Mengabdi ke Masyarakat Sebagai Janji Profesi
Tanggal: Tuesday, 10 April 2012
Topik: Narkoba


Pontianak Post, 10 April 2012

Perangainya yang halus dan lembut. Ia aktif dalam berbagai kegiatan, namun tak lupa akan tugasnya sebagai ibu dan seorang istri. Ia sempat menjadi konselor remaja juga di PKBI, sering melakukan aksi penanggulangan HIV dan AIDS bekerjasama dengan Komisi Penanggulangan Aids Kota Pontianak. Di rumah, ia juga membangun shelter untuk menampung korban trafficking. Baginya, yang terpenting adalah mengatur waktu dengan tepat. Semuanya direncanakan dengan baik.

Oleh: Ya’ Muhammad Maulidin.

Apa saja nih kegiatan sehari-harinya, Dok?

Wah, biasalah mengabdi kepada negara ini. Menjadi PNS di Dinas Kesehatan Kota Pontianak. Masuk dari pagi, kemudian pulang sore. Setelah itu melepas seragam sebagai pegawai negeri sipil dan memakai jas dokter. Bertemu anak-anak sebentar di rumah, melepaskan kelelahan. Kemudian, pergi lagi ke klinik tempat praktik bertemu dengan pasien-pasien yang sudah menunggu. Jarak dari rumah ke tempat praktek lumayan jauh, tetapi inilah yang disebut sebagai janji profesi. Harus dilakukan tanpa pandang apapun. Meluangkan waktu juga untuk memeriksa dan mengulurkan tangan untuk masyarakat yang membutuhkan.

Dulunya dokter aktif di PKBI dan menjadi konselor remaja, benar begitu? Apa saja kegiatan-kegiatannya selama menjadi konselor?

Sebetulnya background saya berasal dari LSM. Kiprah saya di sana sekitar 4 tahunan. Sekarang juga masih bantu-bantu sedikit, jika diperlukan. Waktu di PKBI dulu saya menjadi konselor remaja dan juga di coordinator klinik di Centra Remaja Khatulistiwa (CRK). Selama disana begitu banyak hal-hal menari yang dapat diambil sebagai pelajaran. Bertemu dan mendengarkan curahan hati remaja-remaja yang pada saat itu menceritakan mulai dari hal-hal membuat senyum-senyum sendiri, hingga kita harus menganga, kenapa bisa seperti itu.

Selama menjadi Konselor Remaja di PKBI tersebut, apa saja yang anda temukan. Bisa diceritakan?

Memang kalau membicarakan tentang remaja tidak ada habisnya. Mulai dari prestasi hingga mendengar hal yang miris. Di sana saya menemukan beberapa fenomena yang masih terjadi hingga kini. Remaja harus menghadapi tantangan dan hal itu adalah mereka sendiri. Tantangan tersebut tentang masalah kesehatan reproduksi mereka. Kala itu mereka yang datang dan berbagi cerita adalah remaja yang sudah melakukan hubungan badan. Mulai dari yang pertama kali dan hingga seksual aktif. Trendnya memang mereka berhubungan seksual itu dengan teman mereka sendiri, artinya belum ada ikatan legal diantara mereka.

Sebetulnya menurut dokter apa yang menyebabkan remaja berperilaku seperti ini?

Perlu digaris bawahi adalah tidak semua remaja berperilaku seperti ini. Tetapi juga tidak sedikit dari mereka yang melakukannya. Pergaulan diantara mereka satu dengan lainnya terpengaruh. Ditambah kondisi lingkungan yang tidak sehat. Belum lagi pengaruh-pengaruh media sekarang ini, internet, televisi dan sebagainya.

Pernah bertemu dengan kondisi remaja yang bercerita dengan dokter, dan masih Anda ingat hingga sekarang?

Karena dilandasi ingin coba-coba itu tadilah semua terjadi. Rata-rata semua memiliki kesan tersendiri bagi saya. Tetapi yang membuat saya selalu ingat adalah trik dan cara mereka yang tak lazim dan sangat berisiko. Ada yang bercerita bahwa dia berhubungan badan dengan pacarnya, tetapi karena takut hamil akhirnya dia tidak melalui kondisi yang normal yakni dengan seks anal. Ini sangat berbahaya dan berpotensi sekali terkena penyakit kelamin.

Sebetulnya Apa yang harus orangtua lakukan menanggapi fenomena seperti ini, Dok?

