29.879 Temuan HIV/AIDS di Kaltim Terbanyak Usia Produktif, Seks Bebas Penyebab U
Tanggal: Thursday, 12 April 2012
Topik: HIV/AIDS


Kaltim Post, 12 April 2012

HIV/AIDS menyerang siapa saja. Tua, muda, laki-laki maupun perempuan. Penyakit ini satu di antara virus yang mematikan
.

HUMAN Immunodeficiency Virus (HIV) dan Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) saat ini masih menjadi momok menakutkan bagi manusia. Selain merusak sistem kekebalan tubuh, penyakit ini mampu membunuh penderitanya. Penyakit yang biasanya menular lewat kontak saat melakukan hubungan intim ini memang sangat mengkhawatirkan. Mengingat saat ini, kalangan remaja begitu mudahnya berhubungan intim dengan pasangannya.

Kasus HIV/AIDS di Kaltim terus meningkat. Dari data yang masuk di Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kaltim hingga Februari 1012 sudah ada 29.879 kasus. “Namun jumlah tersebut masih lebih sedikit dari data real di lapangan,” kata Pengelola Program KPA Kaltim Dewi Kartika. Ia menambahkan, jumlah kasus setiap bulan bertambah sejak Desember 2011. Yakni sekitar 25-40 kasus tiap bulan.

Selain itu, lanjut Dewi, untuk kelompok umur yang terjangkit mulai dari 20-29 tahun. Parahnya, 92 persen penderita HIV/AIDS di Kaltim adalah kelompok usia produktif. “Jadi bisa dibayangkan bagaimana kerugian yang disebabkan dengan menurunnya produktivitas penderita HIV/AIDS di usia tersebut,” tutur wanita berjilbab ini.

Ia mengaku, Pekerja Seks Komersial (PSK) mendominasi penderita HIV/AIDS di Kaltim. Namun pada beberapa kasus ditemukan 24 anak usia dibawah 4 tahun positif HIV.

“Dari laporan dari RSUD AW Sjahranie, ada 3 orang dengan HIV/AIDS (ODHA) tengah mengandung, dengan satu orang telah melahirkan. Selain itu, juga tercatat 48 orang ibu rumah tangga, mahasiswa 6 orang, dan pelajar 2 orang,” bebernya saat ditemui di sela acara Focus Grup Diskusi Pembuatan Draft Rencana Tindak Lanjut Program Penanggulangan HIV/AIDS, kemarin.

Sejatinya, usia produktif jangan disia-siakan untuk hal-hal yang berakibat fatal. Seperti berhubungan intim dengan pasangan yang berbeda-beda. Meski menggunakan pengaman, yang namanya penyakit tidak bisa diduga. “Sekarang yang harus diperhatikan adalah bagaimana menjaga pergaulan anak di usia dini, agar jumlah penderita HIV/AIDS berkurang,” tutupnya. (*/bby/luc/ri)

Sumber: http://www.kaltimpost.co.id




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=6371