Kelurahan di Depok Diminta Perbaharui Data ODHA
Tanggal: Monday, 23 April 2012
Topik: Narkoba


PRLM, 18 April 2012

DEPOK - Wakil Walikota Depok meminta setiap kelurahan memperbaharui data orang dengan HIV/AIDS (ODHA) di Kota Depok. Hal itu karena pada saat ini diprediksi situasi epidemi HIV/AIDS di Kota Depok memburuk.

“Pada saat ini Kota Depok menghadapi memburuknya situasi epidemi HIV/AIDS dimana tingkat prevelensi di beberapa tempat telah meningkat lebih drai lima persen. Hal itu terutama bagi pengguna napza suntik dan wanita penjaja seks,” ujarnya saat mensosialisasikan bahaya HIV dan AIDS kepada Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Aula Balaikota, Depok, Selasa (17/4/12).

Untuk itu, kata dia, setiap kelurahan yang ada di Kota Depok harus memilik data valid jumlah ODHA. Dengan demikian, Pemerintah Kota Depok bisa melakukan penanganan yang tepat kepada para penderita tersebut.

Dia mengatakan, Dinas Kesehatan Kota Depok memang harus lebih baik dalam mensosialisasikan pencegahan penyakit yang belum ada obatnya ini. “Tentu saja kita sudah pahami bersama bahwa mencegah tentunya lebih baik dari mengobati,” kata dia.

Selain dapat mencegah tertularnya penyakit, kata Idris, juga dapat menunjukkan keperdulian masyarakat terhadap ODHA. Hal ini membantu mereka dalam mengatasi kondisi psikologinya.Sebab, seringkali ODHA memiliki kondisi psikis yang rendah serta membutuhkan dukungan dari orang-orang terdekatnya untuk bertahan hidup.

Berdasarkan perhitungan estimasi tahun 2009 yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, kata dia, di Jawa Barat (Jabar) diperkirakan pengidap HIV 23.413 jiwa dan 962.106 Jumlah populasi rawan tertular HIV.

Sebelumnya, petugas lapangan LSM Stigma, Irwansyah mengatakan, di Kota Depok terdapat 350 penderita HIV/AIDS. Sedikitnya 148 penderita sudah dinyatakan positif terjangkit penyakit tersebut. Kini, tiga Kecamatan seperti Pancoran Mas, Sawangan dan Cinere ditetapkan sebagai daerah titik merah penularan HIV/AIDS. “Rata-rata para penderita berusia diatas 30 sampai 40 tahun. Penularan penyakit tersebut melalui jarum suntik secara bergantian,” terang Irwansyah.

Dengan jumlah kasus tersebut, kata Irwan, Kota Depok menjadi urutan ke 15 besar penderita HIV/AIDS di Jawa Barat. Dia berharap pemerintah daerah lebih kosentrasi untuk melakukan kegiatan pencegahan. “Caranya harus di bangun rumah singgah untuk binaan penderita HIV/AIDS,” ujar Irwan.

Tahun 2006 hingga 2011, penderita HIV/AIDS terus mengalami peningkatan. Misalkan, tahun 2006 lalu jumlahnya mencapai 290 kasus, dan 2011 mencapai 350 kasus penderita. ”Kami yakin penderita HIV/AIDS masih banyak yang belum tertangani di Kota Depok. Ini hanya sebagian kecil saja,” tambah Irwan,

Kepala Dinas Kesehatan Kota Depok Hardiono mengatakan, sampai sekarang pihaknya terus melakukan pencegahan di sejumlah titik merah. Dia menjelaskan, pihak dinkes sengaja tidak mempublikasikan pendampingan tersebut. “Kalau mereka tahu, diri mereka menjadi bahan publikasi, bisa kabur,” ucapnya.

Dia menambahkan, sejauh ini Kota Depok belum memiliki rumah sakit khusus penderita HIV/AIDS. Biasanya, para penderita di kirim ke RS Fatmawati dan RSCM. (A-185/A-108)***

Sumber: http://www.pikiran-rakyat.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=6378