Peran orangtua harus dimaksimalkan. Paling tidak orangtua juga harus tahu anaknya berteman dengan siapa saja, diluar seperti apa, lingkungan bermainnya dimana. Kita tahu masa-masa remaja kita pasti akan senang nge-gang, berkumpul dengan teman-teman yang memiliki kesukaan dan minat yang sama. Lebih baik lagi dengan kegiatan-kegiatan positif. Sebagai orang tua juga bisa mengarahkan dan memberi saran. Kalau kita disini, remaja-remaja yang nge-gang dengan kegiatan beragam, mulai dari bolos sekolah, merokok dan minum-minum itu sudah ada tempat-tempat khususnya, kita sebut hotspot.

Dokter juga sempat aktif di Komisi Penanggulangan Aids Kota Pontianak. Seperti apa dokter menjalin kerja sama dengan masyarakat dalam menanggulangi HIV/AIDS?

Sebetulnya di KPA Kota itu saya masih aktif hingga sekarang. Untuk KPA sendiri cenderung kepada tahap advokasi dan penyuluhan kepada masyarakat. Datang ketempat-tempat masyarakat berkumpul, mulai dari perkumpulan yang kecil, RT, Kelurahan dan hingga Kecamatan. Kita ada program Aku Bangga Aku Tahu, yang kita khususkan untuk menjangkau seluruh elemen masyarakat, terutama digencarkan disekolah-sekolah. Selain itu sering juga diminta jadi narasumber oleh Badan Narkotika Nasional Kota (BNNK) Pontianak. Saat mengisi materi, saya selipkan tentang informasi HIV dan AIDS, kemudian jika di KPA Kota saya selipkan informasi narkoba.

Dari seabrek kegiatan yang dokter jalani sehari-hari, bagaimana mengatur waktunya?

Sebagai manusia memang waktu ini rasanya kurang kalau dilihat banyak sekali kegiatan yang dijalani, rasanya semua ingin diambil. Di sini kebetulan saya jadi Seksi Pengamatan Penyakit. Jadi ketika ada informasi di kecamatan A dan berpotensi menyebar, langsung kita tangani. Sabtu dan Minggu itu memang dikhususkan untuk keluarga dan anak-anak. Kecuali jika ada hal-hal mendesak yang harus ditangani segera.

Informasinya dokter juga membuka shelter di rumah. Apakah benar?

Saya memang menjadikan rumah sebagai shelter untuk kasus trafficking yang saya tangani di Borneo Care Plus. Tentu sesuai dengan bidang saya yakni lebih kepada kesehatan. Saya lakukan dengan berbagai tahapan, mulai dari screening mereka yang datang terlebih dahulu, untuk mendeteksi penyakit-penyakitnya. Jika terbukti ada penyakit, kita obati hingga sembuh dan hingga ke masa pemulihan. Jika sudah pulih, tergantung lagi korban trafficking. Jika remaja, sekolahkan mereka hingga lulus SMA. Atau yang sudah cukup dewasa, tanya minat mereka. Akan kita kursuskan, misalnya menjahit, memasak dan salon. Tetapi kadangkala ada juga mereka yang trauma dan ada masalah dengan kejiwaan, kita rujuk ke Rumah Sakit Khusu (RSK).

Dokter juga sudah memiliki anak, melihat fenomena remaja yang sedemikian rupa tadi. Ada tidak cara-cara yang bisa Dokter bagikan untuk membentengi mereka?

Kebetulan anak saya ada dua orang, dan mereka dari kecil saya kenalkan dulu dengan organ-organ reproduksi mereka. Setelah sedikit besar, diberitahukan fungsinya dan jika digunakan tidak sebagaimana mestinya ada akibatnya. Saya juga melihat lingkungan bermainnya. Meski sibuk selalu ada waktu mendengarkan cerita-cerita mereka. Memanfaatkan waktu luang dengan memaksimalkan kualitas pertemuan tersebut, jalan-jalan, berenang dan kegiatan-kegiatan yang semakin mengakrabkan satu dengan yang lain.

Mimpi Dokter kedepan apa sih yang ingin dokter wujudkan?

Kondisi lingkungan yang sehat, itu yang ingin saya lihat. Semacam health community, jadi komunitas yang peduli dengan kesehatan. Mungkin bisa dibangun dari komunitas kecil seperti keluarga, lalu satu gang, satu kelurahan dan menjadi semakin besar. Di sana tidak hanya memperhatikan kesehatan fisik tetapi juga kesehatan hati, dengan mendekatkan diri kepada Tuhan.

Sumber: http://www.pontianakpost.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=6361