap waktu jika ada pasien meninggal.

Harapan

Nadia meninggal dengan proses cepat, tidak menderita, tidak nyeri. Kadang-kadangkan ada yang nyeri berhari-hari atau dia mengalami luka yang gede gitu. Tapi ada kesedihan juga dibalik itu, yah layanan kita cuma sampai di sini, hubungan kita sama keluarga cuma sampai di sini walaupun kita bisa nelpon, silahturahmi, tapikan itu konsepnya udah beda." Pendiri Rumah Rachel Lynna Chandra berharap, ke depan semakin banyak orang yang memahami asuhan paliatif.

Lynna mengatakan, mereka sekarang mencoba menjangkau sebanyak mungkin anak di Jakarta. Sebab, Rumah Rachel tidak akan pernah dapat menjangkau semua anak di Indonesia. "Tapi, kami bisa melatih sebanyak mungkin orang untuk melakukan kerja yang kami lakukan, seperti melatih kader puskesmas, petugas rumah sakit, kami melatih siapa yang mau dilatih, pelajar sekolah perawatan, dosen sekolah keperawatan dan lainnya. Siapa saja yang ingin mendengar, pada dasarnya kami dapat mulai melatih orang bertindak seperti perawat kami. Maka, kami tak perlu membuka banyak cabang ataupun semacamnya. Yang kami butuhkan adalah menyebarkan keterampilan dan hati." Demikian Lynna Chandra, pendiri Rumah Rachel.

Sumber: http://www.rnw.nl




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=6357